
flashback off
"za, gue boleh tanya sesuatu"
"kenapa nggak, tanya aja"
"beberapa hari sebelum kematian Kirana... Lo pernah bilang kalau ada seseorang yang mengancam nyawa karina?" Aliza mencoba mengingat-ingat lagi, sebegitu banyaknya masalah di dalam hidupnya, sampai Aliza mulai melupakan hal-hal yang mungkin penting di hidupnya, seperti kematian Kirana, Aliza butuh waktu beberapa menit mengingat semuanya lagi.
"iya... gue ingat, Karina bilang kalau orang itu memintanya untuk putus dengan Raga, tapi Karina nggak mau, Karina juga bilang kalau orang itu perempuan yang terlihat begitu terobsesi dengan Raga"
"malam kejadian itu... apa lagi-lagi Karina mendapatkan ancaman?" Aliza di sebrang sana Mengangguk, seakan Inayah ada di hadapannya.
"iya... ada seseorang yang mengancam nyawa Kirana, malam itu...."
Flashback on, malam kecelakaan Karina
"Kita nggak bisa diam aja Rin, Raga harus tau"
"nggak, jangan beritahu Raga, gue mohon za" Karina memohon dengan tangan mengatup di depan dada.
"nggak, gue bakal kasih tau Raga, nyawa Lo di ancam Karina, dan Lo masih sempat-sempatnya mikirin raga, maaf... kalo ini gue pilih Inayah, kayanya Inayah benar, Lo nggak pantas buat cowok kaya raga" Aliza pergi berniat memberitahu semuanya pada raga.
"Alizaa, tunggu alizaa, gue mohon dengerin dulu Aliza " Aliza tidak mempedulikan teriak-teriakan itu, ia terus berlari begitu juga dengan Karina, di saat Aliza sudah berada di sebrang jalan, Karina tanpa melihat kiri dan kanan terlebih dahulu juga ikut menyebrang, saat itu turun hujan lebat, baju kedua sahabat itu sudah basah kuyup, entah dari mana datangnya, mobil sedan dengan kecepatan tinggi tiba-tiba saja lewat dan
Brak
tubuh Karina terhempas, langkah kaki Aliza terhenti saat suara dentuman terdengar, perlahan Aliza menoleh dan terkejutnya dia saat melihat tubuh Karina sudah terkapar di tengah jalan dengan darah di mana-mana.
"KARINAAA" teriak Aliza bersamaan dengan Raga yang berdiri tidak jauh dari mereka.
sejak saat itulah Raga terus menyalahkan Aliza, raga menuding Aliza sebagai penyebab kematian Karina, andai saja saat itu Aliza mau mendengarkan permohonan Karina, mungkin Karina tidak akan mengejar Aliza dan kecelakaan mengenaskan itupun tidak akan pernah terjadi, dan mungkin Karina masih hidup sampai sekarang.
Raga dorong dengan kasar tubuh Aliza yang ingin mendekat.
"JANGAN BERANI MENYENTUHNYA" seluruh tubuh Aliza bergetar hebat, Karina sudah tidak membuka matanya lagi, raga gedong tubuh Karina masuk ke dalam mobilnya, ia tinggalkan Aliza yang terdiam di sana tanpa mengatakan apapun.
__ADS_1
"ka--karina" lirih Aliza.
flashback off
"Raga benar ya, andai aja gue dengerin Karina, dan gue nggak menyebrang pasti Karina nggak bakal ngikutin gue, dan Karina juga pasti masih hidup dengan kita" Aliza menghapus air matanya.
Kecelakaan itu terjadi bukan karena Aliza, tapi raga menyalahkan Aliza karena Aliza yang enggan mendengarkan Karina dan menyebrang jalan begitu saja, padahal Aliza sudah lebih dulu menengok ke kanan juga ke kiri sebelum menyebrang, dan entah dari mana datangnya mobil sedan berwarna hitam yang tiba-tiba melaju dengan kencang dan menabrak tubuh Karina tepat di hadapan Raga.
"DASAR PEMBUNUH" teriak Raga sebelum masuk kedalam mobil. teriakan itu masih terngiang dengan jelas di kepala Aliza, tidak pernah ia lupakan hingga detik ini.
