
"Pfffttt hahaha...Mbak jangan terbang terlalu tinggi..nanti terjatuh sakit lo" Ledaknya.
Plakkk
Sandra melayangkan tamparan pada wajah Lidya. Lidya yang gak terima di lakukan begitu ingin membalas Sandra. namun tiba-tiba..
"Lidya!!!
Wajah Lidya menjadi pucat melihat sosok yang datang menghampiri mereka.
"T-tuan" Suara Lidya tergugup.
"Abang Wira!!!" Seru Sandra. Tanpa aba-aba Sandra memeluk Wira erat.
Wira yang tersentap dengan tindakan Sandra yang menempal tubuhnya ke tubuh Wira. Dengan refleks Wira mendorong Sandra menjauh darinya.
"Kamu apa-apaan Sandra. Kamu pingin maluin aku di depan karyawan aku!" Ucapnya penuh amarah.
"Abang..Maaf, Rara rindu banget..masa Abang gak rindu Rara" ucapnya manja di buat-buat.
Wira meninggalkan Sandra termangu di tempat dan masuk ke ruangannya.
"Abang..Abang" Panggil Sandra.
Sandra ingin mengejar Wira namun di halang Dino sang Assistant.
"Sandra..Mendingan lo pulang aja..Wira gak senang, dia sekarang lagi banyak kerjaan" Ujarnya.
"kamu" Sandra melihatkan telunjuk kearah Dino.
"Pergi Sandra..Sebelum gue panggil security" ucapnya lembut tapi penuh ancamnya.
Sandra menggenggam tangan, menahan amarahnya. Dia rasa terhina dengan tindakan Wira padanya. Dia tidak terima. Namun dia bukan mudah mengalah, baginya Wira akan jadi miliknya satu saat nanti.
Dia menghela nafas. membetulkan riasannya yang hampir berantakan.
"Baiklah kak Dino..Tolong sampaikan pada Abang Wira, Sandra akan kembali jika dia udah senang..Sandra pamit" Ucapnya bersikap tenang. lalu melirik kearah Lidya dan mencibir bibirnya.
__ADS_1
Lidya yang belum berpuas hati memandang nanar sosok wanita yang pergi melenggang meninggalkan ruangan itu menuju ke pintu lift.
"Dasar perempuan gila..Sok sok jadi calon isteri gak di anggap" Gumamnya gemas
"Sialan, pipi aku sakit gara-gara cewek sakit mental itu" Ucapnya dalam hati
"Arrgghh" Lidya meluapkan amarahnya.
Tidak lama intercom berbunyi menandakan atasan memanggilnya.
"Ya Tuan" Ucapnya.
"Lidya kamu masuk" ucap Wira
"Baik tuan" Sahutnya
Cekklakk
"Tuan.." Ucap Lidya.
"Sandra itu anak angkat ibu Yunita, kamu harus halang dia sekiranya ingin bertemu dengan aku" ujarnya.
Wira memejam matanya mendengus.
"Sandra..kamu belum juga berubah" Ucap wira dalam hati.
"Maaf, apa kamu terluka" Tanya Wira.
Lidya bersorak dalam hati mendapatkan perhatian atasan.
"Masih sakit tapi udah baik kok" jawabnya.
"Tunggu" Ucap Wira.
"Helo, Dino..bawa first aid kit ke ruangan ku"
Cekklekkk
__ADS_1
"Dino, ubati memar di pipi Lidya"
"Hah..Gue??" Tanya Dino bingung.
"Iya..gak mungkin aku yang lakukan"
"Sial..Gue harap Tuan Wira yang ubatin" Batin Lidya.
"Gak papa tuan..Biar aku ubati sendiri" tolak Lidya.
"Nah..ambil ini" ucap Dino memberi kotak persegi empat itu kepada Lidya.
Lidya menerima first aid kit dan keluar dari ruangan itu. Lebih baik dia mengubati sendiri daripada Dino, pria yang sering membuat dia kesal.
"Din, kamu lihat kan sikap Sandra.. gak ada berubah" Wira meluah
"Iya Tuan, kamu benar..belajar sampai keliling dunia sekalipun gak akan berubah. kelakuan seperti gak ada sekolah" Ucap Dino.
"Kita lihat aja nanti, jika kelakuan dia gak ada bisa di rubah. Aku akan terima saran kamu aja" Ujar Wira.
"Maksud kamu saran aku cari pacar pura-pura??? Tanya Dino.
"iya Din" ucap wira lemah.
Tiga hari di luar kota berfikir keras membuat fikiran bertambah kacau dengan kehadiran gadis yang tidak dia harapkan kedatangannya.
"Esok kamu urus perusahaan..aku pingin jemput isteri aku"
"Belum hujung minggu tuan..Isteri kamu 3hari lagi minta jemput" Ucap Dino
"Suka suka aku lah..Yang punya isteri itu aku..Lo hanya urus perusahaan" Wira memerintah.
Wira ingin menemui isterinya untuk menghilangkan stress dengan pekerjaan yang menguras fikiran dan tenaga, di tambah lagi masalah Sandra yang terlalu egois dan keras kepala.
"Hihihi..oke..Tuan..siap laksanakan" Dino tidak ingin membuat emosi Wira meledak.
.
__ADS_1
.
Bersambung