
"I--ini tandanya apa, za?"
"sa--saya hamil" Raga mengangkat kepalanya, matanya berbinar-binar, ia shock bahkan tangannya sampai gemetar, ke lima benda kecil yang panjangnya seperti jari menunjukan dua garis di sana. Raga langsung memeluk Aliza penuh haru, Berbeda dengan Raga, Aliza justru terlihat datar, tangannya mengepal, bahkan wanita itu menangis, menangis bukan karena bahagia tapi kawatir, ia tidak ingin memiliki anak dari Raga, bukannya menolak rezeki, hanya saja Aliza takut anaknya itu akan merasakan sakit yang sama sepertinya.
"gu--gue bakal jadi ayah" aliza mengangguk
"gue seneng Banget za, gue seneng"
....
Uekk
eukkk
uekkk
tubuh aliza merosot, tulang-tulang kakinya melunak, Aliza memijat pelipisnya, biasanya di pagi seperti ini ada Raga yang membantu memijat tengkuknya juga mengusap punggungnya, tapi hari ini Raga harus ikut dengan Clara mengurus surat-surat pernikahan mereka.
"Sayang, udah ya, papa lagi nggak ada nak, sama mama dulu aja ya" sudah sejak tadi perutnya mual padahal sudah muntah berkali-kali, tapi rasanya belum lega kecuali Raga yang mengusap perut dan punggungnya.
"Liza" Aliza menoleh pada Raga, ia tersenyum akhirnya Raga pulang juga, Raga membantu Aliza berdiri dan mendudukkannya di salah satu kursi.
"Mana minyak kayu putih Lo"
"di kamar"
"ya udah kita kekamar"
Aliza tidur terlentang, Raga melepas jasnya dan ikut bergabung di samping Aliza, pria itu tidak Tidur,ia duduk dan menuangkan minyak kayu putih ke atas perut Aliza, ia usap pelan perut rata Aliza.
"Anak papa Manja banget sama papa, sampai nyusahin mama gitu" Aliza tersenyum mendengar ucapan Raga, ya begitulah Raga setiap kali mengusap perutnya pasti selalu saja mengajak anak mereka bicara. sampai akhirnya Aliza tertidur pulas, wanita itu sulit tidur tadi malam karena kepikiran sebentar lagi suaminya akan menikah lagi.
Raga menutup lagi baju yang di kenakan Aliza, ia cium kening wanita hamil itu kemudian turun dari tempat tidurnya.
__ADS_1
Sebenarnya Raga kawatir menyatukan Aliza dan Clara di rumah yang sama, ia tau dan kenal betul sifat wanita itu, ia tidak ingin Clara bersikap semena-mena pada istrinya apalagi Aliza sedang mengandung, jadilah ia akan menempatkan Clara di apartemennya untuk menghindari sesuatu yang tidak ia inginkan.
sempat terjadi perdebatan juga di antara mereka, Clara jelas tidak bisa menerima begitu saja permintaan Raga, ia ingin tinggal di rumah Raga dan Raga juga masih memikirkan jalan yang tepat untuk ia ambil, Clara bersih keras untuk tinggal bertiga dengan mereka, akhirnya Raga mengalah karena ditentang bagaimanapun hasilnya sama, ia akan kalah dengan orang tua Clara
....
malam harinya, Aliza menemani Raga menonton film kesukaannya, pria itu memang Suka sekali menonton film, Jika pekerjaannya sudah selesai Raga akan segera ke ruang tengah untuk menonton film
"sini!" Raga menepuk-nepuk sisi yang kosong di sampingnya,jarak duduk mereka memang agak jauh sekitar satu meter, sejak tadi Raga sudah melirik wanita itu, akhirnya ia tidak tahan dan meminta Aliza mendekat, tapi Karena lama bergerak, Raga sendiri yang bergeser,ia singkirkan tangan Aliza dari pangkuannya dan Raga tidur dengan menjadikan paha Aliza sebagai bantalnya. Aliza sedikit kaget saat tangannya yang mengambang di raih Raga dan ia letakkan di atas kepalanya, sedangkan yang satunya lagi Raga posisikan di atas perutnya.
"kenapa, Lo nggak Suka gua tidur di sini?" tanya gara karena Wanita itu terus menatapnya, Aliza menggeleng.
"Lo nggak gerah, buka aja kerudung Lo, toh gue juga sudah liat semuanya, bahkan sudah ada hasilnya, ngapain Lo tutup terus"
"maaf tuan, saya sudah terbiasa"
"sekarang biasakan untuk buka kerudung Lo di depan gue" Aliza mengangguk, tapi tidak mengindahkan ucapan Raga.
