Di Nikahi Untuk Balas Dendam

Di Nikahi Untuk Balas Dendam
suami vs ayah kandung


__ADS_3

"besok gue nikah za, gue sebenernya nggak mau, tapi keadaan yang maksa gue" Aliza menyisir rambut hitam Raga menggunakan jari-jari lentiknya.


"Tuan nggak cinta sama Clara?"


"banget! gue nggak cinta, gue nggak suka, gue benci, tapi gue terpaksa menjalin hubungan dengan Clara karena perusahaan gue berdiri dengan bantuan orang tua Clara, dengan imbalan gue harus jadi pacarnya dan menikah dengan Clara suatu hari nanti "


jelas Raga apa adanya, kepalanya berada di atas pangkuan Aliza, tangannya sudah masuk ke dalam baju yang di kenakan Aliza.


"akh, tuan... geli" pekik Aliza saat Raga sengaja menggelitik perutnya, niat raga ingin mengajak anaknya bercanda, tapi justru berakibat geli pada Aliza. Raga tersenyum melihat respon menggemaskan aliza.


"jangan di gelitik, geli"


"iya iya, maaf"


"tuan!"


"hm"


"tuan kan menerima konsekuensi dari apa yang tuan putuskan, tuan menerima Clara dan menjalin hubungan, terus kenapa tuan tidak belajar untuk mencintainya juga?"


"iya! gue menerima konsekuensi dari keputusan gue, gue menjalin hubungan dengannya karena di awali dengan keterpaksaan, gue sempat berpikir... mungkin suatu hari nanti gue bisa menerima Clara di hidup gue, bertahun-tahun gue menjalaninya... tapi sampai sekarang gue nggak bisa cinta, gue nggak bisa terima dia di hidup gue, tapi..." Raga mendongak menatap Aliza yang juga menatap Nya


"tapi berbeda dengan Lo"


"saya " Belo Aliza


"iya! gue selalu memberikan kelemahan lembutan pada Clara, berpura-pura mencintainya, tapi rasa itu tak kunjung datang, tapi dengan Lo... gue benci Lo, gue menikahi Lo dengan alasan ingin membalas dendam, gue siksa Lo setiap hari, sampai akhirnya gue menyadari kalau hati gue mulai condong dengan Lo" Aliza menghentikan usapannya, raga mengeluarkan tangannya dari dalam baju Aliza, raga letakkan tangan besarnya di pipi Aliza.


"gue sayang sama Lo za"


deg!!!

__ADS_1


"gue cinta sama Lo, bukan karena Lo hamil, gue cinta Lo sudah lama, sejak pertama kali gue lihat Lo di sekolah"


....


"Ayah Lo ada di bawah, Lo mau ketemu " Aliza yang duduk membelakangi Raga menggeleng.


"ya udah, Lo di sini, gue ke bawah dulu"


saat pintu tertutup barulah Aliza membalik badannya, nafasnya tersengal-sengal akibat sesaknya perasaan di dada.


"aa--yah, Liza kangen ayah" lirih Liza


"*JANGAN PERNAH TUNJUKAN WAJAH MU LAGI DI HADAPAN SAYA, SAYA SANGAT MEMBENCIMU.... ANAK PEMBAWA SIAL "


"Liza janji, Liza janji nggak akan menunjukkan wajah Liza lagi di hadapan ayah, Liza janji ayah... tapi ayah juga harus janji dengan Liza, berjanjilah untuk hidup bahagia, bahagianya ayah juga bahagianya Liza, jika kepergian Liza dari hidup ayah bisa membuat ayah bahagia dan bangkit lagi, Liza akan pergi untuk selamanya dari hidup ayah... jaga diri baik-baik yah, Liza sayang ayah, selamanya* "


air matanya tumpah saat Aliza menutup mata.


"saya ingin ketemu anak saya" langsung Sadewa berucap.


"Aliza ngga mau ketemu anda" Raga memberikan tatapan dingin pada Sadewa.


"anda menyiksa anak saya, anda jadikan anak saya pembantu di rumah suaminya, anda memukuli anak saya?" tanya Sadewa dengan penuh penekanan, masih ia coba menahan emosi di jiwa. raga duduk bersandar dengan angkuhnya, tangan nya terlipat di depan dada.


"di minum dulu, sepertinya anda perlu air untuk menenangkan diri" raga geser gelas agar dekat ke arah Sadewa


brak!!!


