
"Hay Karina, apa kabar, sebentar lagi Lo akan reunian sama sahabat Lo itu, Lo pasti akan berterima kasih sama gue" Clara yang duduk di pinggiran ranjang dengan bingkai foto Karina ditangannya tersenyum miring.
"Gue sudah bilang kan sama Lo, jauhi Raga, raga itu hanya milik gue, milik gue, dan sekarang sahabat Lo itu yang berani-berani mengusik hidup gue dengan Raga, jadi... jangan salahkan gue kalau tu cewek nyusul Lo di alam baka" Clara tertawa terbahak-bahak.
ponsel yang berada di sampingnya berdering, Dengan cepat Clara mengusap layarnya.
*"Gue sudah beresin, sisanya Lo"
"ok, Lo sudah nyalakan apinya, gue tinggal siram bensin ke atasnya" kedua manusia jahat itu Menyunggingkan senyum puas.
"Lima menit lagi Raga sampai, tunggu aja... sayang"
pyar!!!
"UPS, Drama di mulai, selamat bersenang-senang Aliza "
"ALIZAAAA"
"ALIZAAAA"
"iya" Aliza dengan perut besarnya kesulitan untuk naik ke lantai dua, usia kandungannya sudah memasuki usia tujuh bulan, tapi tetap ia paksakan dari pada wanita di atas sana Murka. dengan satu tangan berpegangan di pembatas tangga sedangkan yang satunya lagi memegang erat perut besarnya, Aliza melangkah dengan hati-hati.
"lama Banget sih" Clara mendorong kecil bahu Aliza masuk ke dalam kamar, Aliza melebarkan Matanya, bingkai foto yang selalu ada di atas meja kini pecah, bingkai foto Karina dengan Raga.
"nyonya... kenapa bisa pecah"
"bukan urusan Lo, Lo bersihin itu sebelum Raga datang" Clara mengusap-usap perutnya,ia menoleh saat mendengar tapak kaki seseorang.
"Tepat waktu, mari mulai dramanya"
"arggh" Aliza mengerutkan keningnya bingung, tiba-tiba saja Clara mengerang dan mundur dengan sendirinya.
"Lo apa-apaan sih, gue tau Lo marah, tapi jangan gini juga, Lo sampai pecahin bingkai foto Karina, dan sekarang Lo mau bunuh anak gue juga, Lo jahat banget , Aliza " air mata buaya sudah mengalir turun, raga mempercepat langkahnya, mata pria itu merah, mungkin efek dari banyaknya minuman beralkohol yang ia tegak bercampur dengan kemarahan cemburu buta.
"nyonya ngomong apa, saya nggak ada pecahin bingkai itu "
"Dasar pembohong "
__ADS_1
"Ada apa ini" suara Raga terdengar berat menakutkan, ke-dua wanita hamil itu berpaling ke arahnya. Clara dengan wajah sedih di buat-buat memeluk Raga.
"raga, pembantu ini hampir aja celakain aku, dia juga pecahin foto kamu sama Karina" Aliza menggeleng menatap raga
"ng--nggak, dia bohong tuan"
"Aliza marah karena aku menegurnya agar tidak bertemu dengan pemuda di sebelah"
"BOHONG " Teriak Aliza
"DIAM " Raga juga membentak tidak terima, raga lepaskan pelukan Clara dan menarik kasar Aliza masuk ke dalam kamar, pintu kamar pria itu di banting, Clara yang berada di luar mengimbas-ngibaskan wajahnya.
"Sempurna " Clara tersenyum puas. sedangkan di dalam kamar.
plak!!!! Satu tamparan yang sudah lama Aliza tidak rasakan kembali mengenai pipinya, sudut bibir wanita itu berdarah, Aliza masih memegangi pipinya, Aliza sama sekali tidak ada niat untuk menjelaskan pada Raga, karena ia tau semuanya hanya akan sia-sia saja.
"anak siapa yang Lo kandung" tanya raga geram
"ini anak tuan " Aliza beranikan untuk menjawab.
"JANGAN BOHONG,Anak SIAPA YANG LO KANDUNG, WANITA MURAHAN "
"Demi tuhan, anak ini anak tuan " lirih Aliza, Raga mendorong tubuh Aliza membentur dinding, Raga letakkan tangan besarnya di batang leher Aliza, Aliza berusaha melepaskan cengkraman tangan Raga karena ia mulai merasa sesak.
