Di Nikahi Untuk Balas Dendam

Di Nikahi Untuk Balas Dendam
pesa Aliza untuk ayah


__ADS_3

Clara berlari kecil menyambut kedatangan Raga, tapi Raga tidak sekalipun menghiraukan kehadirannya, Raga melirik wanita hamil yang lain di belakang.


"Sini tasnya, aku bawa"


"Ra---" ucapan Clara terpotong karena Raga sudah lebih dulu menjauh dari hadapannya, Clara remas kuat tas kerja milik raga, Raga tanpa ragu mencium kening Aliza Di hadapan Clara, Raga rangkul pinggang Aliza masuk ke dalam kamarnya.


"Lo bisa nikmati kebahagiaan Lo, Aliza, tapi besok... Lo akan rasain sakitnya jadi gue, tunggu aja" Clara menyeringai, tas di genggaman ia lempar ke atas kursi.


....


"Hampir setiap hari dalam satu Minggu ini, Rania selalu datang ke mimpi ku, Rania selalu minta aku menjemput anak pembawa Sial itu, ada apa dengannya" Ponsel jadul yang sudah lama Sadewa abaikan kini berada di depannya, sengaja Sadewa abaikan karena muak selalu mendapat pesan dari Aliza.


Tombol kecil di bagian sisi kirinya Sadewa tekan cukup lama, tulisan welcome di bagian layarnya menandakan jika ponsel itu hidup. saat saluran data tersambung, semua notifikasi yang selama ini terkirim secara beruntun masuk kedalam ponselnya, satu notifikasi pesan yang mencuri perhatiannya adalah notifikasi dari sang putri. entah berapa banyak notifikasi yang Aliza kirimkan untuk Sadewa, pesan yang tidak sekalipun Sadewa hiraukan. pesan itu di kirimkan Aliza sejak pertama kali ia dibawa Raga pindah kerumahnya.


*"ayah... tolong Liza ayah, Liza nggak mau di sini, Liza takut ayah..."


*ayaah, tolong lizaaa, bawa Liza pulang Sama ayah, Liza nggak mau tinggal dengan Raga, tolong ayah..."


"ayah apa kabar, Liza kangen ayah, ayah sehat aja kan di sana, jangan telat makan ayah, ayah nggak bisa kena angin malam terlalu lama, habis pulang sholat langsung pulang ya, ayah, Liza sayang ayah"


"ayah... Liza sakit, Liza mau di usap kepalanya sama ayah"


"ayah, mereka jahat sama Liza, mereka jahat ayah,"


"ayah, Liza kangen ayah, Liza mau ketemu ayah..."

__ADS_1


"BERHENTI MENGIRIMI SAYA PESAN SAMPAH ITU, SAYA MUAK MELIHATNYA" tangan Sadewa terhenti pada pesan kasar yang ia berikan pada sang putri, kembali Sadewa lanjutkan membaca pesan selanjutnya.


"maaf Ayah... Liza cuman mau dengar suara ayah, Liza kangen ayah"


"ayah, ko nomornya sudah nggak aktif, ayah ganti kartu?"


"ayah, sudah satu bulan Aliza tinggalin ayah, Liza kangen Banget sama ayah, Liza tau ayah marah sama Liza, tapi Liza juga yakin kalau ayah nggak akan pernah benci sama Liza, ayah hanya kecewa dan marah, ibu selalu bilang untuk nggak ngomong dulu sama ayah kalau ayah lagi marah, tunggu marahnya ayah reda, tapi ini ko kelamaan ya, yah"


"ayah, hari ini ulang tahun Aliza, nggak ada yang ngucapin ke Aliza, boleh nggak di ulang tahun Aliza ini, Aliza pengen ketemu ayah, Aliza pengen peluk ayah, sekali aja"


"ayah... maaf ya kalau Liza bikin ayah khawatir sama pesan-pesan yang Aliza kirimkan, Aliza salah ayah, Aliza Hanya belum terbiasa, raga baik ko sama Aliza, Aliza nya aja yang nggak sabaran, hehehe"


"SAYA TIDAK PEDULI, MAU KAMU MENDERITA PUN, SAYA TIDAK PEDULI SAMA SEKALI, MATI PUN SAYA TIDAK PEDULI"


"ayah, bisa ayah menjadi raja baik hati lagi untuk tuan putri, walaupun hanya pura-pura saja?"


