Dijerat Cinta Majikan

Dijerat Cinta Majikan
Bab 22


__ADS_3

Setelah semalaman bermalam di kediaman Pak Yunus. Pagi itu Wira membawa kembali Ayasha ke kota.


Mereka langsung menuju ke mansion pemberian Wira kepada orang tuanya yang berlainan kompleks dari mansion mewah milik Wira. Sebelumnya Wira mendapat panggilan dari ibu Yunita mengundang makan malam bersama.


Dia sengaja mengasingkan diri dari kedua paruh baya itu kerana tidak ingin mereka mencampuri urusannya.


Sejak Papa Wira menikah dengan Ibu Yunita hubungan mereka sedikit merenggang dan dingin.


Wira sempat hidup sendiri merintis bisnes dari awal. Setelah kejayaan diraih Papa Wira iaitu Winata Anjasmara mulai mendekatinya. Namun Wira yang terlanjur muak dengan sikap sang Papa hanya sekadar menerima sebagai balasan menghadirkan diri ke dunia ini. Dia cuba menjaga citra sebagai pembisnes yang baru naik. Dia tidak ingin hubungan buruk dengan orang tuanya berdampak kepada prestasi perusaannya. Baginya Papa dan ibu tirinya hanya memandangnya setelah berharta.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Aya terpukau dengan interior rumah yang sangat mewah. Jika di bandingkan dengan mansion Wira, kedua memang terlihat sama mewah namun Ayasha lebih mengagumi rumah ini luas dan besar.


Berbeza dengan Wira, pria dingin dan dataran itu melihat kesal dengan sosok wanita yang duduk manis di sofa bersama kedua orang tuanya. Wira mengisyaratkan Ayasha menemui mbok Wiwin yang telah tiba bersama Pak Ilham.


Wira berusaha menahan amarahnya. dia mengepal tangannya dan mendekati Papanya.


"Selamat petang" ucapnya dengan wajah datar.


"Ya..selamat petang nak. mari duduk..kita ada tamu istemewa ni.. Elisa, kenal kan" Ibu Yunita berkata penuh semangat.


"Silakan..Ngobrol aku masuk kamar istirahat..Permisi" Ucapnya menunduk hormat.


"Wir, Elisa udah buang-buang masa sempatin datang acara kita, masa di abaikan" ucap Ibu Yunita.

__ADS_1


Wira memejam mata mengepal tangannya, lalu berbalik badan.


"Bu, yang punya acara itu kalian, yang undang Elisa juga itu ibu..harusnya itu bukan urusan Wira" Ucapnya sedikit ketus dan meninggalkan mereka termangu ditempat masing-masing.


Papa Winata hanya memandang nana sangat anak sambil menggeleng kepala.


Kaki panjang Wira melangkah ke kamar yang tersedia di rumah itu jika dia menginap.


Selesai acara makan malam semua undangan telah teransur pulang. Hanya tersisa Elisa disana. Ibu Yunita menahannya menginap, tidak pasti apa yang direncanakannya.


Dan disinilah Ayasha sekarang, didapur kediaman ibu Yunita. Sedang menyuci piring dan gelas kotor bekas acara makan malam tadi.


"Kamu udah berapa lama kerja di rumah Tuan Wira?"


Ayasha hampir menjatuhkan pinggang ke wastfel saat suara seorang tiba-tiba menyapanya. Ayasha melirik kearah pemilik suara dan melihat tatapan sinis di layangkan padanya.


Tidak tahu dimana letak silapnya, Ayasha bermonolog di dalam hati. sedari tadi Ayasha rajin membantu, membereskan pekerjaan selayaknya pembantu yang lain,tetapi wanita ini selalu mendelik terlihat ketidaksukaan keberadaannya di sana.


Wanita itu mendengus meraih pinggan dengan gerakan ketus, mengelap pinggan dengan kain bersih. Dia terus


menginterupsi Ayasha dengan pertanyaan.


"Umur kamu toh berapa"


"19Tahun mbak" Jawabnya

__ADS_1


"Masih kecil ternyata. Kenapa Tuan memilih kamu, kamu masih kecil, kerjaan pun gak betul. Padahal aku pingin kerja di sana"


Ayasha terdiam memerhatikan Lilis dengan raut wajah tak mengerti.


"Jadi Mbak Lilis pingin kerja di rumah Tuan Wira? ya..udah nanti Aya sampaikan, siapa tahu tuan memerlukan pembantu" Ucapnya polos.


Lilis gelagapan, Wira gak boleh tahu pembantu sepertinya menaruh hati. Bisa-bisa dia langsung di pecat dari pekerjaannya.


"Tidak..Jangan bilang ke tuan. Awas kamu"


Ayasha menunduk saat Lilis mengacungkan jarinya. Ayasha melihat air muka Lilis berubah. Mbok Wiwin datang menghampiri mereka.


"Aya..Tuan Wira memanggil kamu untuk membawakan air ke kamar tuan"


"Aya belum selesai basuh pinggan mbok" katanya.


"Gak papa, biar Lilis selesaikan sama mbok"


Lantas Ayasha mengeringkan tangannya dan menyediakan minuman sang Tuan.


Ayasha sempat melirik Lilis mencibir bibirnya. Ayasha hanya membiarkan dan berlalu meninggalkan dapur itu.


.


.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2