Dijerat Cinta Majikan

Dijerat Cinta Majikan
Bab 57


__ADS_3

"Kamu mahu jujur atau aku cari tahu sendiri"


"errrmmm..Sebenarnya...."


"Sebenarnya.." Ucap Dino ragu untuk jujur.


"Dino..kamu ni udah gak bisa bicara dengan benar ya...sebenarnya..sebenarnya" Ucap Wira.


"Sialan kamu Wira" Batin Dino. "Bagaimana jika Wira mentertawakan ku. Kenapa aku bisa-bisa jatuh cinta" Gumam Dino dalan hati.


"Dino.." Panggil Wira. Dino yang dari tadi hanya diam dan melamun tanpa menjawab pertanyaan Wira.


"Kamu seperti orang jatuh cinta Dino" Wira yang tidak habis cara memancing Dino untuk jujur.


"Ahh...kamu apaan Tuan" Elak Dino. Walau jantungnya bagai meledak mengiyakan kata-kata Wira.


"Kenapa aku harus jatuh cinta dengan gadis usil itu..huh.." Batinnya.


"Fix..kamu jatuh cinta Dino..jangan cuba mengelak..udah jelas simptom bucin kelihatan"


"Tuan..Gak.."


"Iya..kamu jatuh cinta"


"Gak"


"Iya kan"


"Gak.."


"Jangan bohong kamu"


"Gak..."


"Oke..gak papa..Nanti aku minta Marco pindahin Tasya ke lain daerah"


Dino jadi sesak mendengar perkataan Wira. "gak...Tasya gak boleh pindah" Fikirnya.


"Ya..Aku cinta sama Tasya..puas kamu!"

__ADS_1


"Tebakan gue benarkan.."


"Iya..iya..memang benar.." Jawab Dino dengan kesal.


"Hahahaha....pantas aja uringan"


"Sialan lo"


Wira terusan meledak Dino. Dino yang dulu berkeras tidak mempercayai cinta dan enggan menjalinkan hubungan serius dengan wanita kini dia tidak mengerti begitu mudah untuk melabuhkan hatinya pada Tasya. Gadis yang dulu tidak menarik di matanya. Dulu Dengan perintah Wira mereka akan berkomunikasi mengatur jadual kencan pura-pura mereka. Komunikasi yang hanya melibatkan urusan kerja semata. Namun, dua minggu tinggal bersama, pandangan Dino menjadi luar biasa melihat Tasya. Semakin dia mengenali sifat asli Tasya yang usil dan periang itu hatinya bagai ingin terus bersama dengan Tasya. Keberadaan gadis itu membuat hidupnya berwarna dan membuat tabiatnya yang sering mengunjungi club malam mencari gadis untuk menyalurkan hasratnya ia terlupakan. Walau naluri kelelakiannya tidak tersalur dia lebih memilih menahan dan bermain solo.


......................


Malam minggu itu adalah jadual pertama Tasya akan berkencan dengan pelanggan yang melanggannya kencan selama setahun. Memang rasa mencurigakan fikir Tasya. Namun mengingatkan tabungannya sudah tipis dia tidak ada pilihan hanya menyetujuinya. Sejak hari terakhir dimana Dino meminta dia membatalkan kencannya, Dino tidak pernah lagi melihatkan batang hidungnya pada Tasya. Walau Tasya sering bertanya pada diri sendiri adakah ia keterlaluan mengusir pria itu. Namun Tasya juga gengsi untuk menghubungi Dino hanya membiarkan penasarannya itu.


Lain pula dengan Dino, pria itu dengan tidak sabaran ingin menemui Tasya. Dia ingin melihat keterkejutan gadis melihatnya. Dia berharap Tasya tidak kesal dengannya nanti.


Dino melihat penampilan pada pantulan cermin. " great!! Kamu tampan Dino" Pujinya pada diri sendiri. Dengan penuh semangat dan berkeyakinan dia melangkah kaki sambil bersiul riang meninggalkan apartment mewahnya menuju ke area parking pacuan empat rodanya. Walau dia hanya assistant kepada Wira, gaji yang tidak sedikit Wira berikan dan tanpa diragui Dino juga salah satu pemegang saham di syarikat yang sama-sama mereka dirikan itu. Saham 15% miliknya bukan jumlah sedikit, kerna itu dia bisa membeli apartment mewah dan kenderaan dari luar negara.


Dino memilih pertemuan kali ini di taman yang tidak ramai pengunjung. Dia tidak ingin reaksi Tasya nanti akan jadi tontonan ramai. Dia tidak yakin gadis itu akan senang bertemunya, mengingatkan kejadian dirumah Tasya yang dia telah kebablasan mencumbui Tasya.


Dino yang cuba menutupi desiran jantungnya yang sejak tadi berdegub kencang. Dino menjilat bibirnya untuk menghilangkan gugupnya. Dino telah melihat sosok Tasya yang duduk di bangku taman itu dengan membelakanginya. Dino membetulkan penampilannya dari cermin yang ada dalam keretanya. "*Huh!!! kamu bisa Dino" Batinnya.


Dengan gugup Dino keluar dari keretanya. Berjalan perlahan mendekati Tasya yang duduk manis di bangku taman itu.


"Ehemmm..Hai" Sapa Dino.


"H-hai..." Jawab Tasya. Lalu dia mengangkat kepala memandang pria yang berdiri menjulang tinggi di hadapannya. Jantungnya bagai terhenti. Pria yang selama beberapa hari ini dia fikir kan sedang berada di hadapannya dengan memasang wajah cool.."*Omg..Pria ini benar-benar tampan" Ucapnya dalam hati.


"Wait..wait..adakah dia*!!!??"


"Tuan..kamu?"


"Ya..ini memang aku" Jawab Dino berlagak tenang.


"Tapi..maksud aku..Tuan yang..." perkataannya terhenti memandang sekeliling memastikan tebakannya itu tidak salah.


"Kamu cari siapa" Tanya Dino.


"Itu..aku ada janjian kencan dengan seseorang"

__ADS_1


"Oo..itu aku" ucapnya santai. Dino mengenyitkan matanya.


"Apa..Jadi benar kamu yang sudah booking setahun kencan?" Ucapnya dengan nada terkejut dan tidak percaya.


"Iya..benar..Jadi..kamu harus profesional" Ucap Dino mencubit pipi Tasya.


Tasya terpaku. "Tapi kenapa?" Tanyanya lagi.


"Kerna aku ingin kencan sama kamu"


"Tapi ini hanya pura-pura..Masa sampai setahun..Apa kamu ga bisa mencari teman wanita..kamu itu tampan lo" Ucap Tasya lalu menutup mulutnya yang terlanjur memuji pria gengsian itu.


"Jadi kamu akui aku tampan" ucapnya dengan senyuman manis


"Sejak bila pria gengsian ini berubah jadi hangat" Batin Tasya.


"Iya...iya..kamu tampan..oke"


Cup


Tasya tersentap dengan perbuatan Dino. Kucupan di pipi itu membuat jantungnya hampir terjatuh dari tempatnya.


"Tuan..kamu sudah langgar perjanjian. Gak ada sentuhan mesra selama kita kencan..mengerti" Ancamnya.


"Aku gemas sama kamu..kamu imut..Boleh gak aku bawa pulang" Ucap Dino menggoda Tasya yang cemberut.


"Jangan melebih kamu tuan"


"oke...tapi, Selama kita kencan, kamu harus panggil aku sayang..."


"Apa..sayang!!" Tanya Tasya.


"Iya bebe..."


.


.


.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2