
Dengan tenang Aliza tidur di pelukan Raga. Raga tidak sekalipun melepaskan pelukannya dari sang istri, bahkan satu tangannya terus mengusap kepala Aliza, usapannya begitu tulus.
Raga longgarkan pelukannya, ia tatap begitu dalam wajah teduh yang tenang di dalam tidurnya, Raga bubuhkan ciumannya di bibir ranum sang istri.
"Maaf" ucap Raga begitu tulus.
"RAGAAAAA"
"RAGAAAAA" teriakan itu Raga tau siapa pemiliknya, ia rapikan dulu selimut Aliza sebelum turun menemui tamu kurang ajarnya
saat pintu di buka, Raga mendapatkan tamparan dari wanita yang akan ia nikahi satu bulan lagi, mata wanita itu menatap tajam kekasihnya.
"Ada apa dengan mu Clara, kamu datang marah-marah dan nampar aku, kamu gila" teriak Raga di depan wajah wanita itu.
"KAMU YANG GILA, KAMU YANG BRENGSEK" Clara mendorong dada Raga karena menghalangi jalannya, Clara melangkah dengan besar mencari seseorang.
"WOOY CEWEK KAMPUNG, DI MANA LO BANGSAT, BERANINYA LO MAIN-MAIN DENGAN CLARA, HAH" teriak Clara yang terdengar di seluruh penjuru ruangan di rumah Raga, Raga menarik pergelangan tangan Clara saat wanita itu ingin naik ke lantai dua.
"lepas" Raga tidak melepas, ia seret wanita itu keluar lagi dari rumahnya.
"Raga, lepasin, aku mau ketemu perempuan itu"
brak!!!!
pintu di tutup Raga dari luar.
"ingat perjanjian kita, selama satu bulan Jangan Pernah datang menemui ku, aku ingin hidup tenang sebelum kita menikah" ucap Raga penuh penekanan di depan wajah Clara.
"aku masih ingat Raga, aku datang ke sini butuh penjelasan kamu, kenapa? kenapa kamu nikahi pembantu sialan itu, KENAPA... kau hanya milikku Raga, hanya milik Clara Octavia" jerit Clara tak tertahan.
"aku ingin menikah dengan siapapun itu adalah hak ku, hak ku untuk melakukan apapun yang aku mau, kalau kamu tidak terima, silahkan pergi, batalkan pernikahan kita" ucap Raga dengan serius, Clara menggeleng, ia peluk Raga.
__ADS_1
"jangan ngomong gitu, aku nggak bisa nggak ada kamu ga, aku sayang kamu ga, aku nggak bisa hidup tanpa kamu, Aku akan terima wanita murahan itu, tapi hati kamu hanya untuk ku selamanya " Raga tidak sedikitpun membalas pelukan Clara, ingin sekali ia dorong wanita di depannya agar menjauh, tapi Raga tidak ingin membuat keluarganya terancam karena tindakannya itu.
"sekarang kamu bisa pulang, aku ingin istirahat, dan jangan datang lagi sebelum tanggal pernikahan kita" Clara mengangguk, Clara melepaskan pelukannya, ia sedikit berjinjit untuk bisa mencium bibir Raga.
"kalau gitu aku pulang dulu ya sayang, sebentar lagi kita akan menjadi satu, aku nggak sabar kamu jadi suamiku, aku nggak sabar setiap hari liat wajah kamu, tidur di samping kamu, di peluk kamu " ucap Clara dengan manjanya, Raga membuka pintu.
"pulanglah aku ingin istirahat"
Brak!!! Raga kembali menutup pintu depan kasar, Clara Masih berdiri di depan rumah Raga, ke-dua tangan nya terkepal erat, Matanya menyorotkan kebencian.
"Raga hanya milik gue, MILIK GUE"
.....
Malam harinya, Aliza menyiapkan makan malam seperti biasa, tapi tidak terlalu banyak yang ia masak, Hanya menggoreng ayam dan membuat sambal saja, Raga turun menghampiri Aliza yang ada di dapur dengan rambut yang masih setengah basah.
Raga Menyunggingkan senyum melihat Aliza yang sedang mengulek sambal membelakanginya, Raga letakkan handuk di punggung kursi, ia berjalan mendekati Aliza. kini Raga sudah berada tepat di belakang Aliza.
"masak apa?" suara Raga sungguh mengagetkan Aliza.
