Di Nikahi Untuk Balas Dendam

Di Nikahi Untuk Balas Dendam
Jangan pernah jatuh cinta


__ADS_3

Sekarang mereka sudah kembali ke posisi semula, tapi kali ini Raga duduk tepat disamping Aliza, Aliza meremas baju bagian depannya menahan gugup, film yang mereka nonton pun masih berlanjut.


"Lo takut?' tanya Raga karena sejak tadi ia lihat wanita di depannya ini terlihat tegang, Aliza menggeleng.


"Lo takut sama filmnya atau sama..." pria itu beralih menatap Aliza" gue " ucap Raga lagi, susah payah Aliza teguk salivanya, ia beranikan diri menatap Raga yang duduk teramat dekat dengannya.


"tu--tuan " jawab Aliza apa adanya.


"Lo takut gue pukul, Lo takut gue siksa, Lo takut gue minta teman-teman gue buat sentuh Lo, atau Lo takut ayah Lo... Sadewa Kusuma gue...." Aliza menggeleng saat Raga menyebut nama ayahnya.


"jangan ayah saya, saya mohon, biarkan ayah saya hidup dengan tenang, ayah saya tidak memiliki salah dengan anda, jangan bawa-bawa ayah saya di dalam permasalahan kita" Aliza mengatupkan tangannya di depan dada memohon pada Raga.


"Lo takut banget ayah Lo itu mati, padahal sudah jelas ayah Lo nggak jauh beda dari gue" Raga Menyunggingkan senyum.


"ayah saya berbeda dengan tuan, ayah saya menyayangi saya tulus dari lubuk hatinya, ayah hanya kecewa dengan saya, dan saya yakin suatu hari nanti, ayah akan memaafkan saya "


"Di kepala Lo itu..." Raga mendorong kepala Aliza menggunakan jarik telunjuknya" hanya ada ayah Lo aja, ayah, ayah ayah" geram Raga.


"saya sudah katakan pada tuan hari itu, alasan hidup saya hanya karena ayah" Aliza tanpa ragu menatap wajah Raga, tiba-tiba rasanya sesak di hati Raga saat di pikiran wanita itu hanya ada sang ayah saja, Raga tarik lagi pergelangan tangan Aliza menuju lantai dua. Raga dorong dengan kasar Aliza masuk ke dalam kamarnya, pergelaran tangannya terasa perih karena kuatnya cengkraman juga tarikan yang Raga lakukan.


"Buka kerudung Lo" Aliza tidak lakukan apa yang raga perintahkan


"BUKA KERUDUNG LO, ALIZAAAAAAA" Aliza buka kerudung panjangnya, Raga merampas dan melempar kerudung itu ke sembarang arah.


"Naik" perintah Raga dengan dagu mengarah pada ranjang, Aliza menggeleng, ia menolak perintah Raga.

__ADS_1


"Lo mau naik sendiri, atau gue yang angkat Lo naik ke atas"


"tu--tuan, saya masih banyak kerjaan di dapur, ijinkan saya keluar" Raga menahan Aliza saat ingin melangkah pergi. kini kedua lengannya di cengkram kuat dengan tangan besar Raga, tubuh kecilnya dengan mudah Raga angkat dan ia lempar ke atas ranjang.


"jangan mancing emosi gue Aliza... gue suami Lo, gue berhak lakukan apapun dengan Lo"


"saya bukan istri tuan, saya hanya pembantu di rumah tuan, tuan sendiri yang katakan itu, tapi kenapa tuan tiba-tiba membicarakan hak, lalu apa kabar dengan hak saya yang tidak pernah tuan berikan sebagai istri, sebagai seorang wanita yang harusnya tuan jaga bukannya di hajar tanpa henti, di pukul tanpa belas kasih, di hina sesuka hati, DI MANA SEMUA HAK ITU TUAN, HAH!... di mana semua hak yang seharusnya saya dapatkan sebagai seorang istri, di mana" Raga hanya diam memandangi wanita itu, ia biarkan Aliza menangis di atas ranjangnya, Aliza duduk dengan memeluk tubuhnya,bahu wanita itu bergetar kuat. Raga merangkak naik juga ke atas ranjang,;ia duduk bersila di belakang wanita itu, ia tarik lagi Lengan Aliza, tapi kali ini Raga tidak lakukan secara kasar, Raga tarik wanita itu masuk ke dalam pelukannya.


