
"ADUH, PANAS, LO BISA MASAK NGGAK SIH"
pyarrr!!! Mangkuk bubur ayam di lempar Clara kelantai, untung saja Aliza masih sempat menghindar, Raga yang ada di atas bergegas turun setelah mendengar keributan dari dapur.
"ada apa ini?" teriak bara, ia pandangi lantai juga Aliza yang sedang mengumpulkan serpihan mangkuk, sedangkan Clara duduk dengan tangan terlipat di depan dada.
"kamu yang pecahin, Clara?"
"kamu nuduh aku! pembantu Sialan kamu itu yang nggak becus" Raga melangkah mendekati Aliza.
"udah, biar gue aja" raga bantu Aliza untuk berdiri, melihat perhatian Raga membuat Clara semakin naik pitam.
"Dasar caper" ucap Clara, Aliza masih berdiri di samping Raga, ia bantu raga mengambil benda-benda yang di perlukan.
"kita duduk, makan sama-sama" Aliza duduk di samping kanan, Clara di samping kiri, dan raga di tengah-tengah, makan bubur di pagi hari bukan lah keinginan Raga ataupun Aliza, tapi permintaan Clara, bubur ayam buatan Aliza tidak buruk sama sekali, semua itu hanyalah akal-akalan Clara saja, tapi jujur Aliza tidak bisa memakan bubur itu, saat memasak tadi pun Aliza terus saja menutup hidungnya.
"Lo Kenapa?" tanya raga karena sejak tadi ia perhatikan Aliza hanya mengaduk buburnya saja.
"caper!"
baru juga raga bertanya, perutnya sudah di aduk aja, Aliza bergegas menjauh dari sana di susul Raga.
"gue akan buat Lo kehilangan perhatian raga, Aliza" Clara menyunggingkan senyum smiriknya.
raga dengan setia mengusap punggung Aliza, pintu kamar mandi ia tutup untuk menjaga privasi sang istri, raga singkap baju yang di kenakan Aliza agar sentuhan tangannya bisa lebih terasa.
uekk
uekkk
Aliza memijat pelipisnya yang berdenyut hebat, raga papah tubuh Aliza kembali ke dapur, ia tuangkan air untuk Aliza.
"bisa nggak sih kamu nggak usah segitunya sama tu cewek, belum tentu juga anak yang di kandung pembantu itu anak kamu, ga" Aliza dan raga beralih menatap Clara.
"jaga omongan kamu, Clara!"
"aduh, raga raga, aku tau... sudah berapa kali pembantu Sialan itu hampir di perkosa di rumah ini, nggak menutup kemungkinan tu pembantu emang sudah di perkosa, kan... dan anak itu bukan anak kamu, atau mungkin pembantu itu yang dengan sikap reka memberikan tubuhnya!
BRAK!!!
"CLARA" Raga berdiri ingin melangkah mendekati Clara, tapi pergelangan tangannya di tahan Aliza, raga menoleh menatap wajah teduh Aliza, Aliza menggeleng, memberikan isyarat agar Raga Tenang. Raga menutup matanya, ia atur emosi dan kembali duduk.
__ADS_1
"Kenapa? kamu mau tampar aku, tampar" Clara menantang, bahkan ia sudah berada di samping raga.
"kita masuk " sepertinya menjauh dari sana pilihan terbaik.
"Argghhh, Sialan" Clara menendang kursi yang tadi di duduki Aliza
Di dalam kamar, Raga dan aliza duduk di pinggiran ranjang, Aliza sedikit memiringkan kepalanya menatap raga.
"Tuan, ada apa?" Raga menggeleng.
'tuan percaya dengan ucapan nyonya, tuan percaya jika anak ini bukan anak tuan, tapi anak hasil dari rudal paksa?" sesak rasanya Aliza mengatakan hal itu, apa lagi saat raga hanya diam saja tanpa mengatakan sepatah katapun.
raga berpindah duduk di hadapan Aliza, ia letakkan tangan besarnya di perut Aliza, pria itu tersenyum begitu tulus memandangi anaknya yang masih sekecil buah ceri di dalam kandungan.
"gue suami paling biadab yang pernah ada, gue Suami bajingan, gue nggak pantas di sebut sebagai suami, za, Karena rasa benci... gue dengan gampangnya meminta laki-laki lain menyentuh Lo, melihat tubuh Lo, bahkan...." Aliza menutup mulut Raga, mata wanita itu mulai berkaca-kaca, ia menggeleng.
