
"Maaf Aya" ucap Wira.
Ayasha mendongak mendengar ucapan Wira. Membuat Ayasha merasa sebak dan matanya mulai berkaca-kaca.
"Maaf buat kamu sakit" Ucapnya lagi.
"hik hik..Tuan..Apa Aya ini wanita murahan?" pertanyaan membuat Wira bungkam.
"Aya..kamu bukan wanita murahan" Tegasnya.
"Huwaahh.." tangis Ayasha pecah.
Wira kalut dengan kelakuan Ayasha. Dia berfikir keras mencari cara mempujuk Ayasha.
"Aya..jangan pernah anggap kamu murahan.."
"Tapi, Aya menyerah diri pada Tuan..Aya kotor..Aya sudah kotor Tuan" tangisnya semakin pecah dan dia merasa sangat hina.
"Aya..kamu lakukan untuk bapak kamu..Ya..di sini kita itu win win situation. Kita rakan partner saling menguntungkan. kamu lakukan untuk bapak kamu kan.." Wira berkata realiti. Walau ada sedikit kebohongan disitu. kerana dia tidak ingin Ayasha mengetahui rancangan menjerat Ayasha untuk berada dalam genggamannya seperti sekarang.
Ayasha diam dan mulai merasa baik lalu bergegas membersihkan diri. Wira mengangkat Ayasha dengan hati-hati membawa ke katil dan membantu Ayasha berpakaian.
"Aya..apa itu kamu masih sakit? tanya Wira.
Ayasha hanya menjawab dengan mengangguk kepala.
"Esok kamu gak perlu bekerja..rehat aja" perintah Wira.
"Gak papa kok tuan..Aya bisa kerja..gak enak sama mbok..Aya gak mahu mbok nanti syak" Ujar Ayasha.
"Ya udah..kamu hati-hati..jangan sampai ketahuan" Ucapnya dingin.
"Udah hampir subuh..yuk..gue hantar ke kamar lo"
__ADS_1
Tanpa persetujuan Wira mengangkat Ayasha membawa ke kamar Ayasha perlahan-lahan.
"Tuan..Aya bisa jalan sendiri"
"Aya..kamu diam dan nurut aja.."
Dalam gendongan Ayasha hanya pasrah dengan sikap Wira yang tak ingin di bantah.
cup
"Selamat tidur Aya" Wira mengucap dahi Ayasha setelah membaringkan dan menyelimuti. Kemudian Wira kembali ke kamarnya.
"Oh..jantung kendalikan dirimu..jangan baper please..sedar Aya kamu hanya pelayan ranjangnya" Ayasha bergumam dalam hati. Ayasha yang memang kelelahan melayani hasrat Wira akhirnya terlelap setelah berperang dengan perasaan sendiri.
...****************...
Pagi itu Ayasha seperti biasa bangun awal menyediakan keperluan Wira walau masih berjalan bertatih. Dia memasuki kamar Wira yang masih terlelap kemudian keluar perlahan dengan senyap.
"Aya..kamu ngantuk? tanya mbok Wiwin melihat Ayasha tidak bersemangat dan pucat.
"Ya udah..kamu istirahat sana.. mbok gak mahu kamu buat kesalahan lagi" jawab mbok
"Tapi mbok..."
"Gak ada tapi... pergi istirahat sana..mbok kerjain sendiri..huss..sana...buruan" Usirnya
"iya mbok..makasih mbok.." ucap Ayasha kemudian beredar menuju kekamarnya.
...****************...
Wira menuruni tangga sambil melihat sekeliling mencari sosok yang tadi malam dia gagahi.
"Apa dia masih sakit" Wira membatin.
__ADS_1
"Mbok..Mbok!" Panggil Wira a
Mbok bergegas menemui Wira.
"Ya tuan" ucapnya
"Ayasha mana mbok" tanyanya basa basi. Dia hanya ingin memastikan jika Ayasha baik-baik saja.
"Itu tuan..Mbok lihat dia kurang fit..seperti kurang tidur. katanya dia gak bisa tidur semalam kerna masih mikirin keadaan bapaknya di kampung" jawabnya jujur.
"Ya udah..kamu kembali ke dapur. nanti aku sarapan sendiri aja" ujarnya.
Setelah aman wira menyelinap masuk ke kamar Ayasha. Dia menatap wajah imut Ayasha tidur dengan lelap. Dia tersenyum teringat aktiviti mereka lakukan semalam.
"ahh..sial..si Jack tegang..Duh..sial" Gumamnya.
"Baik gue pergi aja.."
Belum sempat dia membuka knop pintu dia berbalik
Cup
Ciuman mendarat di bibir Ayasha.
"Ahh..buat semangat pergi kerja" Gumamnya terkekeh dan pergi keluar bagai pencuri dari kamar Ayasha.
"Gak boleh jadi..bisa-bisa gue ketahuan" Wira berfikir sejurus duduk menyantap sarapannya. sambil memikir bagaimana menutupi hubungan dengan Ayasha.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung