Di Nikahi Untuk Balas Dendam

Di Nikahi Untuk Balas Dendam
Masalalu bersama orang tua tercinta


__ADS_3

"Ayah..." Aliza kecil berlari riang menghampiri Sadewa, Sadewa merendahkan tubuhnya dengan tangan membentang, Sadewa dekap tubuh kecil putri semata wayangnya dalam gendongan.


"kenapa lari-lari sih nak, jadi keringatan gini" Omel Sadewa dengan tangan mengusap peluh yang membasahi wajah Aliza. Gadis kecil itu hanya tertawa, menampakkan deretan gigi susunya yang putih rapi.


"Loh, malah ketawa" Sadewa menunduk sopan Saat melalui beberapa guru sembari membalas senyum para guru yang ia lewati di lorong jalan.


"habis ayah lucu banget kalo marah, Liza jadi gemas" Aliza menarik gemas pipi Sadewa, jari-jari mungilnya tertusuk rambut di bagian wajah Sadewa yang mulai tumbuh.


"bisa aja kamu bikin ayah nggak jadi marah" Aliza menciumi pipi ayahnya, Sadewa hanya bisa tersenyum geli melihat tingkah anak tunggalnya.


"ibu mana, yah"


"di rumah sakit, nak"


...


"Ibu Lombok nya mana?"


"mau sakit perut lagi, heum" aliza mengerucutkan bibirnya, terlihat begitu gemas


"nggak mempan, nggak ada makan sambel agi, aaa... buka mulutnya " Aliza menolak, ia buang pandangannya ke arah lain. Rania menghela nafas panjang, anak tunggalnya yang sudah duduk di bangku SMP itu sangat susah kalau sudah urusan makan, Aliza akan makan lahap jika sudah ada sambal nya, tapi Aliza pernah masuk rumah sakit karena perutnya yang tidak tahan makan pedas


"ayo nak, makan ya sayang" Aliza menggeleng dengan tangan terlipat didepan dada.


"nggak mau"


"Liza mau apa, nanti Kita telpon ayah buat mampir beliin" bujuk Rania


"Aliza mau makan itu tapi ada sambal nya" rengek Aliza dengan mata yang sudah berkaca-kaca.


"nanti perutnya sakit lagi loh nak..."


"makan yang lain aja ya" Rania benar-benar prustasi di buat nya, Aliza duduk menjauh di bagian ujung sofa, selang beberapa menit, Sadewa pulang, Rania sambut kedatangan suaminya, Sadewa melirik Aliza yang tidak bergerak sama sekali dari tempatnya. Sadewa memberikan kode mata pada Rania.


"biasa yah, susah banget buat makan, mau makan sambel" tas yang di bawa Sadewa di ambil alih Rania, Sadewa dekati putrinya yang bermuka masam dengan sekotak kue coklat kesukaan Aliza.


"tuan putri ayah kenapa?" Sadewa ingin menyentuh putrinya, tapi lebih dulu Aliza bergeser menjauh.


"nggak boleh makan Lombok nak, perut Liza nggak kuat, nanti ibu sedih, mau?"


"Aliza cuman mau makan sedikit ayah, nggak banyak"


"Dari pada makan Lombok, mending makan ini tadaaa!" Aliza menoleh, senyumnya kembali mengembang, ia dekati Sadewa dan merebut kontak kue coklat yang sudah ia hapal bentuknya.


"Buta Liza?" tanya Aliza antusias, Sadewa mengangguk dengan tangan mengusap kepala anaknya.


"makasih ayah" Aliza letakkan kontaknya dan beralih kepelukan Sadewa.


"Sadewa dan Rania saling melempar senyum" keduanya bisa kembali bernafas lega setelah Aliza menghabiskan nasinya.


...


"Kenapa nih tuan putri senyum-senyum sendiri" Sadewa dan Rania bergabung dengan putrinya di ruang tengah, Sadewa merangkul bahu Rania, Mereka benar-benar penasaran ada apa dengan putri kesayangan, sejak pulang sekolah terus saja tersenyum lebar. Sekarang aliza sudah duduk di bangku SMA.

