
Wira merenung Ayasha yang damai sejam lalu terlelap di sofa ruangan kerjanya. Gadis yang baik, namun terlihat sangat rapuh. Walau dia mencuba untuk terlihat kuat.
"Hihi..kamu kelelahan melayaniku sayang"
Wira membelai pipi Ayasha.
"Aku akan melindungi mu, berpautla padaku Aya ku" gumamnya.
Gadis itu menggeliat membetulkan kedudukan badannya. kerana terganggu dengan usapan jari di pipinya. Dia mengumpul kesedaran. Melihat dia tidak berada di kamarnya.
"Nyaman tidur Aya?" Tanya Wira
"Maaf tuan..Aya ketiduran" Suara serak Ayasha menjawab.
"Tuan, apa Aya bisa pulang?" Ujarnya
"Tugas kamu hari ini menemani gue kerja seharian" balas Wira.
"Tapi, sedari tadi Aya gak apa-apain"
"Malah ketiduran" batinnya.
"Aya..kerja kamu diam dan duduk di sana, tidur aja kalau ngantuk"
__ADS_1
Tatapan Wira tajam membuat Ayasha menciut. Gadis itu hanya diam memerhati sang Tuan yang fokus menghadap benda empat segi dimeja kerja.
"Kamu tampan tuan.." gumamnya, sehingga matanya kembali terpejam. Yah..Ayasha ketiduran lagi. Wira menyedari gadisnya tertidur kembali dengan keadaan duduk. dia duduk di sofa membawa Ayasha baring diatas pahanya dan sama-sama masuk ke alam mimpi. Aktiviti mereka pada waktu malam menyita masa tidur.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Tok tok tok
Ketukan di pintu berulang kali di lakukan Sang assistant, namun dua manusia yang asyik ketiduran tidak mendengar kan.
Ceklekk
"Permandangan langka..hihi..harus di potret ni" Guman Doni.
"Ehem..ehem.." Dia berdehem cuba membangunkan pasangan itu.
Ayasha tersedar dan buru-buru bangun dari paha Wira. Dia kebingungan, bagaimana dia bisa berbaring disana. Dia merasa sangat malu pada Doni.
tidak berselang lama, Wira juga terjaga. namun di hanya bersikap santai dan seperti tiada apa yang berlaku.
"Ehem..Don, mana yang gue pesan?"
"Oh..ya..ada di depan..sebentar"
__ADS_1
Doni bergegas mengambil makanan yang Wira pesan. Dia tidak mengarahkan secretarynya, kerna dia tidak ingin Lidya menghidu hubungannya dengan Ayasha.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Di lain tempat. Kediaman keluarga Digantara seorang gadis merengek pada sang papa.
"Papa,..Papa harus usahakan El bisa bersanding dengan Wiratama.." Rayunya
"Iya sayang..papa usaha..kamu jangan cemberut lo..nanti cantiknya hilang" Goda sang papa.
"Ah..papa..jangan godain El." Rajuknya manja.
"Malam ni papa udah undang Wiratama untuk makan malam, kamu siap cantik gih., buat Wira jatuh cinta ke kamu" Ucap sang papa.
Mata Elisa berbinar mendengar pernyataan sang papa. Dia berharap dapat memiliki Wira. Bermula di saat kejayaan perusahaan Wira menjadi topik pembicaraan dan wajahnya sering keluar di naskah-naskah bisnes. Kekayaan dan ketampanan Wira sering menjadi target para gadis dan ada yang mengajukan perkahwinan bisnes. Tidak kurang ada juga yang suka rela melemparkan diri secara percuma agar dapat menikmati Wira walau semalaman. Semua hanya sia-sia. Wira menolak secara terang-terangan. Sehingga ada menganggap Wira seorang pencinta sejenis.
Bagi Elisa, penolakan Wira berdekatan dengan gadis adalah satu tantangan dan berharap dia adalah gadis pertama yang dapat berdekatan dengan Wira. Elisa terlalu obses terhadap Wira. Hingga dia rela berteman rapat dengan Ibu Yunita. Dia berusaha mengambil hati wanita itu agar menjodohkan Wira dengannya. Dan itu semua tidak lepas dari campur tangan sang Papa Digantara.
.
.
Bersambung
__ADS_1