"katakan dengan jujur, anak ini anak siapa, ANAK SIAPA ALIZAAAAAAA"
"ya Allah, lindungi anak-anak ku, lindungi dia dari kemarahan ayahnya, hamba mohon ya tuhan, jangan lukai anak-anak ku" lirih Aliza di dalam hati, karena aliza yang hanya diam, Raga menyeret wanita itu masuk ke dalam kamar mandi nya, perut Aliza terbentur bak air saat raga mendorongnya masuk kedalam.
"Astaghfirullah " pekik Aliza, ia peluk perutnya kuat, kini bagian bawah perutnya mulai merasakan sakit. tidak berhenti sampai di situ, Raga menarik rambut Aliza dan ia masukkan kepala Aliza secara berulang ke dalam bak mandi, sampai Aliza kesulitan untuk bernafas
"Lo memang sepantasnya mendapatkan ini Aliza, Lo cewek murahan yang tidak lebih dari sekedar barang bekas"
"Tu--tuan, saya bersumpah anak-anak ini anak-anak tuan"
"ARGHHHHHH" dengan mudahnya Raga menghempaskan tubuh Aliza ke lantai dingin, mulut wanita hamil itu terbuka sempurna, sungguh ia merasakan keram yang teramat menyiksa di perutnya.
"Zidan, lebih cepat lagi, saya benar-benar merasa gelisah, anak saya dalam bahaya, cepat lah" zidan mengangguk, ia percepat lagi laju mobilnya.
__ADS_1
"A--nak ku...." lirih Aliza, Raga tanpa punya hatinya kembali menyeret wanita malang itu keluar dari kamarnya, Aliza mencengkram tangan Raga, ia berusaha melepaskan tangan raga dari rambutnya.
"GUE BERHARAP LO MATI ALIZAAA"
brak!!!
pintu Kamar Raga tutup, Aliza masih berusaha mengatur nafasnya, tangan nya gemetar menyentuh perutnya yang sudah tidak bisa Aliza gambarkan lagi rasa sakitnya, Aliza menunduk saat ia rasakan sesuatu yang hangat mengalirkan di area betisnya.
"Da--rah, anak ku" Tangan Aliza gemetar, cairan merah pekat mengotori telapak tangannya.
"Ya Allah, a--nak-a--nak ku"
Brak!!
brak!!
sekuat tenaga Aliza berusaha menyadarkan Raga, ia pukul-pukul pintu kamar Raga meminta tolong.
"Ragaaaa, Tolong ragaaaa, anak-anak kita, tolong mereka ragaa" Mengatur nafasnya Daha Aliza kesulitan.
"Ragaaaa, huuh, huuh, ra--ga" Tangan Aliza tersentak dari pintu raga, Clara pelakunya, wanita licik itu berdiri dengan angkuh di hadapannya Aliza, Aliza berusaha meraih kaki Clara.
"gue mohon Ra, jangan kaya gini, tolong anak-anak gue , Ra, mereka nggak ada salah sama Lo, tolong anak-anak gue, Ra" mohon Aliza dengan air mata berderai.
"Gue sudah pernah peringatkan sahabat Lo itu untuk menjauhi dari Raga, jangan pernah menyentuhnya, Raga hanya milik gue saja, Lo liat kan... Lo liat sahabat Lo itu mati, gue pelakunya Aliza... gue yang bunuh Karina" jelas Aliza kaget mendengarnya.
"iya, gue yang bunuh Karina, dan sekarang giliran Lo dan anak-anak sialan Lo itu" Aliza menggeleng, ia berangsur mundur meskipun sulit, Clara tersenyum smirik
"Mau kemana Lo Aliza, hari ini Lo bakalan nyusul Karina"
"Arggh" lantai putih itu kini di penuhi dengan darah Aliza.
"ja--jangan, gue mohon jangan Ra, jangan anak-anak gue, gue janji akan pergi jauh dari kehidupan kalian, gue janji, Ra"
"sudah terlambat Aliza" dengan bertumpu pada tembok, Aliza berusaha berdiri dan berjalan tertatih-tatih, Matanya mulai berkunang-kunang, anak tangga yang ia lihat mulai berpindah pindah tempatnya. Aliza menoleh lagi kada Clara yang sudah mendekat ke arahnya. satu anak tangga Aliza lewati dengan susah payah, sedangkan Clara sudah berdiri tepat di belakangnya.
"selamat jalan Aliza"
__ADS_1
"ALIZAAAAA"