
"RAGAAAAAAA"
"RAGAAAAA" bara dan Aliza Bangun bersamaan saat suara teriakan Clara menggelegar di penjuru rumah.
"Tuan... nyonya!"
"huust, nggak usah di peduliin, tidur aja lagi" Raga berucap santai, sedangkan Aliza sudah kawatir, apa lagi sekarang Clara sudah mendobrak-dobrak pintu kamarnya.
"tuaan..." raga berdecak kesal
"bisa diam nggak sih, gue mau tidur, Lo ngerti dikit kek, gue bilang biarin aja, Clara juga nggak akan bisa mendobrak pintunya" omel raga berhasil membungkam mulut Aliza.
"RAGAAAA, AKU TAU KAMU DI DALAM, BUKA NGGA PINTUNYA" Aliza bergeser agar lebih dekat dengan raga, ia dekap raga begitu erat, menggesekkan wajahnya di dada bidang raga. raga membalas pelukannya itu.
Aliza baru bisa merasa lega saat pintu kamarnya berhenti di dobrak.
Clara yang berada diluar meraung sejadi-jadinya, bahkan air mata wanita itu turun, siapa yang tidak sakit hati coba, saat suami yang pertama kali menjabat tangan papahnya justru meninggalkannya di malam pertama mereka. Clara yang sudah mengenakan lingerie seksi berlari ke lantai atas, ia ganti pakaiannya dan melangkah keluar kamar.
Clara menoleh lagi ke arah kamar bawah tangga dan menghapus air matanya.
....
Aliza menata meja makan untuk mereka sarapan, tidak lama raga juga bergabung dengan pakaian rapi, pria itu menghampiri istrinya dan mencium pipi Aliza singkat, kemudian ia duduk menunggu Aliza mengambilkan nasi untuk nya.
Brak!!!
pintu di buka secara kasar, Aliza dan raga saling pandang. Raga sudah yakin jika itu Clara, benar saja, sekarang wanita itu sudah berdiri di depan mereka.
"Dari mana kamu?" tanya Raga, Clara menatap nyalang wanita yang berdiri di samping raga, dengan langkah besar, Clara menghampiri Aliza dan dengan kasarnya mendorong tubuh wanita itu , untungnya raga lebih sigap menangkap tubuh sang istri.
"CLARA" bentak raga yang dadanya naik turun menahan emosi.
"Dasar pembantu, Sialan" jerit Clara menarik rambut Aliza yang tertutup hijab syar'i.
"awww" raga melepaskan cengkraman tangan Clara di rambut Aliza.
"APA-APAAN KAMU CLARA"
"KAMU YANG APA-APAAN, RAGA" teriak Clara tak kalah keras.
"KAMU NINGGALIN AKU DI MALAM PERTAMA KITA, KAMU LEBIH MEMILIH TIDUR DENGAN PEMBANTU INI..." Clara menunju wajah Aliza
""Apa sih istimewanya dia" lanjut Clara.
pyar!!!
__ADS_1
pyar!!!
"CLARAA!!"
semua piring, gelas, makanan, buah-buahan,. semuanya tersapu bersih karena ulah Clara, pria itu menarik kasar pergelangan tangan Clara, menyeret wanita itu menuju lantai dua.
"tuan, jangan!" Aliza menyusul mereka, Aliza takut raga melakukan hal yang sama seperti Dirinya pada Clara.
BRAK!!!
pintu kamar di tutup dengan kasar, Aliza tidak tau apa yang terjadi di dalam sana , Hanya terdengar jeritan, teriakan, amukan dan benda-benda pecah dari dalam kamar Raga.
"Tuan, berhenti, stop" Aliza terus meminta di bukakan pintu, sampai akhirnya tidak terdengar lagi suara dari dalam kamar, pintu terbuka, dan hanya menampakkan sosok raga yang berwajah masam, Aliza mencari-cari sosok Clara di belakang raga , ternyata wanita itu duduk membelakangi mereka di atas tempat tidur.
Brak!!!
Pintu di tutup lagi oleh raga, emosi raga perlahan mereda saat melihat wajah teduh khawatirnya Aliza, ia satukan jari-jarinya dengan jari-jari Aliza.
"ikut gue ke kantor, gue nggak bisa ninggalin Lo berdua sama Clara"
"tapi tuan...."
"nggak ada tapi-tapi" tegas raga, dan sudah menarik Aliza menjauh dari sana
"Arghhhhhh" Raung Clara di dalam kamar.
