
Flashback on
"sialan banget tu cewek, gara-gara mikirin dia gue nggak bisa tidur" sudah hampir jam 12 malam, Raga tak kunjung Juga bisa terlelap, pikirannya Hanya ada Aliza saja ,ia ingin tidur dengan memeluk Aliza, Raga berusaha menahan keinginan gilanya itu, tapi sialnya gagal, Raga akhirnya memutuskan untuk turun kebawah lagi menemui Aliza, mungkin ia akan meminta Aliza melakukan sesuatu agar ia tidak terlalu merasa bodoh di depan wanita itu Jika tiba-tiba memintanya tidur bersama.
"Aliza"
"Aliza, buka pintunya"
"Aliza" tidak ada sahutan dari dalam, pintu kamarnya tidak terkunci dan Raga tidak menemukan Aliza di sana.
"Alizaa"
"alizaaaaaaa, sialan. Kemana tu cewek, apa di kamar mandi" saat ia mengecek kamar mandi pun Aliza tidak ia temukan di sana.
"ALIZAAAAAAA, ALIZAAAAA, awas lo Aliza kalau ketemu"
"apa jangan-jangan dia Kabur"
"kabur lewat mana, pintu utama masih ke kunci, pintu belakang nggak pernah di buka, argghh sialan tuh cewek, atau...."
Raga mengepalkan kedua tangannya saat ia temukan Aliza yang asik mengobrol dengan pria lain di atap rumah nya.
"brengsek " umpat langit
flashback off
langit membeku saat Aliza menyebut Raga Sebagai suaminya, kenyataan gila apa yang baru saja ia dengar, Langit melepaskan cengkeramannya di kerah baju Raga, Aliza berlari menghampiri Raga dan membantunya untuk berdiri.
__ADS_1
"za, Lo bercanda kan" ucap langit lirih
"dia nggak bercanda, gue suaminya, Aliza Khumaira istri dari Raga Argantara" bagaikan ada pedang yang menghunus hatinya, langit merasakan sakit yang teramat sakit di sana. langit hanya bisa memandangi Aliza yang membantu Raga untuk berdiri. Aliza papah tubuh Raga untuk masuk ke dalam rumah.
"argghhh" langit kembali ke atap rumahnya, semua piring gelas dan benda-benda lain yang ada di atas meja ia sapu bersih, Langit meraung kesetanan, seharusnya malam ini ia ingin jujur mengenai perasaannya pada Aliza, tapi kenapa justru ia mendapatkan kejutan yang tidak pernah ia sangka, wanita yang selalu ia dambakan semenjak pertemuan mereka ternyata milik orang lain, wanita yang selalu ia bayangkan bisa mendampinginya ternyata sudah terikat dengan orang lain, wanita yang ia kagumi sosok ketegarannya ternyata istri orang lain.
"kenapa Lo nggak jujur Aliza, Kenapa Lo nggak jujur dari awal kalau Lo sudah menikah, Kenapa Lo harus mengaku menjadi pembantu di rumah suami Lo sendiri, kenapa Lo buat gue berharap lebih dari pertemanan kita Aliza, kenapaaa..., KENAPAAA"
Hancur lebur perasaan pria yang kini wajahnya berubah pucat Pasih, sakit di kepala mulai kembali menyerang, perlahan bayangan hitam memenuhi penglihatan, pandangan nya berubah-ubah, tatapannya sayu hingga kesadarannya hilang total bersamaan dengan mengalirnya darah segar melalui rongga hidungnya.
di tempa lain, Raga sudah membawa Aliza masuk ke dalam kamarnya, ia kunci pintu kamar memastikan Aliza tidak bisa kabur darinya.
"beraninya Lo menemui pria lain Alizaaaaaaa" Aliza berangsur mundur di saat Raga melangkah maju
"BERANINYA LO BERBAGI BAHAGIA DENGAN PRIA LAIN, BANGSAT "
pajangan yang berada di atas Nakas Raga lempar Hingga pecah tak tersisa. Aliza menutup telinganya rapat-rapat.
"dan apa ini? " raga menunjuk Aliza dari atas sampai bawah
"LO MAU JADI *****, HAHHH"
"kenapa nggak bilang kalau Lo mau jadi wanita penghibur Aliza, gue bisa daftarin Lo ke tempat langganan GUE BANGSAT" Raga tarik pasmina yang Aliza kenakan sampai lepas.
