
Tepat Jam10 malam Ayasha membawa minuman ke kamar Tuannya setelah memastikan penghuni rumah mewah itu aman di kamar masing-masing.
Malam ini Wira tidak menginginkan minuman panas. Dia hanya meminta Ayasha menyediakan air putih.
Tok tok tok
ceklek
Ayasha melangkah kaki masuk ke kamar Wira.
"Aya..sini.." Wira sejak tadi menunggu duduk di sofa yang tidak jauh dari katilnya.
"Kamu mau kuliah gak?" Tanya Wira.
"Tuan, impian saya kuliah dan jadi orang yang berjaya, ingin membahagiakan bapak" Jawabnya lirih menunduk kepala.
"Bagus deh.. justeru gue daftar lo ke universiti di kota ini" Ujarnya
"Tapi, saya gak punya wang Tuan, hutang biaya perubatan bapak juga belum saya lunasi, gimana dapat wang untuk kuliah" ucapnya menatap wajah Wira.
"Kamu kuliah dengan benar dan terus bekerja dengan seperti biasa, anggap aja hutang kamu sudah lunas" Ujar Wira.
"Tapi Tuan..Sampai bila Aya kerja gituan?" ucapnya menahan sebak.
"Gak perlu mikir banyak. Kamu jalani aja. Kamu harus success. ini risalah, kamu pilih kursus yang kamu mahu" Wira menyerahkan beberapa risalah kursus yang dibuka untuk menerima pelajar baru.
Setelah perbicaraan tentang kuliah Ayasha, dan gadis itu memutuskan untuk mengikuti program Kursus business management.
__ADS_1
Malam itu Wira kembali meminta Ayasha melayaninya. Ayasha hanya pasrah dan menurut. Dia sedar jika telah berhutang budi pada Wira walau tidak gratis.
Ranjang Wira kembali bergoyang dan mungkin akan sering berlaku penyatuan dua jiwa yang saling menguntungkan.
Penyatuan kali ini Ayasha mulai bisa menerima dan merespon setiap sentuhan Wira. gadis itu bisa mengimbangi keperkasaan Wira. Mungkin usianya yang masih muda agresif.
Selesai pelepasan keduanya, Wira menjatuhkan diri di samping Ayasha, Tubuh kedua yang tidak berpakaian. Wira melabuhkan ciuman di dahi Ayasha lalu memeluknya.
"Tuan, bagaimana jika Aya hamil?" Ayasha menyuarakan kebimbangannya.
Shitt..bodoh kamu Wira..kamu semburkan benih tanpa pengaman.
"Hmm..Nanti Gue fikirkan" Cuba meyakinkan Ayasha walau dia juga menyedari jika dia cuai dalam bertindak. Huh...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Tujuannya pagi itu adalah apotek. Dan bodohnya, seawal pagi Apotek masih belum buka. dan dia terpaksa menunggu selama satu jam.
"Huh".. keluhnya.
Dia berharap perbuatannya tidak menghadirkan janin di rahim Ayasha. Dia merasa belum bersedia menjadi orang tua.
"Maaf Aya..kamu jangan hamil sebelum semua jelas. Kamu harus siap dan kuat untuk menjadi pendamping ku. Biar gak ada memandang rendah pada mu" batinnya.
Satu jam menunggu akhirnya apotek buka. Wira buru-buru membeli kb. Semestinya dengan memakai mask. mengelak di kenali. Sampai di mobil. Dia membuat panggilan ke Mansion.
dreet dreet
__ADS_1
"helo..mbok..Perintahkan Ayasha membawakan sarapan ke kantor. Minta Pak Ilham hantarkan" perintah Wira yang cuma akal-akalan saja.
"Baik tuan" Jawab mbok di talian sana.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Satu jam Ayasha tiba dengan dihantar Pak Ilham ke ruangan Wira di lantai 10.
tok tok tok
"Masuk" ucap Wira.
"Tuan, ada seorang gadis katanya menghantar sarapan untuk tuan" Ucap Lidya
"Ya..suruh masuk..Arahkan Pak Ilham kembali ke Mansion" ucapnya.
"Tapi tuan..pembantu itu.."
"Lidya, sampaikan perintah ku tadi dan panggil gadis itu masuk keruanganku SEKARANG!!!" Herdik Wira pada Lidya.
Dengan gementar Lidya bergegas membawa Ayasha masuk keruangan Wira.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung