Di Nikahi Untuk Balas Dendam

Di Nikahi Untuk Balas Dendam
perkelahian


__ADS_3

"Ayah gue pengusaha, ibu dokter bedah" langit menganga mendengar pengakuan Aliza, Aliza menoleh dan menyunggingkan senyum.


"kenapa, aneh ya, pembantu kaya gue punya orang tua pengusaha dan dokter"


"eng--enggak gitu za, cuman...."


"cuman nggak mungkin...?


"hahhhh" di Hembuskannya dulu nafas sebelum melanjutkan ceritanya.


"iya... ayah gue pengusaha, cukup berjaya waktu itu, sedangkan ibu dokter ahli bedah, hidup gue nggak susah-susah banget karena gua punya mereka, kasih sayang yang mereka kasih ke gue begitu besar, harta, cinta, kasih sayang, rumah mewah... semuanya gue punya, tapi semua berubah semenjak ibu gue sakit, sakit... gara-gara gue "


"gara-gara Lo, maksutnya?"


"gue dulu pengidap gagal ginjal akut, setiap satu bulan sekali gue harus cuci darah dan pengobatan, tapi ada waktu-waktu tertentu gue drop dan di rawat di rumah sakit, ibu sama ayah nggak pernah bisa liat gue sakit sedikit aja, satu-satunya cara untuk menyembuhkan gue dengan mendapatkan donor ginjal, orang tua gue sudah berusaha mencari donor untuk anaknya yang penyakitan ini, tapi apa... nggak ada, sampai akhirnya ibu gue yang harus berkorban, i--ibu gue yang akhirnya mendonorkan ginjalnya untuk gue, untuk anak yang nggak berguna ini, andai waktu itu gue tau... ibu gue yang akan mendonorkan ginjalnya, gue lebih memilih mati dari pada kehilangan ibu"


"za..." tangan langit mengambang, ia Sangat ingin menenangkan wanita di sampingnya, tapi ia tau Aliza bukanlah wanita yang sembarangan bisa di sentuh.


"ibu meninggal, ibu nggak bisa bertahan dengan satu ginjalnya yang tersisa, di hari-hari ibu sakit, ayah jadi nggak punya semangat untuk bekerja, secara perlahan perusahaan ayah menurun drastis, sampai akhirnya perusahaan Ayah gue bangkrut tak tersisa, tabungan yang ada habis untuk membiayai pengobatan ibu, rumah di gadaikan, mobil di jual, tanah di jual, semuanya habis nggak ada yang tersisa, ayah minjam uang untuk menutupi hutang-hutangnya, salah satunya dengan minjam uang ke Raga, ayah nggak mampu bayar hutangnya, Raga minta gue buat kerja dirumahnya untuk melunasi hutang-hutang ayah, dan disinilah gue sekarang, pembantu di rumah Raga"


"hahhhhh" kembali lagi Aliza menghirup udara sebanyak-banyaknya


"mimpi gue besar, gue ingin jadi dokter sama seperti ibu, gue ingin bisa menyembuhkan orang, tapi sayang... mimpi gue itu harus terkubur jauuuuh, aaaaaaa... langit langit, itulah hidup Khumaira yang Malang"


"saudara Lo yang lain, nenek kakek, sepupu?"


"ayah sama ibu adalah teman masa kecil, mereka Tumbuh dan besar di panti asuhan yang sama, dari kecil mereka nggak kenal siapa orang tua mereka, siapa saudara mereka, di mana asal usul mereka, mereka nggak tau , apa lagi gue, yang gue tau... gue cuman punya ayah sama ibu gue di dunia, nggak ada yang lain" kembali aliza menatap langit dan Menyunggingkan senyum, senyuman penuh luka.


"Lo hebat za, Lo hebat sudah bertahan sejauh ini, Lo hebat, gue kira... hidup gue yang paling nggak beruntung, tapi nyatanya gue yang paling nggak bisa bersyukur, ada orang yang jauh lebih susah beban hidupnya ketimbang gue"


"Emang Lo kenapa, Lo punya orang tua yang lengkap, yang sayang sama Lo, apa yang kurang dari Lo"


"gue sakit, kanker otak stadium 2" Aliza menutup mulutnya tidak percaya.


"yaa, kita sama, tapi sekarang Lo sudah sembuh walaupun harus kehilangan ibu Lo, sedangkan gue... gue nggak tau besok apa masih bisa mendengar suara Lo, gue nggak tau apa masih bisa memakan masakan mamah gue, gue nggak tau apa gue masih bisa ikut papah gue ke kantornya, gue nggak tau za" tatapan pria itu berubah sendu.


"Maksutnya?"


"besok gue akan pergi untuk melakukan operasi pengangkatan tumor otak di kepala gue, gue nggak tau apa operasi itu akan berjalan lancar atau bahkan gue nggak bisa pulang lagi dan bertemu Lo" keduanya beradu pandangan.