"berhentilah menangis, gue benci tangisan Lo, gue benci mendengar isakan Lo itu, berhentilah menangis Aliza " Raga mengusap punggung Aliza yang bergetar menahan tangisannya, ia juga cium pucuk kepala Aliza berkali-kali. usapan di punggungnya membuat Aliza merasakan ketenangan, usapan dari tangan yang biasanya memberikan tamparan kini memberikan kehangatan di dalam pelukan.


"Berhentilah bertahan hanya untuk ayah Lo itu, ayah yang sudah dengan suka rela memberikan anaknya untuk melunasi semua hutang-hutangnya, berhentilah berpikir untuk mengakhiri hidup Lo" perlahan Suara isakan Aliza tidak terdengar lagi, Raga longgarkan pelukannya, ia dapati Aliza sudah tertidur pulas di pelukannya. Raga benarkan posisi tidur Aliza, ia usap jejak air mata yang bercampur keringat di wajah sang istri, setelahnya Raga ikut menidurkan diri di samping Aliza, ia tidur dengan menghadap ke arah Aliza, tangannya terulur menggenggam jari-jari lentik wanita itu.


"Lo milik gue Aliza, Lo tetap harus hidup di samping gue, gue nggak akan biarin Lo pergi dari hidup gue, Lo akan terus menjadi istri yang gue Tawan di rumah gue" ucap Raga sebelum kesadarannya ikut tenggelam.


....


"Raga" ucap Aliza memastikannya jika benar ia tidur dengan posisi di peluk Raga.


"sampai kapan kita hidup kaya gini ga, kamu nggak capek apa... aku cakep banget ga, aku capek" Aliza beranikan diri untuk memeluk Balik Raga, wajahnya ia tempelkan di dada bidang pria itu. Aliza dapat rasakan pelukan Raga di pinggangnya semakin erat.


"tidur lah lagi, masih ada waktu sebelum adzan Zuhur" ucap Raga dengan suara serak khas bangun tidur.


."


__ADS_1


....


"mah, Raga nggak bisa menikah dengan Clara "


"nak, ayah Nya Clara sangat berpengaruh besar di hidup kita, kamu masih ingat kan... ayah Clara yang menolong perusahaan kita di ambang kehancuran, mamah cuman minta satu, nikahi Clara "


Raga mengalihkan pandangannya pada wanita bergamis putih dengan kerudung besar yang baru saja datang membawa minuman, tidak ia alihkan pandangannya sampai akhirnya Aliza tidak terlihat lagi dari pandangan matanya.


"Raga Nggak bisa mah, Raga hanya ingin menikah sekali dalam hidup Raga"


"nak, jangan gila kamu, jangan macam-macam dalam hidup kamu, pembantu itu bukan istri mu" ucap Dewi penuh penekanan.


"Aliza istri Raga, istri sah di mata hukum dan agama "


"RAGA ARGANTARA " bentak Dewi, napasnya kini tidak beraturan.


"apa yang kamu katakan Raga, jangan bilang kalau kamu mencintai wanita rendah itu?"


"Raga nggak bilang, kalau raga mencintai Aliza, Raga hanya katakan... Raga Nggak bisa menikah dua kali, itu melanggar prinsip hidup Raga "


"prinsip mu itu yang akan Menghancurkan kita Raga" urat-urat di leher Dewi ikut menegang, perdebatan dengan anak sulungnya sepertinya tidak menemukan titik terang, ia raih lagi tas mahal dari atas meja, tanpa mengatakan sepatah katapun Dewi pergi meninggalkan kediaman putranya.


"Argghhh" perdebatan mereka dapat di denger dengan samar oleh Aliza yang berada di dapur


"cinta " Aliza Menyunggingkan senyum

__ADS_1


"jangan pernah jatuh cinta dengan seseorang yang sudah terluka terlalu dalam, jika kau berani mencintai wanita yang hidupnya penuh luka, maka bersiaplah untuk terluka juga, Raga Argantara "


__ADS_2