
"Lo harus bantu gue?"
"apapun itu, kamu tenang aja, aku bakal lakukan apapun untuk kamu, sayang..." Clara memutar matanya jengah.
"Lo cukup ikutin aja apa kata gue, jangan lakukan apapun selain dari yang gue perintahkan"
"iya... bawel"
cup!!
clara menghapus jejak kecupan dari pria bertopi hitam di depannya.
"lo gila, nggak liat tempat, hah" kesal Clara, pria itu tertawa miring
"kalau gitu... kita ke apartemen ku aja" tangan Clara sudah di tarik, mau tidak mau, wanita yang sedang berbadan dua itu mengikutinya.
....
"Gue yakin, cewek yang sudah mengancam Karina... ada hubungannya dengan kematian Karina" zidan mengembalikan ponsel Inayah, zidan menghela nafas kasar, ia sandarkan punggungnya di kursi, pria itu menatap Inayah, baru saja ia selesai membaca isi pesan Karina untuk aliza.
"lo mencurigai seseorang?" tanya Inayah
"gue belum yakin"
"siapa? siapa orangnya zidan " Inayah mendesak zidan, ia goyang-goyang kan lengan pria itu yang berada di atas meja
"Clara " Inayah berhenti mengguncang lengan zidan
"Clara?" Zidan mengangguk
"gue Belum punya bukti kuat untuk menuduh Clara lah yang berada di balik kematian Karina, tapi... jika memang Clara orangnya, maka...
"Aliza berada dalam bahaya" ucap Inayah dan zidan bersamaan.
__ADS_1
"lakukan sesuatu zi, lakukan sesuatu, gue nggak mau Aliza bernasib sama seperti Karina, gue mohon zi, gue mohon"
"kita nggak bisa datang terus bawa Aliza pergi gitu aja ayaa..., Lo tau akan Raga gimana"
"terus kita harus apa zi, jika memang Clara dalang di balik Semua kekacauan ini, itu berarti sahabat gue dalam bahaya" jerit Inayah
"gue tau Lo takut, gue pun sama, tapi Lo tenang dulu, jangan gegabah, dengerin gue dulu" Inayah tidak bisa menahan dirinya, sahabatnya dalam bahaya, setiap waktu nyawa Aliza terancam. Zidan menghapus air mata Inayah. tatapan Pria itu begitu dalam pada Inayah.
"tenang... Aliza pasti baik-baik aja, kita akan segera menjemput Aliza" zidan berusaha menenangkan inayah dengan senyumnya.
"pertama... kita harus kumpulkan bukti tentang keterlibatan Clara di balik kematian karina, setelah itu kita temui Raga dan ceritakan semuanya"
"kenapa harus raga, kita bisa langsung temui polisi untuk menangkap penjahat itu" Clara menurunkan tangan zidan dari wajahnya.
"nggak segampang itu, ayaa, Clara bukan wanita sembarangan, gue tau betul wataknya, Clara bisa menghalalkan segala cara untuk menjerat raga, Clara dan orang tuanya punya kuasa, kita harus buat Raga berada dalam pihak kita dulu"
"satu fakta yang Lo harus tau... raga mencintai Aliza, jauh sebelum Raga menjalin hubungan dengan Karina " Inayah mengerutkan keningnya, fakta apa ini, fakta gila apa lagi yang ia dengar, kenapa semuanya penuh dengan teka teki silang.
"maksut Lo?"
"tunggu, tunggu, gue nggak ngerti, gue nggak bisa mencerna semuanya, kepala gue sakit, Raga mencintai Aliza, dan Karina Hanya di jadikan pelarian saja?" Zidan mengangguk
"makanya, Lo diam dulu, dengerin gue, ok" Inayah mengangguk
"Gue, raga, Rendy, Clara, bersahabat dari kecil, walaupun Clara berada di sekolah yang berbeda, tapi... gue sama Rendy tau betul, kalau raga mencintai Aliza, raga suka sama Aliza, gue pun kaget Kenapa tiba-tiba raga justru memacari Karina, bukan Aliza, gue tau raga bukanlah pria brengsek yang suka mempermainkan wanita, tapi... jika raga sudah merasakan sakit hati, raga nggak akan segan-segan melakukan hal yang nggak pernah orang lain pikirkan"
"jadi maksut Lo... raga membenci Aliza dan berpura-pura mencinta Karina " zidan mengangguk
"Gue nggak tau kenapa raga Tiba-tiba membenci Aliza, tapi yang gue tau, perlahan Raga mulai mencintai Karina dengan tulis dan melupakan Aliza"
"ini terlalu rumit zi, gue nggak bisa mencerna semuanya "
"ok, kita bisa lanjutkan Nanti, karena perlahan Semuanya akan terbuka dengan sendirinya, yang perlu kita lakukan sekarang adalah mencari bukti kejahatan Clara" Inayah Mengangguk, sepertinya ini jauh lebih baik ketimbang mendengar kisah cinta Rumit di antara raga, Aliza, Karina dan Clara.
