Di Nikahi Untuk Balas Dendam

Di Nikahi Untuk Balas Dendam
Aliza menyerah


__ADS_3

Zidan dan Inayah membawa Clara ke kantor polisi, dengan bukti rekaman pengakuan yang Clara katakan sendiri, juga dengan bukti-bukti yang zidan dan Inayah sudah kumpulkan berbulan-bulan, membuat Clara tidak bisa menyangkal lagi, Rendy pun turut di periksa, akan keterlibatan kecelakaan Karin beberapa tahun yang lalu.


"Zidan, kita kerumah sakit, perasaan gue nggak enak" zidan mengangguk.


...


Di dalam ruang operasi, mereka berhasil mengeluarkan kedua anak Aliza, tapi sayang, hanya satu yang bisa bertahan hidup, pendarahan di tambah benturan yang begitu keras pada perut Aliza, menyebabkan putranya mengalami tekanan di dalam perut ibunya, begitu Juga dengan kembarannya, bayi mungil itu harus di masukkan kedalam tabung inkubator, di tambah dengan beberapa alat untuk menopang kehidupannya.


"Ibu" Aliza berbalik mendengar suara mungil memanggilnya.


"putra ku" Aliza menunduk dan menggendong anak kecil yang wajahnya sama persis dengannya.


"kenapa kamu di sini nak, di mana adikmu?" Aliza mencari-cari keberadaan anaknya yang satu lagi.


"adik sakit Bu, aku mau ikut ibu, aku nggak mau di sana"


"kamu sudah bilang sama adik" pria kecil itu mengangguk.


"baiklah, kamu ikut ibu, adik biar sama ayah" Aliza tersenyum dan kembali melangkah menyusul Rania.


para tenaga medis di dalam ruang operasi saling pandang, si dokter utama menggeleng, mereka melirik jam dan menulisnya.


....


Sadewa dan Raga yang sudah menunggu dengan kawatir berlari cepat menghampiri dokter Yang menangani Aliza.


"Dok gimana anak saya"


"maaf pak, kita sudah melakukan sebisa mungkin, tapi... Tuhan berkehendak lain" ucap sang dokter, ia pun tak kuasa menyampaikan kabar duka, bukan hanya satu nyawa yang pergi, tapi dua nyawa.

__ADS_1


"pu--putri ku" begitu rapuhnya dengan kabar yang di dengar, Sadewa tak sanggup lagi menahannya, pria keras itu luluh bersimpuh di hadapan sang dokter, tatapan Matanya kosong, air Matanya tumpah, ia menangis tanpa mengatakan sepatah katapun


sedangkan raga masuk kedalam ruangan, langkahnya begitu pelan mendekati tubuh kaku Aliza di atas ranjang.


"Al--- Aliza..." dengan tangan gemetar, raga menyentuh sisi wajah Aliza yang memar, ibu jarinya mengusap-usap sudut bibir Aliza yang membiru. bener saat lalu, dengan tangan kasarnya, raga memberikan pukulan di wajah kurus itu, raga termakan api cemburu buta yang berakibat fatal.


"za... bangun zaa, aa--liza ma--af za, bangun yuk, kita pulang, nanti malam Gue peluk, bangun ya..." raga berucap lirih, Inayah dan zidan yang baru saja datang terhenti di depan pintu, Inayah menggeleng samar dengan tangan membekap mulutnya


"Aliza..." lirih Inayah.


"bangun yuk za, kita pulang ya ... bangun za, bangun" Raga tidak sadar lagi dengan bayi kecil yang sudah terbungkus kain putih, Inayah yang sadar jika satu anak sahabatnya meninggal menjerit histeris.


"Aaaaaa" jerit Inayah, zidan pun tak sanggup menahan air matanya, satu lainnnya yang berisi ranjang kecil berisikan bayi mungil dengan alat bantu kehidupan lengkap di dorong keluar.


"Raga memeluk Aliza erat, ia menangis tanpa Suara"


"bangun za, bangun...."


semua rasa sakit'yang Wanita itu hadapi di dunia berakhir sudah, semuanya sudah selesai.


Sadewa yang sadar dari pingsannya bergegas masuk ke ruangan Aliza, ia rebut tubuh Aliza dari pelukan raga, Sadewa ciumi kening Aliza bertubi-tubi. air matanya jatuh membasahi wajah sang putri, wajah putri yang sekali ia sakiti.


