Di Nikahi Untuk Balas Dendam

Di Nikahi Untuk Balas Dendam
tidak menerima kekalahan.


__ADS_3

Besok harinya Aliza bangun seperti biasa, Aliza terbangun masih berada di dalam dekapan Raga, ia berpikir apa yang terjadi tadi malam hanyalah mimpi, tapi nyatanya tidak, pria itu sungguh tidur dengan memeluknya sepanjang malam, Aliza perlahan menyingkirkan lengan Raga dari atas perutnya, dengan hati-hati Aliza turun dari kasur.


Aliza menuju kamar mandi untuk membersihkan diri sebelum menunaikan sholat Subuh.


Aliza kini sudah berganti pakaian seperti yang biasa ia kenakan, baju gamis kebesaran milik mendiang sang ibu.


Aliza bentangkan sajadah di samping ranjang, Aliza dirikan dua rakaat sebelum sholat subuh yang pahalanya lebih besar dari dunia dan seisinya.


Aliza tunaikan semua ibadah seperti biasa, biasanya Aliza langsung menyiapkan sarapan untuk Raga jika sudah sholat, tapi sekarang mereka berada di tempat lain bukan di rumah, Aliza bingung harus apa, ia duduk bersandar di lantai, menunggu Raga bangun.


"eghhh" eluhan suara bangun tidur Raga.


tanpa mengatakan sepatah katapun Raga turun dan langsung menuju kamar mandi, cukup lama pria itu berada di dalam, sampai ia keluar dengan hanya handuk yang melilit pinggangnya.


"sarapan sudah datang?"


"belum tuan" Raga berdecak, dengan langkah besar ia menuju ruang depan, Aliza mengekor di belakangnya.


"antarkan sarapan ke kamar saya, sekarang" perintah Raga untuk Seseorang dari sebrang sana, Raga letakkan lagi telepon sedikit kasar, raga tabrak bahu Aliza karena menghalangi jalannya.


"minggir!"


....


Raga sudah rapi dengan pakaian kerjanya, ia sedang duduk menikmati sarapan dengan tenang.


"selama gue kerja, Lo tetap di dalam kamar, jangan pernah keluar dari kamar ini selagi gue nggak ada, mengerti"


"i--iya tuan"


"makan lah setelah gue pergi"


"ii--iya tuan"


pria itu kembali sangar, sepertinya ada yang terjadi padanya tadi malam sampai bersikap aneh seperti itu, itu yang Aliza pikirkan sejak tadi, tapi sekarang apa lagi... pria itu untuk pertama kalinya meminta Aliza makan, Raga juga bersikap biasa saja seolah tadi malam tidak terjadi apa-apa.


....


Aliza tidak di ijinkan keluar barang sejenak dari kamar hotel oleh Raga, ia juga tidak tau harus berbuat apa, Aliza nyalakan tv untuk mencari siaran yang menarik menurutnya.

__ADS_1


di tempat lain Raga sedang bersaing dengan vendor lain untuk memenangkan tender yang akan sangat menguntungkan untuk perusahaan mereka, Raga melonggarkan dasinya yang terasa mencekat lehernya, Raga biasanya dengan mudah memenangkan tender apapun, tapi kali ini vendor yang menjadi lawannya memiliki kekuatan untuk mengalahkannya.


"bagaimana "


"sepakat"


"brengsek" Raga bergumam sendiri, ia tinggalkan ruangan yang penuh Sesak, harga dirinya seakan di rendahan sejak pertarungan perebutan tender.


"Sialan" tidak henti-hentinya Raga mengumpat, ia lepas jas dan ia lempar ke atas meja.


Raga tidak mengatakan apapun, dengan langkah besar ia pergi meninggalkan Zidan.


"Raga mau kemana Lo" teriak zidan tapi di abaikan Raga.


"CK" zidan mengenal betul sikap dan karakter sahabatnya , ia tahu betul Raga tidak pernah menerima kekalahan, tapi untuk kali ini di dalam sejarah berbisnis nya ia di kalahkan. melihat sahabatnya itu masuk ke dalam kamar hotel membuat zidan gelisah, pasalnya di dalam sana juga ada Aliza, Raga pasti akan melampiaskan emosinya pada wanita itu.


"RAGA" zidan kalah cepat, Raga sudah masuk ke dalam kamarnya.


di dalam kamar, emosi yang tadi belum reda semakin tersulit saat ia lihat Aliza yang tertidur di sofa.


dengan kasarnya Raga menarik rambut Aliza yang memang sengaja wanita itu letakkan di atas sandaran sofa. tubuh Aliza terhempas ke lantai, ia mendongak dan mendapati Raga sudah ada di atas dengan wajah merah padam.