....
Jelas kedatangan CEO perusahaan dengan wanita berpakaian lusuh di sampingnya membuat mereka menjadi pusat perhatian, bukan karena CEO itu sendiri, tapi sosok wanita yang tangannya di genggam erat si pemilik perusahaan. Aliza merasa tidak nyaman dengan tatapan mereka Padanya, Aliza menunduk dalam.
sampailah mereka di ruangan raga, raga meletakkan tasnya ke atas meja, kemudian ia buka pintu rahasia di dalam ruangannya.
"ayo" ajak raga masuk.
"Lo istirahat aja di sini, gue ada rapat, mungkin balik jam 10 an, gue bakal pesan sarapan, Lo makan sendiri" Aliza mengangguk, raga mengusap pucuk kepala Aliza dan mencium keningnya, Raga juga menyamakan tingginya dengan perut Aliza, ia usap perut rata itu dan berbisik.
"papa kerja dulu ya nak, Kalian sama mama hati-hati, ya" kemudian ia cium singkat.
"gue pergi" Aliza mengangguk dan pintu rahasia itu kembali tertutup. Aliza telusuri ruangan yang sekilas mirip dengan kamar raga, ada tempat tidur berukuran sedang, meja, lemari pakaian dan... tunggu...
"ini... gue?" monolog Aliza
"tapi kapan?" Aliza telisik bingkai foto dirinya yang di ambil secara diam-diam, di foto itu Aliza Duduk merenung di pinggiran pantai, wajah cantik Aliza terlihat sayu, tidak ada semangat seperti biasanya.
"Apa benar yang raga omongin
__ADS_1
flashback on
"Gue sayang sama Lo,gue cinta sama Lo,gue suka sama Lo, cinta gue bukan ada saat kita bersama, rasa cinta itu hadir sejak pertama kali kita ketemu... gadis kecil bertubuh mungil yang hampir saja jatuh karena batu bangunan yang berserakan, senyuman indahnya saat itu mampu membuat gue luluh, gue terus memperhatikan gadis kecil itu secara diam-diam, gadis mungil dengan sifat periang, lincah dan pintar. mungkin gue satu dari banyaknya pria yang jatuh hati sama Lo , za, dan gue juga salah satu orang yang paling sakit hati saat mendapatkan penolakan"
flashback off
Aliza makin di baut bingung dengan ucapan raga* penolakan?* cinta?* kapan Aliza pernah menolak cinta Raga, mereka bahkan tidak pernah saling sapa.
....
"za, Aliza" panggil raga dengan lembut
"tuan"
"Kenapa nggak di makan?" Aliza melirik berbagai macam sarapan yang 3 jam lalu di kirimkan untuknya, Aliza menggeleng.
"nggak bisa makan tuan"
"gue suapin" Aliza turun ikut menyusul raga, mereka duduk di karpet berwarna merah berbahan lembut.
"Tuan"
"hm" raga asik membuka bungkusan makanan Aliza.
karena tidak ada suara lagi dari aliza, raga mengangkat kepalanya, ia menatap Aliza yang ternyata sejak tadi juga menatapnya.
"hey,kenapa Lo" raga mengguncang pelan pundak Aliza.
"Ah?"
"kenapa jadi bengong sih"
"Tuan, foto di atas meja sana..." Aliza menunju meja kecil di samping raga, raga menyadari Jika aliza sudah melihat bingkai foto miliknya, raga raih bingkai foto kecil itu.
"ini?" Aliza mengangguk.
"foto ini gue ambil satu tahun setelah kematian karina" ucap raga mengelus wajah Aliza di balik foto kecil itu. ia letakkan lagi fotonya kembali ke atas meja.
"buka mulut Lo" Aliza menurut dan raga menyuapkan makanan dengan tangannya sendiri ke mulut Aliza.
"enak nggak?" Aliza mengangguk, sebenernya Aliza ingin menanyakan hal lainnya, tapi melihat respon raga yang seperti mencoba mengalihkan fokus nya, Aliza mengurungkan niatnya.
"gue sudah langganan beli di situ, waktu itu gue pernah minta Lo buat beli, tapi Lo malah asik ngobrol sama Inayah"
"ayah Lo mau Nebus Lo za!" lanjut raga tiba-tiba dengan kepala menunduk.
__ADS_1
"ayah?
"iya, ayah lo mau gue balikin Lo ke dia"