Di Nikahi Untuk Balas Dendam

Di Nikahi Untuk Balas Dendam
Draft


__ADS_3

"Selamat tinggal, Aliza Khumaira" secara bersamaan Raga keluar dari kamar, begitu juga dengan Sadewa zidan dan Inayah, mereka serentak berteriak menyebut nama Aliza


"Allahuakbar" lirih Aliza, saat tubuhnya mulai menggelinding di anak tangga, Aliza masih berusaha melindungi anak-anaknya dengan memeluk erat perutnya.


"ALIZAAAAA, PUTRI KUUUU" teriak Meraka bersamaan.


"sial" umpat Clara, Clara berlari masuk ke dalam kamar.


tubuh Aliza menggelinding Hingga anak tangga bawah, mereka tidak ada yang sempat menyelamatkan wanita malang yang tubuhnya sudah terbujur kaku dengan darah di mana-mana, Sadewa duduk bersimpuh di depan putrinya, tangannya bergetar memindahkan kepala Aliza yang selalu ia sakiti di atas pangkuannya. Mulut Aliza menganga menahan sakit, bau anyir darah tercium begitu jelas.


"Pu--putri Aa--yah, i--ini ayah nak"


Inayah menangis menjerat sejadi-jadinya, zidan pun tak kuasa menahan air matanya, zidan menarik Inayah kedalam pelukannya.


"to--loong anak-anak Liza, yah, se--lamatkan mereka, Liza mohon a--yah" kalimat itu yang terucap sebelum Aliza melihat bayangan Rania di belakang ayahnya, Rania membentangkan tangan dengan senyum manisnya yang tidak pernah luntur.


"ii--ibu" lirihnya Aliza dengan air mata berderai, perlahan Aliza menutup Matanya.


"Liza, li--za bangun nak, jangan tutup mata nak, alizaaa" jerit Sadewa di depan tubuh Aliza yang berlumuran darah. tangan Aliza yang tadi berada di atas perutnya jatuh menyentuhnya lantai.


Raga yang tidak sanggup melangkah hanya bisa berdiri menatap dari jauh, seluruh tubuhnya bergetar tidak karuan, matanya berkaca-kaca, tak sanggup Raga melangkah mendekat. wanita yang tadi masih memohon agar ia berhenti menyiksanya, sekarang sudah terbaring di lantai dengan tubuh penuh darah, bahkan memar di sisi wajah Aliza akibat tamparan yang ia berikan masih terlihat begitu jelas.


"A--liza"


"TUNGGU APA LAGI, BAWA ALIZA KERUMAH SAKIT SEKARANG!" Teriak zidan menyadarkan mereka, Sadewa kesulitan mengangkat tubuh Aliza, bukan karena tubuh Aliza berat, tapi Karena Sadewa kehilangan kekuatan kakinya.


"zi--zidan, bantu saya, sa--saya nggak kuat" Raga yang tadi bergeming di tempatnya, mendekat, ia ambil alih tubuh aliza dan menggendongnya keluar, zidan melihat ke lantai atas, ia lepaskan Inayah.


"Lo ikut mereka ke rumah sakit, gue mau nangkap penjahat dulu" Inayah Mengangguk.


"CLARA KELUAR LO" Zidan mendobrak pintu kamar yang tadi di masuki Clara, ia lihat wanita hamil itu menelpon seseorang, zidan menarik paksa Clara untuk berdiri.


"lepasin gue BANGSAT!"


"dasar pembunuh, Lo sudah membunuh Karina dan sekarang Lo melukai Aliza"


"gue nggak melukai Aliza, gue membunuh Aliza, sama seperti gue membunuh Karina" Clara tertawa terbahak-bahak.


"dasar wanita sinting" zidan tidak habis pikir dengan kelakukan juga sikap Clara.

__ADS_1


"Gue sudah peringatkan kedua wanita itu untuk menjauhi RAGA! tapi mereka tetap keras kepala, jadi jangan salahkan gue kalau mereka berdua mati di tangan gue"


"Lo benar-benar Wanita sinting Clara "


"RAGA HANYA MILIK GUE, MILIK CLARA SINTA, SIAPAPUN YANG BERANI MEREBUTNYA DARI GUE... MAKA BERSIAPLAH UNTUK BERTEMU AJAL NYA" teriak Clara tidak ada takut-takutnya.


"jadi benar... Lo yang sudah membunuh Karina " Inayah memasang wajah angkut, tidak sedikitpun ada rasa bersalah di hati wanita itu.


"IYA!"