__ADS_1


"Lo pasti bisa sembuh langit, gue selalu mendoakan untuk kesembuhan Lo, gue yakin ini bukan pertemuan terakhir kita" Aliza berucap yakin.


"za"


"hm"


"berjanjilah untuk menunggu gue pulang, berjanjilah untuk selalu bahagia jika nanti gue nggak bisa pulang lagi, berjanjilah untuk bertahan Aliza "


"gue janji bakal nunggu Lo, kita akan ketemu lagi"


"makasih za, makasih sudah datang, makasih sudah menepati janji Lo"


"gue sa,---" ucapan langit terpotong


"Aliza " degup jantung Aliza tiba-tiba berdetak kencang, suara menakutkan itu terdengar jelas, Aliza berharap itu hanyalah halusinasinya saja, tapi sepertinya tidak, suara Raga kembali terdengar.


"Aliza, masuk" keduanya berpaling dan menemukan Raga dengan tatapan dingin mengintimidasi ke arah mereka.


"Ra--raga" ucap Aliza pelan


"Masuk Aliza"


"za..." langit ingin menghentikan dengan menggenggam tangan Aliza, melihat hal itu membuat darah Raga semakin mendidih, dengan langkah besarnya, Raga melangkah dan menarik kasar pergelangan tangan Aliza, wanita itu hampir saja kehilangan keseimbangannya.


langit tidak bisa terima melihat Aliza di perlakukan kasar di depan matanya, ia cengkram juga pergelangan tangan Aliza yang satunya lagi


"Lo gila, ini cewek"


"bukan urusan Lo, lepasin tangan Lo" ucap Raga penuh dengan amarah.


"nggak akan gue biarin Aliza kembali kerumah Lo itu, gue nggak bisa biarin Aliza mendapatkan perlakuan kasar dari pria seperti Lo"


"langit gue mohon lepasin gue, gue nggak papa" mohon Aliza dengan suara lirih


"nggak papa apanya Aliza, Lo di kasarin di depan gue, gimana kalau cuman ada kalian doang" tegas langit


"langit Gue mohon biarin gue pergi" langit tidak ingin kalah, ia perkuat lagi cengkraman nya di pergelangan tangan Aliza, begitu Juga dengan Raga, ke-dua pria itu saling tarik-menarik tanpa mereka tau Aliza yang harus menahan sakit.


sampai akhirnya langit menarik kencang pergelangan tangan Aliza Hingga terlepas cengkraman tangan Raga, Aliza tidak bisa menyeimbangkan dirinya dan berakhir jatuh di pelukan langit, semakin geram lah Raga.

__ADS_1


"Jangan berani menyentuhnya brengsek!"


bugh


satu bogeman melayang di wajah langit, Aliza menahan tangan Raga saat kembali ingin memberikan pukulan di wajah langit.


"Jangan tuan, saya mohon" Raga menarik lagi pergelangan tangan Aliza dengan kasar, tapi kali ini langit tidak tinggal diam, ia nekat, ia tarik lengan Raga Hingga pria itu berbalik ke arahnya.


BUGH


kali ini wajah Raga yang mendapatkan bogeman dari langit. Raga tidak tinggal diam, ia dorong Aliza saat wanita itu mencoba menghentikannya yang ingin membalas pukulan langit


"Brengsek" umpat langit ketika melihat tubuh Aliza tersungkur akibat kuatnya dorongan yang Raga lakukan.


"itu cewek, brengsek"


BUGH


BUGH


keduanya saling memberi pukulan satu sama lain, Aliza berdiri ingin melerai pertikaian keduanya.


"Sudah, berhenti... tuan berhenti tuan, langit stop" jerit Aliza tapi tidak berhasil menghentikan ke-dua pria itu. Aliza memeluk Raga dari belakang, sekuat tenaga ia tarik agar pria itu menjauh dari langit, tidak terima karena di halangi membuat Raga naik pitam, ia berbalik dan menendang Aliza.


"Alizaaaaaaa" teriak langit, Sungguh ia tidaklah percaya dengan apa yang baru saja ia lihat.


"BRENGSEK LO RAGAAA"


BUGH


BUGH


"BISA-BISANYA LO NYAKITIN PEREMPUAN KAYA GITU RAGA, DIA PEREMPUAN, DI MANA HATI NURANI LO SEBAGAI PRIA"


BUGH.


"langit stop, gue mohon stop, jangan pukul dia Langi" langit tidak peduli ia terus memberikan bogeman ke wajah Raga, pria itu tidak bisa melawan Lagi.


"LANGIT STOP, BERHENTI MEMUKULI SUAMI KU ZHIAN "

__ADS_1


"BERHENTI MEMUKULI SUAMI KU, AKU MOHON BERHENTI ZHIAN, AKU MOHON BERHENTI" ucap Aliza dengan tangisan.


__ADS_2