__ADS_1


Aliza berpindah duduk di tengah-tengah Antara orang tuanya, Aliza tidak bisa menyembunyikan apapun dari orang tuanya.


"ayah ibu, di sekolah Liza ada Kaka kelas yang baiiiiik Banget" Sadewa dan Rania saling pandang.


"baik?" Aliza mengangguk


"iya ibu, sudah baik, ganteng, pintar, ketua OSIS, wahhhhh, Aliza suka banget" Aliza benar-benar terlihat antusias menceritakan sosok Kaka kelas idamannya.


"siapa namanya?"


"Raga Argantara" Aliza menoleh pada Sadewa, Sadewa me Noel hidung mancung juga kecil Aliza.


"hey, nggak boleh cinta cinta, nggak boleh pacar pacar" Sadewa memeringati


"siapa juga yang mau pacaran, Liza cuman kagum ayah" Rania menyunggingkan senyum , tidak percaya anak nya sudah sebesar itu, sudah bisa menaruh hati dengan lawan jenis.


"Kalau Aliza sudah lulus sekolah boleh nikah nggak Bu yah" Aliza menatap ayah ibunya secara bergantian, keduanya menggeleng.


"Anak ibu harus sekolah dulu, kuliah... jadi dokter hebat" ucap Rania


"nanti... siapa yang berani mendekati putra ayah harus masuk tahap seleksi dulu, ayah nggak mau putri ayah ketemu sama laki-laki yang nggak baik, putri ayah yang cantik pintar ini... harus dapat suami yang Sholeh, baik, pintar, perhatian, bertanggung jawab"


"kaya gitu mah cuman ada di novel-novel romantis yang sering Aliza baca ayah" Aliza berdiri, ia kemudian menoleh sesaat menghadap ke-dua orang tuanya


"Di dunia nyata mah Nggak ada" Aliza melebarkan senyum dan masuk ke dalam kamarnya.


"siapa bilang nggak ada! ada" balas Sadewa " kedua nya tertawa puas.


Plak!!!


"a--yah, maaf" Aliza terisak pilu.


"arggh" Sadewa menendang kursi plastik hingga salah satu ujungnya mengenai punggung Aliza, aliza meringis menahan sakit.


"Akhh"


"a--ayah..." lirih aliza pilu, Sadewa masuk ke dalam kamar Dan membanting pintu. Aliza menangis sejadi-jadinya, sang ibu baru satu hari di makamkan, baru satu hari Aliza kehilangan sosok Rania, tapi sekarang Sadewa pun seperti ikut menghilang, bukan raganya yang menghilang, tapi kasih sayangnya, cintanya untuk Aliza ikut terkubur bersama istri tercinta.


...


"Ayah buka pintunya ayah... di sini dingin ayah..." Aliza mengetuk-ngetuk pintu, tapi nihil, Sadewa yang ada di dalam memilih menulikan pendengarannya.


"Ayah... maaf..."Aliza menghapus air matanya dengan punggung tangan, Baju putih abu-abu kotor di bagian roknya, hujan deras sempat mengguyur tubuhnya saat pulang sekolah tadi, udara dingin menusuk kulit tubuh Hingga ke tulang. Aliza duduk meringkuk di depan pintu, memohon pada Sadewa pun rasanya percuma.


"Ibu... dingin"


...


"Aliza, ayah Lo nggak ada" Aliza menggeleng, wajahnya tidak bisa menyembunyikan kekecewaan yang mendalam, hari ini adalah hari kelulusannya, tapi Sadewa memilih pergi menghadiri acara pernikahan teman kerjanya, di bandingkan menghadiri acara kelulusan Aliza, Inayah dan Karina mengusap punggung Aliza untuk menenangkan sahabatnya.


"nggak papa, masih ada kita" Aliza tersenyum walaupun sulit, ke-tiga sahabat itu saling berpelukan


....

