
*"Assalamualaikum, ga... aku nggak tau kenapa perasaanku nggak enak Banget hari ini, raga.... surat ini aku tulis di tengah gentingnya perasaan takut di hati, andai benar tulisan ini adalah tulisan terakhir ku... aku cuman mau minta maaf sama kamu ga, maaf karena keegoisan ku nyawa karian harus melayang, aku pun sama terlukanya seperti kamu ga, Raga... aku mencinta kamu, tulus dari lubuk hati ku yang terdalam, perasaan cinta itu muncul saat kamu menolong ku waktu itu, aku tau kebencian kamu juga karena kamu mendengar ucapan ku dengan Karina, ga... Karina sahabat ku, aku lebih dulu bertemu dengannya dari pada kamu, aku lebih rela kehilangan kamu dari pada sahabat ku, Karina mencinta kamu ga, dan aku pun tau perasaan kamu ke aku, aku sengaja membuat kamu menaruh marah pada Ku, tapi sepertinya itu salah, bukan hanya marah, tapi dendam pun ikut tumbuh di hati kamu " Air mata Aliza menetes membasahi secarik kertas di hadapannya, Aliza usap air matanya dengan punggung tangan.
"ga... aku sudah ridho dan memaafkan semua perlakuan kamu ke aku, aku ikhlas dan menganggap Semua itu memang takdir hidup ku"
"setelah kepergian ku, hiduplah dengan baik ga, dengan anak-anak kita, jaga mereka, sayangi mereka, jangan lukai perasaan, walaupun aku pernah hampir di lecehkan di rumah suami ku sendiri dan berkahir trauma... aku tetap menyimpan rasa bahagia karena tetap kamu yang pertama dan menjadi satu-satunya yang menyentuh ku secara utuh, aku tau di hati kamu masih ada cinta padaku, hadir nya anak kita pun aku yakin Mereka hadir atas cinta suci orang tuanya"
"Aku menyayangimu suamiku, makasih atas cinta yang kamu berikan akhir-akhir ini, aku bahagia, walaupun singkat, aku tetap bisa merasakan ketulusan kamu"
"Dari Aliza istri mu untuk suami ku"* kertas itu selalu raga baca, Selalu raga cium dan peluk, seakan Aliza lah yang sedang berbicara di hadapannya, pernah surat itu hilang terbang di bawa angin, Raga mengamuk sejadi-jadinya, meraung-raung Bahkan melukai dirinya sendiri karena surat itu.
"sayang" lirih Raga setelah selesai membaca suratnya.
bukan hanya kertas itu saja, selama tinggal di rumah raga, Aliza selalu menuangkan isi hatinya di dalam buku diary, semua keluh kesah yang tidak bisa Aliza bagikan Aliza tuliskan di sana.
*"tidak pernah terbayang di hidup ku untuk menjadi pembantu di rumah suamiku sendiri, di perlakukan layaknya sampah yang tidak berarti, di siksa tanpa henti, aku tidak tau jika dendamnya padaku begitu besar, dia bahkan tega melayangkan tangan di wajahku, aku tau dia hanya kecewa padaku, dia bukan orang jahat, setiap doa ku selalu ku sebutkan namanya, ku pinta pada sang maha kuasa untuk meluluhkan kembali hatinya"
dengan wajah memar akibat kuatnya tamparan yang raga berikan, Aliza duduk tepat di bawah lampu kamar tanpa alas, rambutnya tergerai indah, mulutnya terisak pilu.
__ADS_1
"Aliza malang si samsak tinju suami kejam, siksaan baru lah terhenti saat ia tidur pulas, tidak tau lagi dengan apa Ku obati Luka di wajah, sedangkan luka di hati ku biarkan tetap terbuka. wajah biru dengan sudut bibir yang robek sudah menjadi makanan ku setiap hari, tangan kasarnya begitu gampang melayang ke wajahku, ucapan berserta makian selalu aku dengar dari mulutnya " Aliza menutup Matanya, ia biarkan air mata membasahi buku diary tersebut, perutnya begitu perih karena seharian tidak ada makan apapun.
