Di Nikahi Untuk Balas Dendam

Di Nikahi Untuk Balas Dendam
perasaan raga


__ADS_3

"sekarang, Liza sudah sendiri Bu, Nggak ada Lagi yang bisa Liza harapkan, ayah ngusir Liza dari hidupnya, ayah bilang bahagianya Ayah dengan kepergian Liza, Liza sudah nggak punya siapa-siapa lagi sekarang, dan Liza harus tetap bertahan di rumah ini sebagai tawanan, sepertinya ibu salah... sampai kapan pun, Liza nggak akan pernah hidup bahagia, nggak ada lagi Liza pering dan Manja, Nggak ada lagi Liza si tukang ngambek, nggak ada lagi Liza yang hebat, sekarang tersisa hanyalah Liza cengeng, Liza yang sedikit-sedikit nangis, Liza yang lemah" Aliza mengusap air matanya dengan lengannya.


wanita itu mendekap erat bingkai foto keluarga bahagia beberapa tahun yang lalu, Raga yang sejak tadi berdiri di ambang pintu kamarnya memilih pergi, ya... pria itu ada di sana dan mendengar semua yang wanita itu katakan, Raga duduk di pinggir ranjang mengingat kembali semua yang Aliza katakan.


"Liza hidup bahagia bersama Raga, ayah ibu jangan kawatir, Liza senang bisa menjadi istri dari pria yang Liza cintai, Raga... adalah laki-laki pertama yang Liza ceritakan ke kalian, dan sekarang Aliza sudah menjadi istrinya, Aliza bahagia sekaki" kira-kira seperti itulah kalimat yang membekas di kepala raga" laki-laki yang Aliza Cintai" Raga tidak pernah tau perasaan wanita itu padanya, Raga tidak kenal betul sosok Aliza saat sekolah.


Aliza, dan kedua sahabatnya merupakan adik kelas Raga saat SMA, Aliza dan ketiga temannya merupakan Siswa yang populer di sekolah, mereka adalah murid-murid berprestasi, ketiganya sering menjadi perwakilan sekolah di ajang olimpiade, mereka juga terkenal dari keluarga yang berada, apalagi Aliza yang ayahnya seorang pemimpin perusahaan ternama saat itu, sedangkan ibunya seorang dokter ahli bedah profesional. paras menawan dari ketiganya juga menjadi salah satu alasan kepopuleran mereka, walaupun begitu ketiganya terkenal sangat rendah hati, ketiganya juga memiliki watak dan karakter yang berbeda, Aliza dengan sikap periang nya, Inayah dengan sikap cueknya sedangkan Karina dengan sikap tertutupnya, dari sikap tertutupnya itulah yang akhirnya membuat Raga jatuh hati pada Karina, mereka bahkan menjadi pasangan fenomenal saat itu, ketua OSIS dengan Siswa populer, tanpa mereka tau ada Aliza yang ternyata juga menaruh hati pada Raga, Aliza memang pintar menyembunyikan perasaannya selama bertahun-tahun, tidak ada seorangpun yang tau mengenai perasaannya pada Raga, sampai hari mengenaskan itu terjadi dan merubah seluruh hidupnya.


Raga mengacak rambutnya dengan kasar.


"Lo nggak boleh suka sama tu cewek Raga, Nggak boleh... ingat, tu cewek yang sudah bunuh Karina, ingat dendam Lo Raga" saat ia melihat wanita itu menangis dan curhat di depan foto orang tuanya, Raga sangat ingin memeluknya, Raga sangat ingin mendekapnya, menjadikan bahunya sebagai tempat sandaran untuk wanita itu, tapi ia di kalahkan oleh egonya.


"argghhhh" Raga mengerang prustasi, pusing sendiri dengan hatinya.


...


Aliza pastikan dulu Raga sudah tidur, atau setidaknya pria itu ada di kamarnya, di jam 11 malam ke atas biasanya Raga sudah tidak memanggil Aliza lagi, jadilah Aliza beranikan diri untuk naik ke atap.


di atas atap berbeda sudah ada langit di sana.


"Aliza, Lo datang" Langit begitu bahagia karena Aliza memenuhi janjinya.


