
Aliza pelan - pelan mengangkat tangan Raga dari atas perutnya, tenggorokannya kering, ia ingin minum, tapi pelukan Raga begitu erat di sana.
saat ia berhasil menyingkirkan tangan Raga dari atas perutnya, Pria itu terusik, ia tarik lagi Lengan Aliza untuk kembali tidur di sampingnya.
"tu--tuan, sebentar saya ingin minum"
"nanti aja, gue mau Lo ada di sini" dengan sekali gerak, tubuh alya sudah mengarah menghadap Raga, pria itu tetap memejamkan matanya, jantung Aliza berdetak kencang, wajah mereka begitu dekat, ini pertama kalinya Aliza bisa memandangi wajah Raga sedekat ini.
"mas yang memiliki senyum manis dengan Tatapan tajam, rasa cinta yang dulu ada untuk mu perlahan terkikis, aku kecewa dengan sikap mu padaku, mas yang memiliki senyum indah dengan Tatapan tajam, maaf jika pernah lancang mencintai mu, dan sekarang aku sedang berusaha menyingkirkan rasa itu, meskipun sulit untuk ku" monolog Aliza.
Aliza terbelalak saat tiba-tiba Raga membuka matanya.
"ngeliatin apa" ucap Raga datar dengan suara serak
"maaf tuan" ingin kembali membelakangi Raga, tapi pria itu lebih dulu menahannya dengan cara meletakkan lengan kekarnya di pinggang rampingnya, Raga dengan mudahnya menarik tubuh kecil itu untuk lebih dekat dengannya, kini ujung hidung mereka masing-masing sudah bersentuhan, keduanya bisa merasakan terpaan nafas dari satu sama lain. Aliza teguk salivanya untuk membasahi kerongkongannya yang mengering, jantungnya berpacu lebih cepat lagi saat Raga sudah meletakkan telapak tangan nya di sisi wajahnya. Aliza juga bisa rasakan ibu jari pria itu mengusap lembut bibirnya.
"bibir ini sudah pernah di sentuh orang lain" setelah berucap dengan suara datar, Raga pandangi lagi Aliza.
"mulai dari sekarang, nggak boleh ada yang nyentuh Lo selain gue, PAHAM" Aliza mengangguk takut.
__ADS_1
"pintar, sana... minum" di baliknya lagi tubuhnya membelakangi Aliza.
....
Zidan sudah kembali ke Jakarta lebih dulu, itu semua akal-akalan Raga saja, ia katakan pada zidan jika mereka pulang hari ini, tapi nyatanya Raga dan Aliza masih ada di Lombok, Raga sengaja memulangkan zidan dengan cara seperti itu, Jika tidak zidan tidak akan menuruti keinginannya, Raga ingin menghabiskan waktunya di pantai bersama Aliza hari ini. tanpa ada gangguan dari zidan.
dan di sinilah mereka sekarang, di pantai Kuta Lombok. pantai yang terkenal dengan keindahannya.
Raga menggunakan kemeja Santai di padukan dengan celana pendek di atas lutut, tidak lupa topi hitam nya, sedangkan Aliza seperti biasa, ia gunakan pakaian syar'i menutup aurat dengan benar.
mereka duduk santai di pasir pantai, di depan mereka ada satu keluarga muda yang terlihat begitu bahagia, tawas sang istri menggema saat si suami menggendongnya, sedangkan anak balita mereka yang berumur Lima tahun berlarian mengejar orang tuanya, sangat harmonis Berbeda jauh dari rumah tangga mereka, di mana hanya ada tangisan dari Aliza juga amukan dan amarah dari Raga, tawa lucu sebagai penyejuk di antara mereka tidak akan pernah hadir di dunia, Aliza seka air matanya yang tiba-tiba saja turun. dari ekor matanya Raga tau jika wanita di sampingnya itu menangis.