"saya mohon jangan lanjutkan tuan, saya mohon" Raga tau sesakit apa yang wanita itu rasakan, di lecehkan di rumah bahkan di hadapan suaminya sendiri, Raga pun tidak mampu melanjutkan ucapannya, ia peluk pinggang Aliza dan meletakkan kepalanya di pangkuan Aliza, air mata pria itu tumpah begitu juga dengan Aliza, aliza ikut menunduk dan meletakkan kepalanya di atas kepala Raga dengan tangan yang terus mengusap punggung suaminya.
dari ambang pintu, Clara mengepalkan kedua tangannya melihat betapa dekatnya hubungan mereka.
...
perasaan raga terus tidak tenang, pikirannya terus saja berpusat pada Aliza, saat ia di rumah saja, Clara bisa melakukan kekerasan pada Aliza yang fisiknya jauh lebih lemah dari padanya, apalagi sekarang mereka hanya berdua saja.
Sedangkan di rumah, Aliza duduk bersila di atas tempat tidurnya, ia periksa ponsel yang entah sudah berapa lama Aliza lupakan, saat dibuka, begitu banyak panggilan masuk dari Inayah.
aliza hubungi ulang nomor Inayah dan syukurnya Inayah langsung mengangkatnya
*"assalamualaikum, Aya"
"waalaikumsallam, za, ya Allah za, kenapa baru sekarang, Lo tau betapa takutnya gue, Lo nggak pernah mengangkat panggilan gue'
"maaf Aya, gue nggak pernah punya kesempatan buat mengubungi Lo, maaf ya"
"em, gimana kabar Lo za"
"Alhamdulillah, baik Aya, cuman di kehamilan muda ini... gue masih sering mual, makan nggak bisa, masak pun gue kesulitan, ada aja bumbu bumbu yang nggak bisa gue cium, langsung pengen muntah " Aliza memijat betisnya yang terasa nyeri. makanan di atas Nakas ia abaikan, aliza benar-benar tidak selera makan apapun.
"namanya hamil muda, za, itulah nikmatnya dan ganjaran pahalanya pun tidak main-main"
"gue pengen ketemu, eh... ubah panggilannya jadi Vidio call za" Aliza mengangguk, dan sekarang mereka bisa saling tatap, Mata sayu Aliza bisa dengan jelas Inayah lihat dari layar ponselnya.
__ADS_1
"Lo kurus banget, za, Lo di kasih makan aja kan?"
"iyaa, Gue makan ko, cuman selera makan gue aja uang nggak ada" Aliza arahkan ponselmu ke Nakas, sengaja ia lakukanlah agar Inayah bisa melihat sepiring nasi juga lauk di sana.
"Lo liat kan?" Inayah mengangguk.
"za"
"hm"
"apa Lo tau, sekarang ayah Lo sudah memulai lagi bisnisnya, ayah Lo bahkan sudah membeli lagi rumah Lo, za"
"Alhamdulillah, ayah gue memang hebat, Aya gimana kabar ayah, dia sehat kan"
"sehat banget, gue masih nggak nyangka, ayah Setega itu nyerahin Lo ke raga "
"ini sudah takdir gue ya, andai gue terus ada di sisi ayah, mungkin ayah nggak akan kaya sekarang " Aliza Menyunggingkan senyum yang begitu tulus.
"Lo kangen Ayah, za?'
"banget, gue kangen banget sama ayah, sangking kangennya hampir tiap malam Gue mimpi ayah" meskipun bibirnya melengkung membentuk senyum, air matanya tetap turun tak terbendung.
"gue seneng banget dengar kabar Ayah, walaupun gue nggak bisa ketemu langsung, gue masih bisa dengar kabarnya dari Lo" Aliza mengusap air matanya, Inayah pun ikut teriris perasaannya, tak tega rasanya ia sampaikan apa yang Sadewa katakan padanya dan zidan saat mereka berusaha meminta tolong Sadewa untuk menjemput Aliza.
flashback on
"mau Anak pembawa sial itu mati pun... saya tidak peduli" teriak Sadewa di ambang pintu.
"om ko tega ngomong kaya gitu, Aliza putri om, Aliza anak om"
"saya tidak memiliki anak, hubungan saya telah putus dari anak membawa sial itu setelah kematian istri saya"
"om akan menyesal setelah merasakan sakitnya kehilangan"
"saya sudah rasakan sakitnya kehilangan, istri saya meninggal karena anak pembawa sial penyakitan itu" ucap Sadewa remeh.
"sekarang kalian pergi, dan jangan pernah menginjakkan kaki lagi di rumah saya"
BRAK!!!
pintu di tutup dengan keras.
__ADS_1