"iiya" Raga pandangi Aliza dari bawah, Raga tersenyum saat rambut Aliza sudah terlihat, Aliza buka jepit rambutnya yang sedikit berantakan, jantung Raga sungguh tidak aman menatap Aliza seperti ini, wanita itu semakin cantik saja semenjak hamil.
Aliza menundukkan wajahnya, membuat pandangan mereka beradu, Pria itu menatap aliza begitu dalam.
"cantik" gumam Raga tanpa ragu. Aliza jadi salah tingkah, ia garuk tengkuknya yang tidak gatal.
"nggak usah salting, Lo cantik" Raga berucap dengan gampangnya, salah satu sudut bibir nya terangkat, Raga posisikan tubuhnya menghadap Aliza, wajahnya tepat menghadap ke perut Aliza.
"anak papa, gimana kabarnya nak, papa nggak sabar ketemu kamu nak,"
cup
Raga mencium perut rata itu, Aliza tersenyum tanpa sadar tangannya mengusap - usap rambut suaminya.
"kalau anak gue perempuan, pasti cantik kaya Lo, kalau cowok, ganteng kaya gue" Raga mengenadah menatap Aliza.
__ADS_1
"iya kan nak?"
"iya papa" jawab aliza menggantikan anaknya.
"za"
"iya"
"Lo marah Nggak karena sebentar lagi gue nikahin Clara?" pertanyaan konyol apa itu. Aliza menunduk ia bingung harus menjawab apa, dengan tangan yang sedikit ragu, Aliza beranikan diri mengelus wajah Raga.
"sa---saya, nggak tau tuan" Raga berdecak kesal, bukan ini jawaban yang ia inginkan.
"Lo tinggal bilang iya, atau Nggak, bukan nggak tau" Raga berucap kesal.
"saya nggak punya hak untuk marah tuan, karena sejak awal kehadiran saya di hidup tuan hanya karena perasaan benci, saya tak ingin mengharapkan apapun termasuk marah dengan keputusan yang tuan ambil, menikah dengan Clara adalah hak tuan, tapi Jika boleh jujur... saya sebagai seorang istri dari pria yang sebentar lagi akan menikah jelas merasakan sakit dan tidak rela, saya tau tuan tidak pernah mencintainya saya, tuan pun menikahi saya hanya untuk membalas dendam tapi saya sudah mengagumi tuan sejak kita duduk di bangku SMA, sejak pertama Kali tuan menolong saya dan sampai sekarang rasa cinta itu masih ada walaupun perlahan mulai memudar " jujur Aliza apa adanya, awalnya Raga merasa Senang dengan pengakuan Aliza tapi setelah wanita itu mengatakan perasaannya mulai memudar membuat Raga merasakan Sesak.
"saya begitu tulus mencintai tuan, bahkan saat ayah menyerahkan saya dengan suka rela pada tuan... di hati saya ada rasa bahagia karena bisa hidup dengan tuan, walaupun saya tau tujuan tuan ternyata untuk menyiksa saya" wajah teduh Aliza menggetarkan perasan Raga.
"saya tidak pernah mendapatkan perlakuan kasar dari ayah dan ibu, walaupun setelah ibu pergi... ayah menjadi pemarah, tapi tidak pernah sekalipun ayah melayangkan tangannya pada saya, dan tuan... menjadi orang pertama" Aliza terus mengusap lembut wajah Raga, Raga menghentikan tangan Aliza ia arahkan tangan itu ke atas bibirnya dan mencium tangan kecil itu.
"dari semua rasa sakit itu, masih ada rasa tidak rela setelah tau tuan akan menikah lagi"
"kalau gue batalin pernikahan gue dan kita hidup sederhana di tempat yang baru, dengan rumah sederhana dan anak-anak kita, apa Lo bersedia " Aliza menggeleng lagi dengan tidak melunturkan senyumannya.
"kenapa?"
"saya sudah terbiasa dengan rasa sakit tuan, saya sudah nyaman hidup dengan penderitaan semenjak ibu pergi ninggalin saya, memiliki keluarga kecil yang bahagia bukan lagi tujuan saya"
Raga bangun dan duduk bersila di samping Aliza, ia tangkup wajah tirus itu dengan kedua tangannya, Raga memiringkan sedikit wajahnya dan mengikis jarak di antara mereka, ke-duanya sama-sama menutup mata saat hidung mereka mulai saling menyentuh.
ending:
bercanda , sepi banget dah, padahal yang baca lumayan loh
__ADS_1