Sadewa menggebrak meja, kesabarannya habis, Raga hanya menyungging kan senyum.


"tenang dulu... bapak Sadewa Kusuma yang terhormat, anak bapa... istri saya itu baik-baik aja"

__ADS_1


"SAYA BAHKAN TIDAK PERNAH MELAYANGKAN TANGAN PADA ALIZA, DAN ANDA ORANG BARU BERANINYA BERBUAT SEKASAR ITU PADA PUTRI SAYA"


raga tertawa terbahak-bahak, Bahkan air putih yang tidak di sentuh Sadewa ia tegak hingga tandas. semakin geram lah Sadewa melihat kelakukan raga yang kurang ajar, Sadewa mendekat dan mencengkram kerah baju Raga, raga tidak melawan, ia biarkan Sadewa , raga turunkan perlahan tangan Sadewa dari kerah bajunya.


"tenang pak, ingat... ini rumah saya, bukan rumah bapak " Raga bersuara pelan di buat-buat, raga rapikan bajunya yang sedikit berantakan.


"duduk pak, duduk, Kita bicarakan dengan santai " raga duduk kembali, tapi tidak dengan Sadewa, dengan tangan terkepal, Sadewa menatap tajam menantunya.


"Hah" Raga menghembuskan nafas panjang.


"anda benar sekali, saya memukuli anak anda, saya tarik rambutnya dengan kedua tangan saya, saya tampar, saya tidak memberikannya makan selain dari sisa yang saya makan, bahkan saya memintanya untuk tidur di luar, dan ya... saya meniduri anak bapak dengan paksa sampai akhirnya Aliza mengandung anak saya" ucap raga dengan santainya.


"BAJINGAAAAAN" raga sempat menghindar saat gelas bening yang terbuat dari kaca melayang di udara.


"UPS, hampir aja anak saya jadi yatim, hahahaha"


"saya belum selesai ngomong loh pak, main lempar-lempar aja... semua itu saya lakukan atas persetujuan Bapak, Bapak kan yang suka rela memberikan putri cantik bapak pada manusia bajingan ini, hm... iya kan pak..." Sadewa bergeming


"dah bapak juga sudah tanda tangani surat perjanjiannya kan, UPS dan ya... satu lagi pak, saya cuman mau bilang, perlakukan saya itu tidak ada apa-apanya di bandingkan dengan apa yang bapak lakukan pada istri saya, bapak menjual anak bapak sendiri pada saya, bapak usir istri saya dari hidup bapak, Bapak adalah ayah yang sangat istri saya sayangi, sakit hati istri saya dengan kelakuan saya padanya tidak ada apa-apanya di bandingkan dengan sakit hati di jual ayah sendiri, ayah yang begitu iya sayangi " raga berdiri dan melangkah mendekat ke arah Sadewa, raga rapikan kerah baju Sadewa yang berantakan.


"sudah, bapak tenang aja, nggak usah khawatir, ada saya yang akan menjaganya, Bapak urus saja perusahaan bapak yang sedang berkembang pesat itu, dan ya, jangan pernah datang lagi menemui istri saya... bukan istri saya nggak mau ketemu ayahnya, cumaaan... kan bapak sendiri yang Minta agar istri saya menjauhi bapak, iya kan ayah mertua" Sadewa tidak bisa mengatakan apapun, raga melangkah melewatinya, raga berdiri di depan pintunya


"pintu rumah saya terbuka lebar untuk bapak sekarang, silahkan angkat kaki bapak dari rumah saya"


"alizaa, putri ku..." lirih Sadewa dengan mata berkaca-kaca.


"apa yang telah ku lakukan pada anak ku"


flashback on


sejak kedatangan Inayah dan zidan waktu itu, membuat Sadewa teringat dengan wajah putrinya saat pertama kali ia bertemu, Aliza dengan pakaian lusuh kebesaran, wajahnya sayu, badannya kurus , sudut bibirnya masih terdapat luka sobek di kedua sisinya, pelipisnya juga terdapat luka, bagian pipi sebelah kirinya pun terdapat kebiruan yang mulai memudar, di tambah dengan bercak merah di bola mata Aliza, tangan sadewa bergetar membayangkan hal buruk yang terjadi pada putrinya di rumah Raga, hari itu juga ia meminta alamat rumput raga dari sahabatnya untuk memastikan putrinya baik-baik saja.

__ADS_1


__ADS_2