"Rambut ku mulai menipis, setiap kali dia menjambak DAN menarikannya, maka segumpal rambut yang aku temukan lepas dari akar nya, ku katakan pada ibu Jika suamiku begitu suka bermain tarik tambang dengan rambut hitam gelap ku, aku Hanya bisa menangis, menangis dan menangis saja" Aliza tutup buku nya dan ia letakkan kembali ke dalam tas, Aliza matikan lampu dan tidur meringkuk di atas lantai yang begitu dingin.
"Langit, dia pria baik juga manis, Langit sering membuat ku kesal dengan tingkah konyolnya, tapi aku senang bisa mengenalnya, setidaknya aku masih merasakan punya teman di dunia" Di bawah tulisannya Aliza beri gambar tanda persahabatan dengan simbol jari kelingking yang saling menyatu.
wajah pucat berantakan, bibir bengkak dan berdarah, baju acak-acakan, penampilannya begitu lusuh, rambutnya tidak terikat dengan rapi, suara tangisannya begitu pilu, tanganya masih gemetar, Bahkan pulpen di tangan berulang kali terlepas.
"Sebegitu bencinya kah kamu dengan ku ga? sampai kamu tega meminta manusia bejat itu menyentuh ku, apa tidak ada sedikit saja rasa iba untuk ku, jangan pandang aku sebagai istri, pandang aku sebagai wanita yang lemah, hari ini aku di lecehkan di rumah suami ku sendiri, di sentuh dengan rakus oleh tangan BIADAB itu, kau justru tertawa puas di atas penderitaan ku, aku tidak menyangka kamu bisa melakukan hal serendah itu padaku, kau yang membuat nya menyentuh ku, kau juga yang menyingkirkan dia dari atas tubuhku" Aliza melempar buku diary nya, ia menangis sejadi-jadinya, suaranya hilang timbul di tengah derasnya hujan yang turun.
tatapannya kosong, benar-benar kosong, ke-dua sisi wajah biru, matang pun demikian, sudut bibirnya berdarah, bibir tipisnya bengkak juga mengeluarkan darah, wajahnya benar-benar memprihatinkan, keadaannya mengenaskan.
"AKU MEMBENCI MU RAGA, AKU MEMBENCI MU, KU PASTIKAN KAU LAH YANG PALING MENDERITA DAN MENANGISI KEPERGIAN KU...." tulisan terakhir yang Aliza tulis, buku diary itu terbelah menjadi dua bagian.
buku itu di temukan raga di antara tumpukan baju Aliza, buku itu yang selalu menjadi pengingat rasa sakit yang Aliza derita selama tinggal bersamanya"*
"kamu benar za, akulah yang paling menderita setelah kepergian kamu"
__ADS_1
"maafkan aku sayang... maaf" Raga meringkuk di atas tempat tidurnya, air matanya tak henti keluar, semuanya hanyalah penyesalan saja. Aliza sudah pergi selamanya dari kehidupannya.
...
di pemakaman
"Hay... apa kabar, Lo sudah nggak ngerasain sakit lagi di sana kan" pria berbaju santai itu mengusap-usap batu Nisan bertuliskan nama Aliza.
"gue Senang bisa kenal sama Lo, za. gue nggak tau kalau Lo menderita, maafin gue karena terlambat datang untuk menolong" Langit tak kuasa menahan air matanya, wanita cantik bercadar di sampingnya mengusap punggung langit. langit menoleh dan tersenyum menatap Wanita di sampingnya, wanita Sholehah yang Langit nikahi satu bulan yang lalu.
"jangan Meratapi kepergiannya, insyaallah Aliza sudah bahagia di sana" ucap sang istri menenangkan, ia tau semua tentang Aliza dan hubungannya dengan langit, langit sendiri yang menceritakannya.
"kita pulang ya, sebentar lagi turun hujan" langit Mengangguk, ia kembali menatap kuburan Aliza, ia cium batu nisannya dan menggenggam tangan lembut sang istri.
tidak ada rasa marah atau cemburu sama sekali melihat bagaimana suaminya sendiri begitu mencintai wanita lain selain dia.
Kita bisa berencana, tapi Tuhan yang paling baik membuat skenario untuk hambanya.
__ADS_1
...