__ADS_1
flashback on
"ga, bukan nya Lo suka sama Aliza ya,ko tiba-tiba jadian sama sahabatnya " tanya zidan pada Raga yang sama sekali tidak menunjukkan raut bahagia.
"Aliza perempuan paling brengsek yang pernah gue kenal, argghhh, bangsat Lo Aliza, bangsat " umpatan demi umpatan terlontar dari mulut raga untuk wanita yang begitu ia dambakan bisa menjadi kekasihnya.
"kenapa? Aliza punya pacar?" tanya zidan takut, bukannya menjawab, Raga justru pergi meninggalkan zidan yang kebingungan dengan kelakukan nya.
flashback off
Di rumah besarnya, Sadewa Duduk merenung menatap bingkai foto besar keluarga bahagianya beberapa tahun lalu, Sadewa, Rania dan Aliza. satu-satunya foto yang tertinggal, semua foto keluarga di mana ada Aliza di dalamnya sudah Sadewa singkirkan masuk ke dalam gudang, mungkin ini pun akan berakhir di tempat yang sama.
"Semuanya hancur, keluarga bahagia yang kita impikan telah hancur, Rania..." bulir bening jatuh membasahi punggung tangan yang berada di pangkuan.
"rumah bahagia yang menjadi cita-cita kita sudah hilang berganti kepahitan, kepergian mu belum bisa aku relakan, sayang..."
"mas..." tangan lembut wanita menyentuh pundaknya, Sadewa mengenali suara lembut juga sentuhan hangatnya.
"ra--rania" Sadewa bergegas berdiri
"Rania, ini kamu... sayang" sang istri tersenyum dan mengangguk, Rania rentangkan tangan meminta suami tercinta masuk kepelukan nya.
"Rania..."
"mas... kenapa begini, ini bukan mas Sadewa yang aku kenal, mas Sadewa begitu menyayangi Putrinya, mas Sadewa tidak akan pernah membiarkan putrinya menangis apalagi menderita"
"sayang, anak itu yang menjadi penyebab kematian kamu, Aku lebih menyayangi kamu daripada anak pembawa sial, aku lebih rela anak itu mati di bandingkan kamu" lirih Sadewa, Rania melepaskan pelukannya, senyumannya tidak luntur sama sekali, Rania tatap suami tercinta begini dalam.
"mas, ini takdir, takdir ku dan takdir kita, kematian ku tidak ada hubungannya dengan sakitnya anak kita, anak kita pun sama terlukanya sementara kamu, bawa anak kita mas, temui dia, peluk dia, Aliza kita butuh ayahnya, anak kita sakit mas, anak kita butuh usapan hangat kamu di kepalanya, terimalah takdir kita, suatu hari nanti kita akan kembali bertemu di tempat yang paling indah " Sadewa menggeleng saat perlahan Rania mulai menghilang di balik cahaya putih.
"Rania, Rania jangan pergi Rania"
"RANIAAAA" Sadewa kesulitan mengatur nafasnya, mimpi yang baru saja ia alami terlihat begitu nyata.
__ADS_1
"Rania... Aku bermimpi " Sadewa pandangi lagi bingkai foto besar yang sudah robek, sebelum tertidur Sadewa merobek bagian Aliza Di dalam bingka foto itu dan Hanya menyisakan ia dan Rania saja.
*" Anak kita sakit, mas... Aliza butuh ayahnya, jemput anak kita mas, temui dia, relakan kepergian ku,mas"