__ADS_1


"Ayah, makan dulu yuk, Liza sudah siapkan makan malam" Aliza menunduk saat tatapan sinis Sadewa berikan untuknya, Aliza mengekor di belakang menuju ruang makan.


Aliza siapkan nasi dan lauk seadanya di piring Sadewa, setelahnya ia juga siapkan untuknya sendiri.


"selamat makan, yah" ucap Aliza tapi Sadewa abaikan, ruangan itu benar-benar senyap, tidak ada obrolan hangat di antara ayah dan anak itu.


"Besok, ikut saya ke KUA"


"ngapain ayah?"


"menikahkan kamu dengan raga " sendok Yang tadi ingin di masukkan Aliza ke dalam mulutnya terhenti dan melayang di depan.


"me--menikah? raga?"


"iya, saya punya banyak hutang dengan Raga Argantara, dan dia ingin kamu menikah dengannya untuk melunasi hutang-hutang saya " Sadewa berucap sedatar dan setenang mungkin, aliza menggeleng.


"Aliza nggak mau ayah, Aliza nggak mau menikah dengan raga"


"saya tidak meminta ijin kamu" Aliza bersimpuh di bawah kaki Sadewa, air matanya tumpah Sudah.


"ayah, Liza mohon Jangan nikahkan Liza dengan raga, Liza nggak mau menikah dengan nya, ayah..."


"kalau kamu nggak mau menikah dengannya, saya akan di masukan ke penjara!"bentak Raga.


"li-- liza akan kerja ayah, Liza janji akan lunasi hutang di tempat raga, Liza janji " Sadewa menyunggingkan senyum.


"dengan apa, dengan upah 500 ribu perbulan? uang itu bahkan nggak cukup untuk biaya makan sebulan" Aliza berpindah berdiri di depan Sadewa, ia ingin meraih tangan Sadewa untuk di genggam, tapi lebih dulu Sadewa menepis tangannya.


"Liza akan cari kerja lain ayah, ki--kita pasti bisa melunasi hutang-hutang kita" Sadewa berdiri, selera makannya Hilang sudah, Aliza ingin mengajar tapi nihil.


"Ayah!"


"ayah!


brak!!! suara pintu kamar yang di hempas kuat oleh Sadewa.


"a--yah, Liza nggak mau menikah dengan Raga, Liza nggak mau ayah..." Liza bersimpuh di depan pintu kamar Sadewa. tangisan pilunya tidak berhasil membuat Sadewa iba, Sadewa tetap menikahkan Nya dengan Raga, Aliza sudah tau apa maksud Raga menikahinya, semuanya untuk membalas dendam semata.


....


Semua kenangan pahit itu terus mengusik kehidupan Sadewa, sudah enam tahun lamanya Aliza telah berpulang, enam tahun sudah semua kejadian mengenaskan itu terjadi pada putri semata wayangnya, semua menjadi penyesalan terbesar dalam hidup Sadewa, sadewa bahkan belum sempat meminta maaf pada putrinya, Sadewa telat membawa Aliza pergi dari neraka nya, hari-hari sadewa di penuhi dengan rasa bersalah.


"Nak, ayah kangen Kamu nak, kamu pasti lagi senang-senang sama ibu juga anak kamu di sana" air mata pengelasan juga rindu turun membasahi bingkai Poto Aliza


"maafin ayah ya nak, karena ayah kamu harus mengalami semua ini, Maafin ayah..."


"kakek kenapa nangis" gadis kecil yang matanya benar-benar mirip dengan sang ayah menghampiri Sadewa, Sadewa dengan cepat menghapus air matanya, ia tersenyum kepada cucunya.


"nggak, kakek cuman rindu Sama mama kamu"


"Kalista juga kangen mamah ke" Sadewa mengangkat tubuh mungil cucunya ke atas pangkuannya.


"hari ini kita ke makam mamah, ke makam Kaka kamu, ke makam nenek" ucap Sadewa

__ADS_1


"iya kek, jenguk papah juga ya kek, Kalista kangen papah" Sadewa Mengangguk.


__ADS_2