"awhh" Raga melepaskan pelukannya, ia pegangi mata yang tanpa sengaja terkena percikan sambel yang sedang di ulek Aliza, Aliza ikut kaget saat Raga mengerang kepedasan, Aliza berbalik menangkup wajah Raga dengan kedua tangannya.
"ma--maaf tuan maaf, pasti pedas" Aliza celengak celenguk mencari sesuatu yang bisa meredakan pedas di mata Raga.
"jangan di kucek, nanti tambah perih' Aliza menghidupkan keran, ia ambil piring dan di isi dengan air, aliza arahkan wajah Raga ke atas piring yang berisi air tersebut, perlahan Aliza turun kan tangan raga.
"tuan buka matanya, biar kena airnya" Raga menurut, meskipun kesulitan Karena rasa perihnya sudah menyebar, Raga kedip kan matanya berkali-kali sampai berkurang rasa perihnya. Aliza menunggu dengan kawatir. merasa sudah membaik Raga mengangkat wajahnya, matanya sudah mendingan walaupun masih merah.
"tuan, gimana, masih perih?"
"sudah mendingan"
__ADS_1
"Alhamdulillah" Aliza arahkan tangan Nya tanpa sadar ke wajah Raga, ia usap air di daerah mata dan sekitarnya, Raga menatap dalam wajah sayu Aliza, tangan Aliza yang ada di wajahnya ia genggam, Aliza baru sadar seharusnya ia tidak melakukan hal itu, Aliza ingin menarik tangannya tapi Raga tidak sama sekali melepaskan genggaman tangannya, Raga tidak mengalihkan pandangannya.
"maaf, saya lancang" ucap Aliza takut, Raga semakin merasa bersalah, ia tarik Aliza masuk kedalam pelukannya. Aliza jelas kaget dengan hal itu, Raga tidak mengatakan apapun, Hanya matanya saja yang berkaca-kaca, mungkin karena merasa bersalah pada istrinya, atau rasa perih akibat terkena percikan sambel masih terasa, Raga tidak tau itu.
....
"Lo harus makan yang banyak" Raga sendiri yang menambahkan nasi ke piring Aliza.
"tuan, saya nggak bisa makan banyak" keluh Aliza
"bisa, gue yang suapin" Aliza membolakan Matanya, tapi ternyata Raga tidak main-main dengan ucapannya, Raga menarik kursinya agar lebih dekat dengan Aliza, dengan tangan nya sendiri tanpa bantuan sendok.
"apa, buka mulut Lo"
"tuan, saya bisa sendiri" Raga menggeleng dan memasang wajah dingin, jika sudah seperti ini Aliza tidak bisa menolak, Aliza menurut dan membiarkan Raga menyuapinya, secara bergantian Raga menyuapi Aliza dan dirinya sendiri, entah kenapa Aliza rasakan perbedaan dengan suapan Raga, rasa makannya seperti berubah, entahlah atau hanya perasaannya saja ,yang pasti Aliza bisa menikmati makanannya dengan tenang. suapan terakhir untuk Raga.
"masih mau?" tanya Raga mendapatkan gelengan dari Aliza.
"minum" walaupun cara bicara dan nada bicaranya masih dingin dan Kaku, Aliza tetap bisa rasakan ketulusan Pria itu untuknya.
baru juga menyelesaikan makan malam nya, Aliza sudah merasakan mual lagi, perutnya seakan di kocok di dalam sana, ayam goreng dan nasi yang tadi ia makan di paksa untuk dikeluarkan kembali. Aliza tutup mulutnya rapat, ia berlari kecil menunju wastafel dan memuntahkan kembali makanannya.
uekk
ukkk
ukkk
Raga mengusap punggung Aliza, dengan sabar menunggu Aliza menyelesaikan muntahnya. setelah Aliza berhenti muntah, Raga tuntun Aliza untuk kembali duduk di kursi, ia berikan air untuk menghilangkan rasa pahit di mulutnya.
"Lo baru aja makan terus di muntahin lagi, za"
__ADS_1
"tuan!!"
"hm" Aliza tidak tahan memendam keinginannya, sudah dari kemarin Aliza menginginkan hal itu, Aliza tidak ingin tidak tau diri, hanya karena mendapatkan sedikit perhatian dari Raga, tapi Aliza akan gelisah jika tidak mendapatkan apa yang ia inginkan itu