"Gue yang sudah bayar pria mata duitan itu untuk membunuh Karina, dan memalsukan kematiannya" Dengan tangan bergetar, Inayah yang ternyata sejak tadi berada di ambang pintu menekan tombol dilayar ponselnya untuk menghentikan rekamannya videonya.


"dasar wanita IBLIS!" Inayah berlari kencang menghampiri clara.


plak!!!


satu tamparan melayang di wajah Clara, Clara ingin membalas tamparan Inayah, tapi zidan lebih dulu menahan pergelangan tangan Inayah.


"jangan pernah berani menyentuhnya" zidan memperingati.


"zi, bawa dia ke kantor polisi, gue sudah punya bukti semua kejahatannya"


"lepasin gue, lepas" mereka berdua membawa paksa Clara, tapi mereka juga masih berhati-hati, mau bagaimanapun Clara juga sedang hamil.


"lepas, jangan pernah berani menyentuh saya!"


"Ayah... Liza benar-benar butuh ayah, Liza mau pulang sama ayah, bawa Liza pulang ayah, tolong..."


"Tolong Liza ayah, Liza sakit... maafkan Liza, peluk Liza..."


"ANAK PEMBAWA SIAL KAYA KAMU NGGAK BERHAK MENDAPAT CINTA!"


"akkh, sakit Raga, lepas"


"JANGAN PERNAH BERANI MENYEBUT NAMA GUE! LO ITU PEMBANTU DI RUMAH GUE, LO ITU WANITA PEMBAWA SIAL, ALIZAAA"


"tuan... saya lapar, boleh saya minta sedikit lauknya "


pyar!!!

__ADS_1


"gue lebih memilih membuang semua makanan ini daripada Lo makan "


"jangan pernah berani menyentuh sedikitpun makanan di rumah gue, Lo hanya boleh memakan sisa di piring gue "


BUGH*!


BUGH!!!


BUGH!!!


"APA YANG SUDAH KAU LAKUKAN PADA PUTRI KU, RAGA..." dada Sadewa kembang kempis, pria yang kopiahnya sudah dihiasi bercak merah berada di atas tubuh menantunya, Raga tidak melawan sedikitpun, ia biarkan Sadewa melampiaskan amarahnya, sampai penjaga rumah sakit datang dan memisahkan mereka.


"lepas" Sadewa memberontak ingin melepaskan diri.


"Bapak tenang, atau saya terpaksa menyeret bapak keluar dari rumah sakit ini" akhirnya Sadewa sedikit tenang, para penjaga itupun melepaskan Sadewa, melihat dokter yang keluar dari ruangan Aliza, Sadewa menghampiri mereka, begitu juga dengan Raga yang terkapar di bawah lantai, bergegas Raga menuju ruangan Aliza.


"Keadaan ibu Aliza kritis, kita harus segera mengeluarkan janinnya" Sadewa menggenggam tangan sang dokter, ia memohon dengan pilu di hadapan dokter yang menangani putrinya.


"to--tolong selamatkan putri juga cucu saya dok,


saya mohon "


"saya sebagai dokter akan berusaha di ruang operasi,saya juga mohon berdoalah untuk keselamatan pasien, karena sekarang... pasien benar-benar membutuhkan mukjizat" dokter itu menepuk nepuk pundak Sadewa yang sedikit membungkuk di hadapannya


"sekarang saya butuh persetujuan untuk melakukan tindakan, kita selesaikan semuanya sekarang" Sadewa mengangguk.


....


Sadewa terus merapal kan doa untuk keselamatan putri dan cucunya, baju bernoda kan darah masih melekat di tubuhnya, tasbih kecil yang selalu ia bawa tidak berhenti berputar. Raga yang duduk di sebrang menatap kosong pada ruangan tertutup di depannya, bayangan kejadian beberapa waktu lalu kembali berputar di memori otaknya.


"Apa yang sudah ku lakukan pada istri dan anak-anak ku"


Di bawah alam sadarnya, kembali Aliza bangun di tempat indah dengan kepala berada di atas pangkuan Rania


"i--ibu" panggil Aliza.


"iya nak, ini ibu" tangan lembut Rania mengusap-usap wajah cantik putrinya.


"ibu..." Aliza beralih posisi menghadap Rania, ia peluk Rania begitu erat, Aliza saluran kan semua rasa rindunya di pelukan Rania, tangisnya pecah "

__ADS_1


"ibu... Liza kangen ibu"


"sekarang, ibu akan selalu ada di samping Liza, Liza nggak akan lagi merasa sakit, Liza akan bahagia di sini dengan ibu, nak"


__ADS_2