
pernah denger jika seorang pria bertemu dengan orang yang tepat, ia akan berubah seperti anak kecil di depannya. mungkin itu yang sekarang Aliza rasakan, semenjak ia hamil Aliza benar-benar di buat heran dengan kelakuan Raga, pria itu suka sekali memeluknya, menempelkan wajahnya di perutnya yang masih rata, raga bahkan merengek minta Aliza untuk terus berada di sampingnya, mengelus rambut nya.
dan sekarang mereka sudah berada di pasar malam, sesuai dengan janji raga, malam ini ia akan mengajak Aliza berkeliling pasar malam, Aliza benar-benar merasa bahagia, sudah lama sekali ia tidak pergi ke pasar malam. Aliza terlihat antusias Bahkan tanpa sadar menarik tangan raga ke wahana permainan.
"saya mau naik itu boleh?" Aliza menunjuk salah satu wahana yang terlihat ekstrim, mungkin biasa saja tapi sekarang Aliza sedang mengandung, apa tidak bahaya untuknya.
"nggak, nggak boleh" Aliza melengkungkan bibirnya, persis seperti ia jika sedang ngambek ke orang tuanya.
"bahaya, Lo lagi Hamil, mau tu anak mual di dalam perut" Aliza menggeleng
Raga mengusap kepala Aliza yang tertutup hijab " jadi harus nurut ok" Aliza mengangguk seperti anak kecil yang patuh pada orang tuanya, raga benar-benar gemas dengan sikap istrinya.
"Aliza menarik lagi tangan raga untuk lebih mempercepat langkahnya.
"tuan, saya mau masuk ke sana, boleh? " kali ini bukan permainan ekstrim yang di tunjuk Aliza, tapi wahana horor
"emang Lo berani?" tanya raga meremehkan Aliza
"berani lah!"
"ya udah ayo, awas aja kalau jerit-jerit ketakutan Lo"
"nggak akan"
mereka membeli dua tiket masuk, baru masuk saja Aliza sudah merasakan suasana mencekam, sebenarnya ia tidak suka, tapi sepertinya ini permintaan anak-anaknya sampai Aliza kekeh ingin masuk ke sana, mungkin anak-anaknya itu sama seperti Raga yang suka sekali sesuatu yang berbau horor.
Aliza memeluk lengan Raga, raga Menyunggingkan senyum melihat tingkah Aliza.
"katanya nggak takut" ucap raga dengan nada mengejek.
"bukannya takut, cuman ngeri aja tuan"
"iya deh terserah Lo" mereka telusuri jalan gelap dengan berbagai macam hantu jadi-jadian, dari pocong, tuyul, Kunti lanak, dan banyak lagi"
Aliza kaget bukan kepalang saat beberapa zombie jadi jadian tiba-tiba mengerumuni mereka,.
"AAAAA, AYAAAAH" teriak Aliza dan langsung memeluk Raga, ia sembunyikan wajah nya di dada bidang suaminya.
"padahal gue ada di sampingnya, gue juga tempat pelariannya, tapi yang di panggil justru ayahnya" monolog Rafa terlihat kesal.
raga mengangkat tangan memberi isyarat untuk berhenti mengerumuni mereka, Aliza tidak melepaskan pelukannya.
"mereka sudah pergi, Lo mau meluk gue terus" Aliza mengintip sedikit, barulah Aliza melepaskan pelukannya setelah yakin tidak ada lagi zombie yang mengepung mereka.
"sampai keringatan gini" raga mengusap peluh Aliza di keningnya.
__ADS_1
"mereka bikin kaget aja, Kan bisa datangnya pelan-pelan, nggak usah bikin kaget" omel Aliza tak mau di salahkan, benar-benar sisi lain dari Aliza yang berberapa bulan Raga nikah.
"bisa aja Lo ngelesnya" Aliza mendengus kesal, mereka kembali melanjutkan perjalanan Hingg sampailah mereka di pintu keluar.
"huaah, leganya" ucap Aliza.
"dah puas?" Aliza mengangguk
"sekarang kita kemana nih"
"jalan-jalan aja dulu"
" Tuan, saya ingin bermain itu" Aliza menunjuk lagi satu wahana berhadiah boneka,jadi di sana di susun kaleng berbentuk Piramida jika berhasil menembak tepat sasaran dan menjatuhkan semua Piramida yang ada, maka si penembak berhak memilih boneka mana yang diinginkan.
