Di Nikahi Untuk Balas Dendam

Di Nikahi Untuk Balas Dendam
Putriku


__ADS_3

"Aliza"


"Inayah" Aliza tersenyum sumringah, ia berdiri menghampiri Inayah dan memeluknya, di belakang Inayah ada zidan yang mendekat.


"gue nggak nyangka bisa ketemu Lo di sini za"


"gue juga" Aliza sedikit memiringkan kepalanya, ia lihat zidan yang mendekat.


"Lo sama zidan?" tanya Aliza dengan wajah menggoda menyebalkan.


"iya" jawab Inayah singkat


"cie cie"


"apa sih nggak jelas"


"Zidan, kalian...." tanya Aliza pada zidan.


"iya , doa'in yang terbaik untuk kita ya za" Inayah berbalik menatap zidan tidak percaya.


"pasti, doa terbaik untuk kalian" Inayah menatap Aliza, penampilan Aliza Berbeda dari yang terakhir ia lihat, bajunya, penampilannya semuanya berubah. Wanita itu terlihat cantik dengan pakaiannya.


"Lo sama siapa za?" tanya zidan.


"sama gue, kenapa" Raga berdiri dan menatap ke arah ketiganya.


"gue suaminya, jadi jelas dia pergi bareng gue, kenapa Lo tanya lagi, hah" sarkas Raga tidak terima dengan pertanyaan sepele zidan.


"santai Napa ga, kan gue cuman tanya"


ke empatnya akhirnya menghabiskan waktu bersama, berkeliling pasar malam, mencoba segala macam wahana permainan dan membeli jajanan.


....


"Allahuakbar, capek banget" Aliza duduk di pinggiran tempat tidur, ia baru saja membersihkan diri, Aliza usap perut dan punggungnya secara bergantian. tidak lama raga datang setelah menyelesaikan pekerjaannya.


"kenapa belum tidur?"


"sudah tadi, tapi kebangun, punggung saya sakit, kayaknya kecapean deh"


"sini, gue pijatin, Lo rebahan miring aja"


dengan pelan raga memijat lembut punggung Aliza, walaupun matanya sudah mengantuk, raga tetap berusaha untuk memijat punggung Aliza

__ADS_1


Aliza belum tidur, saat merasakan usapan Raga berhenti, Aliza berbalik menghadap raga, ia pandangi begitu dalam wajah suaminya yang Tidur dengan tenang, tangan raga ia raih untuk di genggam.


"Ga, jika suatu hari nanti aku pergi, berjanjilah untuk hidup bahagia, berhenti untuk menyimpan dendam pada siapapun, dendam hanya akan menyakiti kamu...ga. aku berharap suatu hari nanti, kamu akan tau betapa wanita hina ini begitu menyayangi kamu, aku si wanita tidak berguna ini sangat mencintai kamu, percayalah ga... mau sebesar apapun rasa benci kamu ke aku, mau bagaimanapun kamu perlakuan ku... mau seberapa sering kamu mengangkat tangan padaku... Aku tidak pernah menyimpan dendam padamu ga, Aku Minta maaf karena pernah berada di titik terendah dan memberikan sumpah serapah padamu, aku tidak bermaksud ga, aku sudah ridho dan rela dengan semua yang kamu lakukan, aku hanya sakit hati saat suami ku sendiri meminta orang-orang biadab itu menyentuh ku, hancur lebur perasaan ku sebagai wanita, sebagai istri yang seharusnya tubuhnya hanya untuk suaminya saja, di setiap doaku, tak pernah sekalipun terucap kalimat yang akan menyakitimu... Suami ku, aku selalu mendoakan kebaikan untuk mu, percayalah "


"maafkan aku karena menjadi penyebab dendam di hatimu, maaf" lirih Aliza dengan air mata berderai, ia peluk Raga dan menenggelamkan wajahnya di dada bidang suaminya. perlahan Raga membuka matanya yang memerah, air matanya ia tahan sekuat tenaga.


sungguh ia menyesal karena menyakiti wanita setulus Aliza, Wanita sebaik istrinya ia perlakukan begitu rendah di rumahnya sendiri secara berulang-ulang.


"*Mati Lo wanita hina"


"BANGSAT, siapa yang minta Lo masuk ke kamar gue, hah" keluar


"ampun ga, sakit.... ampun gaaa, akkkhh, ampuuun"


"buka tuan, saya mohon tuan buka, dingin"


"Jangan pernah Lo berani sedikitpun makan makanan yang ada di rumah gue, mengerti! makanan lah dari sisa gue"


"kenapa? Lo mau nyoba, sana gratis, tubuh dan hidup wanita hina itu sudah gue bayar lunas ke bokap nya, jadi gue bebas melakukan apapun padanya, silahkan cicipi aja, Lo bebas menidurinya Sampai pagi pun terserah, ASLA jangan sampai mati aja, entar gue susah dapat pembantu multi fungsi kata dia, bisa di dapur lihai di ranjang, hahahaha "


"RAGAAA, tolooong, raga aku mohon jangan lakukan ini, ra--akh RAGAAA akkk"


"lepas, lap---akhhh, lee----"


mati Lo perempuan hina


PLAK!!!!