"em, seperti yang Lo lihat... kenapa? Lo mau ngomong sesuatu, sampai maksa gue naik ke atas"


"gue cuman mau bilang, gue besok ulang tahun"


"terus lo mau minta kado dari gue, maaf zhian... gue nggak punya uang buat beli kado" Aliza menyinggung kan senyum " Lo tau gue miskin melarat gini kan, jadi jangan aneh-aneh" sambung Aliza. langit berdecak kesal


"CK, dengerin dulu gue ngomong Napa" kesal langit

__ADS_1


"emang Lo mau ngomong apa?"


"gue besok ulang tahun, gue punya satu permintaan buat Lo...."


"tuh kan ujung-ujungnya minta"


"ya Allah Liza, dengerin dulu gue ngomong Napa, gue belum selesai "


"ya udah zhian, Lo mau ngomong apa" bukannya melanjutkan ucapannya, langit justru menghampiri Aliza ke atap rumah Raga.


"ini" langit memberikan paperbag pada Aliza


"apaan tu?"


"ambil aja" Aliza membuka paper bag nya


"ini apa langit?"


"dress" Aliza mengerutkan keningnya, isi paperbag itu dress hitam dengan pasmina hitam.


langit mengangguk


"buat gue? untuk apa?"


"gue mau... besok malam, Lo datang lagi ke atas dan pakai dress itu... besok ulang tahun gue, dan gue mau hadiah itu dari Lo, pakai dress nya dan Temui gue"


"nggak ah, gue nggak mau" Aliza masukan lagi dress hitam itu kedalam paperbag secara acak, ia serahkan lagi paperbag pada langit


"sorry, gue nggak bisa" Aliza menjauh dari hadapan langit, ia berdiri di antara tembok.

__ADS_1


"kenapa, permintaan gue segampang itu Aliza, Lo cukup pakai baju ini sekali aja di hadapan gue, baju ini juga bukan baju haram, bukan lingerie seksi, gue juga sudah beliin Lo pasmina, apa susahnya sih"


"gue nggak pantes pakai baju kaya gitu, pakaian gue ya gini..." Aliza menatap kearah pakaian" ini jati diri gue, pembantu" lanjut Aliza, Langit hampiri lagi Aliza, ia tatap Aliza dari samping


"za, Lo bukan pembantu di hadapan gue, Lo teman gue, Lo punya kedudukan di hidup gue, jangan pernah bilang Lo nggak pantas, Aliza"


"tapi itu kenyataannya, langit, gue pembantu, gue miskin, mau seberapa keras Lo meyakinkan diri, tidak akan merubah semuanya"


" Lo bisa nggak sih jangan pesimis sama hidup Lo, Lo bisa nggak sih jangan terlalu merendahkan hidup Lo, Lo bisa nggak sih berhenti bawa-bawa status itu" langit menyibak rambutnya kebelakang, ia basahi bibir bawahnya, langit juga menahan kesal pada Aliza, bukan karena penolakannya, tapi karena ucapan wanita itu, Aliza selalu menganggap dirinya rendah karena ia seorang pembantu, padahal bagi langit statusnya itu tidak akan pernah menghalangi pertemanan mereka.


"terserah Lo mau datang atau nggak, terserah Lo mau pakai atau nggak, baju ini sudah gue beli untuk Lo, gue nggak bisa bawa lagi, terserah Lo kalau Lo mau buang, terserah Lo" langit yang sudah kecewa meninggalkan Aliza dan paperbag nya.


ia kembali ke rumah nya tanpa mengatakan sepatah katapun, Aliza ambil lagi paperbag yang di tinggalkan Langit, ia bawa masuk paper bag itu Kedalam rumah.


Aliza pastikan pintu kamar nya terkunci, ia buka lagi dress pemberian langit,


"emang pantas gue pakai dress ini? dress ini terlalu mahal untuk gue" monolog Aliza


"terakhir kali gue pakai baju mahal sebelum sakit"


.....


"Zidan tunggu"


"eh, Inayah, kenapa?"


"em, gue mau ngomong sesuatu sama Lo"


"ya udah ngomong aja" Inayah merotasi kan matanya ke segala arah, takut ada yang mendengar ucapannya.

__ADS_1


"kita cari tempat yang nyaman buat ngobrol" zidan mengangguk.


"kita ke kafe dekat tugu, kebetulan gue mau ngopi juga"


__ADS_2