"Lo mau boneka, mending beli aja, gue beliin lebih besar dari itu"Aliza menggeleng dengan bibir melengkung, Matanya menunjuk kan puppy eyes yang sangat menggemaskan, kenapa ini, wajah Aliza benar benar berbeda dari biasanya, raga tidak tahan melihat kegemasan wanita hamil itu.
"baiklah" mana bisa Raga menolak, Aliza begitu girang, ia sudah berlari kecil ke sana
"liza, jangan lari" teriak raga tak habis pikir dengan tingkah istrinya.
"emang Lo bisa" tanya Raga meremehkan.
"tuan meremehkan saya?"
dor!!! peluru berbentuk anak panah melayang telat mengenai titik tengah dan membuat susunan lain anak panah berhamburan, raga menganga, ia sungguh tidak percaya dengan kemampuan menembak Aliza, tersisa dua kesempatan lagi, sedangkan kalengnya hanya tertinggal satu dan...
dor!!! Aliza tepat mengenai kaleng terakhir, Aliza mengangkat alisnya dan menatap Raga.
"gimana, hebat kan saya" Raga tidak merespon, ia masih tidak percaya, dengan apa yang baru saja ia lihat, Aliza benar-benar mengagumkan, wanita itu terlihat keren saat tatapannya fokus pada sasarannya, sangat berbeda dari Aliza bermata sayu teduh yang biasa Raga siksa.
...
"makasih tuan" raga rapikan rambutnya kebelakang, Aliza menikmati eskrim rasa vanila Dengan terus memeluk boneka beruang besar hasil buruannya. dari samping, Raga tidak berhenti menatap istrinya.
"Lo latihan menembak?".Aliza mengangguk tanpa ragu.
"saya atlet penembak, tuan"
"pantas"
"tuan nggak beli eskrim?" raga menggeleng
"kenapa?" tanya Aliza lagi.
"gue nggak suka, terlalu manis "
__ADS_1
"cobain deh, ini enak" Aliza mengarahkan eskrim nya ke arah mulut raga. tanpa ragu Raga menggigit bagian di bekas gigitan Aliza.
"enak kan?"
"lumayan " Raga menarik lagi tangan Aliza Setelah wanita itu mengigit es krimnya, ia arahkan tangan Aliza ke arah mulutnya, dengan mata yang terus menatap Aliza, raga gigit lagi eskrim di bekas gigitan Aliza, Aliza mengerjap kan matanya.
"enak" ucap Raga, Aliza meneguk salivanya, pria di depannya ini terlihat aneh dengan tatapannya.
"kenapa? Lo takut? nggak usah takut, gue suami Lo, bukan orang lain"
"iyaa"
raga mengusap bibir Aliza yang terkena sisa eskrim dengan ibu jarinya.
"kaya bocil!" ejek raga
"nggak!" Aliza tidak terima di samakan dengan bocil
"makan eskrim aja sampai cemong kemana-mana" Aliza kesal ia merajuk dan membuang wajahnya, ia bertingkat seperti Manja dengan ayah ibunya. raga bergeser lebih dekat duduknya, ia rangkul pinggang Aliza dari belakang, Aliza menoleh saat merasakan tangan Raga di pinggangnya.
"Lo lucu, gue suka"
blues!!!
Aliza menangkup pipinya yang mungkin sudah bersemu merah atas godaan Raga.
Raga sedikit memiringkan wajahnya agar bisa melihat lebih jelas wajah Aliza yang memerah, raga turunkan tangan Aliza yang menghalanginya menatap wajah cantik itu.
cup
Aliza kaget bukan main saat Raga tanpa ragu mencium pipinya, mata Aliza melotot.
"Tuaan..."
"kenapa? "
"malu tuan, di sini banyak orang"
"peduli amat saja orang, toh gue cium istri gue sendiri bukan istri orang Aliza memutar matanya jengah.
"tapi kan Malu, ini tempat umum"
"bodo amat"
"Aliza" ke-duanya berbalik mencari sumberdaya Suara yang memanggil Aliza.
__ADS_1