"nak, ini ayah nak, bangun nak... bangun sayang, maafkan ayah, maafkan ayah nak... bangun ya... ayah akan bawa kamu pulang kerumah kita nak, bangun ya nak" Sadewa rapikan rambut lepek Aliza yang menutupi wajahnya, bibir yang terakhir kali ia lihat begitu pucat sekarang membiru, jari-jari lembut kurus putrinya dingin, bulir bening di kening tak henti-hentinya keluar.


Sadewa turunkan tubuh Aliza dari brankar, ia letakkan tubuh itu ke atas pangkuannya, Sadewa perlakukan putrinya layaknya anak kecil yang selalu ia timang di gendongan.


"bangun nak, bangun..."


"PUAS KALIAN SEMUA, PUAS!". Inayah menunjuk dua pria yang begitu dekat dengan sahabatnya secara bergantian

__ADS_1


"INI KAN YANG KALIAN MAU, KALIAN SELALU MEMINTA KEMATIANNYA! LANTAS UNTUK APA AIR. MATA BUAYA ITU, HAH!?"


"andai om bisa mengikhlaskan kematian Tante Rania... Aliza nggak akan kaya gini om, Kenapa om tega sama sahabat Inayah, di mana hati nurani om sebagai ayahnya " suara Inayah berubah lirih, ia genggam kaki pucat biru Aliza.


"Aliza pernah cerita... dia menolak beasiswa kedokteranya, Aliza kubur mimpinya untuk menjadi dokter seperti Tante Rania demi om!" tuding Inayah, tak segan ia menunjuk wajah Sadewa yang terus menunduk.


"om dengan tega menyerahkan putri om ke tangan pria PRIA BEJAT ITU" Inayah beralih pada Raga, ia sepertinya melupakan kedudukan raga sebagai atasannya.


"DASAR BAJINGAN, BIADAB, BRENGSEK, JAHAT" bertubi-tubi Inayah pukuli tubuh tegap raga yang kali ini terlihat begitu rapuh.


"LO DENGAN TEGA MEMINTA ORANG UNTUK MELECEHKAN ISTRI LO SENDIRI, RAGAAAA "


"LO SAKITI FISIK DAN BATINNYA SECARA BERSAMAAN..."


"sekarang Lo bisa berpesta, dendam Lo sudah selesai, Aliza pergi untuk selamanya" Inayah terduduk meratapi kepergian sahabatnya, kamar yang di penuhi dengan alat itu berubah menjadi kamar duka, tangisan silih berganti terdengar dari mereka yang masih bernyawa.


beberapa jam sebelum kejadian.


Aliza duduk dipinggiran ranjang, perasaaan tidak enak, melihat wajah marah Raga tadi, mengingatkan Aliza dengan perlakuan kasar Raga, Aliza mengusap-usap perutnya.


"Nak, kok mama ngerasa ada yang salah sama papa kamu ya, nak" Aliza gigiti bibir bawahnya.


"apa mama bikin salah, sampai papa marah, mama takut nak, mamah takut kena pukul papa lagi, bukan karena sakit yang mana rasakan, tapi Karena kalian, mamah takut kalian kenapa-kenapa nak"


Aliza berpindah duduk di meja rias yang tidak pernah ia gunakan, Aliza ambil secarik kertas juga pulpen dari dalam laci penyimpanan.


Tiba-tiba matanya kembali menganak sungai, Aliza tuliskan pesan untuk Raga, air mata Aliza tak hentinya keluar, sampai Aliza menyelesaikan tulisannya, Aliza gunakan kotak kecil untuk menjadi pemberat suratnya.


Aliza berkali-kali menarik nafas dan membuangnya, begitu terus secara berulang, sampai Suara teriakan Clara terdengar menggema di penjuru rumah

__ADS_1


"Ya Allah, hamba Mohon, jagalah anak-anak hamba, jangan biarkan tangan-tangan jahat menyakitinya"


"Bismillah, ya Allah... hamba pasrah kan semuanya pada mu, sesungguhnya mati dan hidup hamba hanya untuk mu" dengan tangan gemetar, Aliza tarik kenop pintu kamar, sesaat Aliza berhenti di depan pintu kamar, ia lirik lantai atas yang terlihat dari bawah.


__ADS_2