"siapa yang nyuruh Lo Tidur, HAH SIAPA JAWAB"


"tuan, ijinkan saya istirahat sebentar, kepala saya sakit tuan"


"mau Lo matipun gue nggak peduli, BANGSAT, BANGUUUN KERJAA*"


Jerit tangis Aliza menggema di mana-mana, pukulan, tamparan, kekerasan, tendangan, tarikan di lengan juga rambut dan baju, cekikan... semua kekakuan keji yang pernah Raga lakukan pada Aliza berputar seperti gasing di kepalanya.


Raga seorang pria pengecut yang Hanya bisa menyakiti wanita, pria lemah yang hanya tau menyiksa wanita yang seharusnya ia jaga dengan sepenuh hatinya, Raga sadar betul dengan hal itu. tangan besarnya dengan mudah terangkat memberikan segala macam bentuk siksaan untuk wanita lemah seperti Aliza.


raga peluk tubuh kecil Aliza di dalam dekapannya.


"maaf" lirih Raga.


....

__ADS_1


"saya tidak punya waktu untuk membicarakan hal tidak penting, silahkan keluar dari rumah saya"


Inayah berdiri dengan kedua tangan terkepal.


"Nggak penting! nggak penting kata om, Aliza putri om, Putri kandung om, teganya om menyebutnya tidak penting" jerit Inayah tidak tertahankan lagi.


"om! apa om tau... putri kebanggaan om tersiksa di rumah suaminya, apa om tau sekurus apa Aliza sekarang, on menyalahkan Aliza sebagai penyebab kematian ibu nya, sama seperti raga yang menyalahkan aliza sebagai penyebab kematian Karina, nggak ada satupun anak yang mau membunuh ibunya, Nggak akan ada teman sebaik Aliza yang ingin membunuh sahabatnya..." nafas Inayah tersengal-sengal


"Aliza bahkan menolak menerima beasiswa kedokteran Hanya agar bisa terus di samping om, Aliza rela mengubur mimpinya agar tetap bisa menjaga om, tapi om sendiri yang mengusir nya "


"kalian menyalahkan sahabat saya atas takdir dan ketetapan tuhan, kalian menyakiti fisik dan hatinya, apa hati nurani om tidak sedikit terbuka untuk putri kesayangan om, Aliza butuh om... Aliza butuh ayahnya untuk mengadu, tapi om dengan teganya mengusir dan membuangnya seperti sampah, di perlakukan semena-mena oleh suami nya, di hina, di siksa, bahkan di lecehkan berkali-kali di rumah suaminya sendiri, apa om pernah tau betapa tersiksanya sahabat saya di sana, Aliza bahkan pernah hampir mengakhiri hidupnya "


Inayah menepis tangan zidan yang ingin menenangkan nya, sedangkan Sadewa masih duduk mencerna ucapan Inayah.


"sekarang saya tau , kedatangan kami kemari sia-sia, om benar-benar sudah melupakan Aliza dan kembali hidup mewah seorang diri "


"satu yang perlu om ingat, Jika terjadi sesuatu pada sahabat saya, maka bersiaplah untuk merasakan kehilangan seorang putri sebaik Aliza "


"jangan pernah menyesal jika terjadi sesuatu pada Aliza"


"Inayah kecewa sama om" Inayah pergi meninggalkan mereka dari ruang tamu Sadewa dengan perasaan kecewa.


"saya permisi dulu pak, mungkin lain kali kita bisa bicara lagi" zidan berucap.


....


"Lo ko gitu, nggak sopan tau nggak" Inayah membuang wajahnya ke arah jendela.


"kita bisa mengajak beliau bicara baik-baik, gue jadi nggak enak" kesal zidan dengan kelakukan Inayah.


"gue berharap kehadiran kita kesana bisa menemukan sedikit harapan, tapi karena tingkah Lo yang kekanak-kanakan semuanya gagal"


"Lo nggak ngerasain jadi Aliza zi, gue sahabatan sama dia dari kecil, gue tau betul sifatnya, anak itu periang banget... sumpah, dia selalu aja bisa bikin orang lain ketawa Dengan tingkahnya, tapi setelah bertahun-tahun kita nggak ketemu lagi dengan nya, gue nggak lihat lagi Aliza yang dulu, Aliza sekarang bermata sayu, nggak ada lagi Aliza si perubah mood, semuanya di hancurin sama keluarga dan teman biadab Lo itu, sahabat gue di sakiti , siapa yan rela zi, nggak ada,..." Inayah menghapus kasar air matanya, wanita itu berucap pelan tidak membentak sama sekali.


"emosi gue nggak ketahanan lagi saat om Sadewa bahkan enggan menyebutkan nama putrinya, sakit hati gue zi, gue nggak tau seberat kuat Aliza sampai bisa menahannya seorang diri" zidan merasakan ketulusan Inayah pada Aliza, mungkin ia sendiri sempat terbawa emosi jadi menyalahkan Inayah.


"maaf, gue nggak maksut marah"


....


sepeninggal Inayah dan zidan, tidak sedikitpun Sadewa merubah posisinya, Ia masih menunduk menatap meja dengan pandangan kosong.


"putriku"

__ADS_1


__ADS_2