"Apa lo pernah ngomong secara langsung dengan orang itu, za?"
"nggak pernah, Karina Hanya menunjukan isi chat Room mereka berdua"
"Lo masih punya chat nya, za? sungguh Inayah berharap Aliza masih menyimpan chat mereka, mungkin dengan adanya isi chat itu, bisa menjadi bukti jika kecelakaan Karina bukan lah kecelakaan biasa, tapi sudah di rencanakan sejak awal, inayah yakin, wanita yang terus meneror Karina adalah dalam dari semuanya.
"ketemu" ucap aliza antusias
"PEMBANTU BUKA PINTUNYA" Aliza terlonjak kaget, segera ia matikan daya ponselnya sebelum di sembunyikan.
...
"Cepetan!"
"nyonya, saya nggak kuat jalan, kan bisa pesan online aja"
Akhh
kepala Aliza mengenadah saat dengan kasarnya Clara menarik rambutnya
"apa hak Lo berani membantah gue, HAH"
"saya juga punya hak di rumah ini, saya istri sah dari pemilik rumah ini, saya istri pertama yang Raga nikahi" Aliza tidak takut sama sekali dengan Clara, mendengar keberanian Aliza, membuat Clara semakin naik pitam, Clara dengan kuat mendorong tubuh Aliza, Aliza memekik karena kesulitan menyeimbangkan tubuhnya, Aliza menutup mata saat merasakan tangan besar melingkar di pinggangnya, degup jantung Aliza berdetak tidak karuan, ia cengkram kuat baju si pemilik tangan yang sudah menolong nya, Aliza hapal betul bau tubuh seseorang yang sedang memeluknya itu.
"Lo nggak papa?" suara berat yang terdengar di pendengaran Aliza kenapa begitu menenangkan, Aliza mendongak menatap Raga.
__ADS_1
"tu--tuan" Raga beralih menatap Clara, yang sama sekali tidak menunjukkan rasa takut atau penyesalan.
"beraninya kamu..." Aliza kembali menahan pergelangan tangan Raga, wanita itu menggeleng.
"jangan, saya Mohon"
"sekali lagi aku lihat kamu menyakiti Aliza dan anak ku... maka bersiaplah untuk berpisah" setelah mengatakan hal itu, Raga membawa Aliza masuk ke kamar, meninggalkan Clara dengan amarahnya.
"RAGAAAAA"
"ARGGGHHH"
di dalam kamar, Aliza dan raga duduk berhadapan di pinggiran ranjang.
"Lo beneran nggak papa?" Aliza menggangguk
"saya hanya takut... takut Clara berbuat nekat dan mencelakai jamin tidak berdosa ini" Aliza mengusap perutnya yang masih rata, bayangkan saja jika raga tidak datang tepat waktu, apa yang akan terjadi padanya juga janinnya.
"sudah nggak papa, Clara nggak mungkin sampai segitunya, tadi dia hanya emosi"
"semoga, tuan Kenapa pulang, ada yang tertinggal?"
"gue kawatir sama Lo, dan benar aja, Lo hampir celaka di tangan Clara" Raga baru menyadari jika piring nasi yang ia bawa tadi pagi masih untuh.
"Lo nggak makan?" Aliza menoleh, ia sadar jika Raga memperhatikan piringnya.
"belum pengen"
"mau makan di luar?"
...
dan di sinilah mereka sekarang, di rumah makan nasi Padang, Aliza sebenarnya sudah sangat menginginkan ini beberapa hari lalu, tapi ia takut bilang, dan syukurnya tadi siang Raga menawarkannya untuk makan di luar, Aliza tidak menyia-nyiakan kesempatan itu.
"kalau Lo mau sesuatu itu bilang, Jangan di Pendem, gue bukan cenayang yang bisa tau Lo mau apa" jujur Raga kesal, sudah berapa kali raga katakan pada aliza jika ingin sesuatunya katakan padanya, tapi nyatanya wanita itu tetap memendam sendiri keinginannya, Alesha diam dan terus menunduk, di gigit bibir bawahnya menahan gugup, raga jadi merasa bersalah juga melihat wajah ketakutan Aliza.
__ADS_1
"maaf, gue nggak maksut bentak Lo, gue cuman kesal aja"