"Siyapa yang ngasih ijin Lo buat tidur di sofa, SIAPA"


"ma--maaf tuan, saya ketiduran"


"sini Lo bangsat"


Raga memaksa wanita itu untuk berdiri dengan cara mencengkram baju bagian depannya, tangan Raga kemudian mengarah ke leher dan mencekik leher wanita itu, Aliza kesulitan bernafas karena ulah Raga, wanita itu memukul mukul lengan pria itu, melihat wajah Aliza yang mulai memerah, Raga melepaskan cekikannya, Aliza sampai ngos-ngosan menarik nafas.


"Lo kira Lo bakal jadi ratu di hidup gue hanya karena tadi malam gue mengajak Lo tidur di ranjang"


Cui


"jangan mimpi Lo Aliza, Lo tetaplah wanita rendah yang gue tahan di hidup gue" kekalahan dalam memenangkan tender itu sungguh membuat Raga kesetanan, rasa marah yang tidak bisa ia luapkan saat di ruangan itu akhirnya Raga lepaskan dengan cara menyiksa istrinya sendiri.


Raga kembali membuat Aliza bersimpuh di lantai dan menarik lagi rambut panjang yang masih tertutup kain kerudung itu.


"akhh, tuan sakit tuan lepas, tuan" Aliza berusaha melepas cengkram tangan Raga dari rambutnya, Raga menarik Aliza kearah pintu.

__ADS_1


"gue belum mau Lo mati di tangan gue Aliza, jadi tidurlah di luar untuk malam ini, gue bisa kehilangan kontrol jika terus melihat tampang Lo itu" bahu Aliza di dorong kecil untuk keluar dari kamar Raga.


"ingat ini Aliza, jangan pernah berusaha kabur, Lo tau konsekuensi apa yang bakal Lo terima" Aliza mengangguk.


Raga segera menutup pintu setelah memastikan Aliza di luar, wanita itu merapikan letak hijabnya yang berantakan, ia usap juga air mata di pelupuk Matanya.


ia kira Raga mulai sedikit melunak, tapi nyatanya ia salah, Raga tetaplah Raga yang menyeramkan untuknya, Raga kejam yang sangat suka memukuli nya, Aliza sempat membayangkan jika ia akan hidup bahagia dengannya Raga suatu hari nanti hingga akhirnya ia tertidur pulas. sepertinya Aliza harus membuang bayang-bayang itu karena hal itu tidak akan pernah terjadi di hidupnya.


"Aliza " Panggilan seseorang membuat Aliza menoleh, ia lihat zidan yang berjalan ke arahnya


"Lo nggak papa za" Aliza mengangguk dan menampakkan senyum nya, zidan telisik Wajah wanita itu, tidak ada tanda-tanda kekerasan, hanya mata yang memerah saja.


"kenapa Lo di luar, sebentar lagi Malam za"


"nggak papa gue mau jalan-jalan sebentar" alibi Aliza


"Lo sudah makan?" Aliza mengangguk, ia sudah memakan roti yang belum sempat ia makan Karena tadi pagi sampai siang Aliza menikmati hidangan hotel yang di antar ke kamar.


"pagi siang, Lo belum makan malam, ayo kita makan" Aliza tidak di beri waktu untuk menolak, zidan sudah menarik pergelangan tangannya.


"Zidan lepas zidan, Aku bisa jalan sendiri tanpa di tuntun "


"maaf ya za, gue nggak maksut nyentuh Lo" Aliza mengangguk dan berjalan pelan di samping zidan.


....


"di makan za"


"makasih ya zi" zidan membalasnya dengan senyuman, mereka makan dengan tenang, sembari menikmati matahari senja yang terlihat begitu indah.


"Lo nggak di apa-apain kan sama Raga " Aliza mengangkat wajah nya menatap Zidan kemudian ia mengangguk.


"syukurlah, gue takut banget tadi, gue takut Lo di jadiin pelampiasan emosinya"


"emang tuan Raga Kenapa ?"


"kita kalah memenangkan tender, Raga paling benci kekalahan, gue takut Lo pukuli atau di apaiin sama dia "


"semenjak perusahaan itu berdiri, Raga belum pernah di kalahkan siapapun, dan hari ini ia harus menelan kenyataan pahit karena ia di kalahkan oleh perusahan yang bisa di bilang berada jauh dari perusahaan dia" jelas zidan panjang lebar.

__ADS_1


__ADS_2