"saya Hanya ingin melihat ayah bahagia"
"untuk diri Lo sendiri"
"saya tidak menginginkan apa-apa untuk diri saya sendiri, masih bernafas saja sampai Sekarang sudah satu nikmat yang luar biasa untuk saya" Raga menoleh menatap Aliza dari samping, wanita itu fokuskan pandangannya ke depan.
"saya hanya ingin memperbaiki diri sebagai seorang hamba yang taat, saya hanya persiapkan diri saya sebaik mungkin menghadap tuhan, jadi jika waktunya sudah tiba, saya sudah siap, walaupun saya tidak tau kemana akhirnya"
__ADS_1
"Lo takut mati di tangan gue?" Aliza menghadap kan wajah nya ke arah Raga, ia tersenyum pada pria itu dan kembali menatap laut.
"nggak, saya nggak takut, saya Hanya takut ketika nyawa saya di cabut sedangkan saya tidak memiliki bekal apapun" jawab Aliza dengan tenang.
"tapi Lo pernah berpikir untuk bunuh diri, Aliza. dan gue tau Lo pasti lebih mengerti apa konsekuensinya dari hal bodoh yang Lo lakuin itu"
Aliza menyunggingkan senyum.
"tuan benar, saya hampir menghabisi nyawa saya sendiri, dan hal itu sangatlah di murkai Allah, saya manusia biasa tuan, saya mungkin bisa tahan semua siksaan yang tuan berikan untuk saya, memakan setiap Makan sisa di piring tuan tanpa merasa jijik sedikitpun pun tak Malasah bagi saya, di hina, di caci maki, di tendang, di tampar, di Jambak, di seret, di pukul, bahkan sampai berdarah pun saya tidak masalah, saya ridho... mungkin dengan melakukan itu , tuan bisa merasakan puas di hati tuan, tapi..." Aliza meremas kuat pasir di genggaman. tenggorokan nya tercekat, Aliza kesulitan melanjutkan ucapannya.
"Saat tuan meminta pria brengsek itu untuk menjamah saya, sejak saat itu saya terus berpikir untuk mengakhiri hidup, saat itu dia memang belum melakukan hal lebih pada saya selain menjajah bibir juga leher saya, tapi dia sudah melihat bagian tubuh saya yang tidak seharusnya ia lihat, pria itu juga menyentuhnya dengan tangan biadabnya itu... andai bukan karena ayah, hari itu saya sudah mengakhiri hidup, saya jalani lagi semua nya seperti biasa Hingga datang lagi satu pria yang sama brengseknya, saya di lecehkan di depan suami saya sendiri, perasaan wanita mana yang tidak terluka saat dirinya berada di bawah pria lain sedangkan suaminya hanya diam dan terlihat bahagia, hati wanita mana yang tidak terluka saat ia di paksa melebarkan paha oleh pria lain di hadapan suaminya sendiri, saat itu yang saya pikirkan hanya mati, saya ingin mati, saya lelah, saya nggak sanggup hanya untuk mengangkat kepala di hadapan anda, mau bagiamana pun anda memperlakukan saya... anda tetaplah Suami saya, pria yang sudah menjabat tangan saya dan mengucap kabul atas ijab yang ayah saya ucapkan, sungguh miris hidup wanita hina ini" Aliza tersenyum miris, Raga tidak alihkan pandangannya dari wanita yang terlihat tegar di atas penderitaannya.
"saya tidak lagi memiliki alasan untuk tetap hidup selain ayah, saya Hanya ingin di peluk ayah sebelum pergi, saya ingin ayah bilang sayang lagi sebelum saya memilih menyerah, saya ingin liat senyuman ayah lagi, saya ingin liat ayah kaya dulu lagi" Aliza tarik nafasnya yang kian sesak menyiksa dada.
"gue bakal daftarin pernikahan kita, Lo bakal jadi istri gue yang sah di mata hukum dan agama" Aliza pandangi lagi wajah Raga, wajah datar tanpa ekspresi itu.
....
"makasih ya Mbak"
__ADS_1
"makan, kita istirahat sebentar baru pulang" Aliza mengangguk,