"Mau apa Lo sekarang hah, NGOMONG BANGSAT MAU APA, MAU APAAA" remote tv Raga lempar dan tepat mengenai kaca jendela kamarnya hingga pecah.
"sini Lo wanita murahan " Raga tarik pergelangan tangan Aliza ia dorong lagi tubuh kecil itu hingga terhempas keatas tempat tidurnya.
__ADS_1
Aliza menggeleng samar, ia ketakutan sumpah demi apapun Aliza ketakutan saat Raga membuka baju yang ia kenakan, kini bagian atas tubuh Raga yang berbentuk dapat Aliza lihat, wanita itu memalingkan wajahnya, yang membuat Raga tersenyum smirik.
"jangan munafik Aliza, gue tau Lo sudah sering lihat beginian, atau Lo juga sudah pernah ngangkang di hadapan cowok brengsek itu"
"Ma--maaf, sa--saya salah"
"EMANG LO SALAH BANGSAT, LO SALAH... gue sudah bilang sama Lo... Aliza Khumaira, Lo itu milik gue, Lo tawanan di rumah gue, TAPI LO LANCANG MENEMUI PRIA ITU SECARA DIAM-DIAM, DASAR CEWEK MURAHAN LO ALIZA "
"di bayar berapa Lo sama tu cowok permalam, hah... BERAPA GUE TANYA" Raga membuka ikat pinggangnya, Aliza pikir Raga akan memukulnya menggunakan ikat pinggang itu tapi nyatanya salah, Raga justru menggunakan ikat pinggang itu untuk mengikat tangannya.
"A--apa yang mau kamu lakukan Raga, le--lepas "
"gue juga mau nyobain Lo Aliza, gue mau buat Lo mengerti semua yang gue katakan, Aliza " bisik Raga di telinga Aliza.
"ja--jangan, aa--aku mohon jangan Raga, jangan" Raga mengelus wajah Aliza, tampangnya begitu menakutkan dengan senyum smirik menyeramkan.
ingatan akan kejadian yang pernah ia alami kini berputar lagi di kepalanya, rasa ketakutan akan paksaan kembali menghantuinya, tubuhnya bergetar hebat, tapi ia tidak bisa melakukan apa-apa, malam ini Raga sungguh memaksanya memberikan sesuatu yang teramat berharga untuknya, sesuatu yang ia jaga sepanjang hidupnya, Raga memanglah suaminya, suami yang menikahinya atas restu ayah tercinta, tapi Raga bukanlah sosok suami yang berhak ia berikan segalanya termasuk Tubuhnya, Raga tidak pernah mengganggap Aliza sebagai istrinya Walaupun hanya sesaat, Aliza hanyalah pembantu di rumah Raga Argantara tidak lebih, dengan keadaannya itu, apakah Aliza bisa merelakan Raga mengambil haknya sebagai suami sedangkan ia sendiri tidak pernah mendapatkan hak sebagai seorang istri.
namun semua sudah terjadi, Aliza sungguh sudah kehilangan hal yang paling berharga di hidupnya, Aliza meringkuk di kasur king size dengan selimut menutupi tubuh polosnya, air matanya tidak pernah berhenti keluar, sedangkan Raga sudah tertidur pulas di sampingnya, tangan pria itu menindih pinggangnya. isakan tangis wanita itu terdengar pilu.
ia singkirkan tangan Raga dari atas pinggangnya, baju pemberian langit sudah hampir sobek terbagi dua, tetap Aliza pasang baju itu untuk kembali ke kamarnya, dengan menahan seluruh rasa sakit di tubuhnya Aliza pergi meninggalkan Raga menuju lantai satu.
Aliza masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri, sudah hampir subuh, ia ingin bersujud di hadapan Tuhannya, ia ingin adukan segala rasa sakit yang ia terima atas perbuatan Raga padanya.
satu jam lamanya Aliza berada di Kamar mandi, mata bengkaknya sudah tidak mengeluarkan airnya, tersisa perihnya saja.
Aliza bentangkan sajadah Setelah ia kenakan mukenanya, dua rakat sebelum sholat subuh tak pernah ia tinggalkan sekalipun.
__ADS_1
takbir terucap dengan suara getar, dadanya Sesak kembali saat lantunan ayat suci ia kumandangkan.