"sepertinya nomor ayah benar-benar sudah nggak aktif lagi, ayah kesal ya, Liza kirim pesan terus, maaf ya ayah"


"ayah, walaupun nomor ini sudah nggak aktif lagi, Liza masih suka kirim pesan ke sini, sambil menghayal kalau ayah ada di depan Liza, dengerinnya semuanya curhatan Liza, sambil siap kepala Liza "


"ayah... untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Liza ketemu Inayah, Liza senang sekali, Inayah juga terakhir Liza makan"


"ayah, hari ini hari terberat Liza hidup di dunia, Liza bohong jika selama ini Liza baik-baik aja tinggal bersama Raga, ayah tau... hari ini Liza hampir di perkosa di rumah suami Liza sendiri, bahkan suami Liza sendiri yang Minta orang bejat itu menyentuh Liza, putri ayah yang selalu di jaga sudah di sentuh orang" Sadewa mengepal erat kedua tangannya, wajahnya masih datar sampai pesan itu ia baca, Sadewa lanjutkan lagi membacanya.


"ayah... ayah tau apa yang terjadi dengan Liza hari ini, Liza Nggak bisa lagi mengungkapkan semua rasa sakit yang Liza rasain, yah, Liza nggak tau di bagian tubuh Liza yang mana yang perlu obat, lagi-lagi Liza di lecehkan ayah.." Sadewa tidak sanggup membaca saat kalimat di lecehkan kembali ia baca.

__ADS_1


"a--nak itu di lecehkan di rumah suaminya sendiri" monolog Sadewa.


"pu--putri yang selalu ku jaga, di rendahkan di hadapan suaminya sendiri?"


"Kau apa kan putri ku, Raga" gigi gigi Sadewa bergesekan di daerah sana , Matanya menyorot tajam.


satu pesan Suara tidak sengaja terputar, suara lirih Aliza terdengar pilu di pendengaran.


"ayah... maafkan Liza, tangan biadab Berbeda kembali menyentuh Liza, tangan biadab itu mencoba merenggut sesuatu yang berharga di hidup Liza, sesuatu yang seharusnya menjadi milik suami Liza, ayah, tapi Liza tau... Raga nggak akan mau mengambilnya, di dalam hati raga Hanya ada kebencian untuk Liza, hari ini Liza benar-benar lelah dengan semuanya, Liza hampir menyerah dengan hidup Liza, tangan kiri Aliza luka di bagian pergelangannya, Liza hampir aja mengakhiri hidup Liza, yah, semuanya terlalu berat untuk Liza tanggung sendiri, Liza bodoh ya ayah, Liza selalu hidup enak, Liza nggak pernah kesusahan dalam hidup, semua yang Liza lakukan di permudah, masa sih Liza baru di kasih cobaan kaya gini... mau menyerah"


"Ayah, mungkin ini pesan terakhir yang bisa Liza kirimkan untuk ayah, Liza nggak punya pulsa lagi ayah, Liza ngga bisa keluar dari penjara mewah ini, hiduplah dengan baik ayah ku tercinta, Liza akan selalu menyayangi ayah, semoga Liza masih di berikan kesempatan untuk memeluk ayah, tuan putri sayang ayah, selamanya" tangan Sadewa bergetar saat seluruh pesan dari Aliza selesai ia baca, Bahkan genggaman Nya tidak sanggup lagi menyentuh ponsel berwarna hitam pekat itu


Pesan terakhir yang Aliza kirimkan berhenti sampai di situ, tidak ada lagi pesan yang masuk.


"a--apa yang sudah putri ku lalui di rumah suaminya" ucap Sadewa dengan suara bergetar.


"putri ku menderita?"


"apa ini sebabnya Rania selalu datang ke mimpiku, Rania memintaku menjemput Aliza" Sadewa berdiri dari duduknya, ia raih kunci mobil yang berada di atas meja, jaket kulit Sadewa pasang di tubuhnya.


....


"Kamu harus lihat ini ga"


"jangan ganggu deh, aku lagi kerja"

__ADS_1


"kamu harus lihat raga, pembantu kamu itu selingkuh"


__ADS_2