
"Hei kamu" Seru Sandra yang telah di kuasai amarah.
Tasya memandang sinis kehadiran gadis itu. Seperti yang telah diduga, gadis itu akan menemuinya.
"Berani kamu merebut calon suami aku hah!! ucapnya. Sandra ingin menyerang gadis itu.. ingin menarik rambutnya. namun, belum sempat tangan mencapai sasarannya. Tasya mengelak dan menolak Sandra. Tubuh Sandra yang tak seimbang itu tersungkur di lantai mozek beranda rumah Tasya. Sandra yang tidak punya keahlian beladiri kelihatan memprihatinkan. Sandra hanya mengandalkan emosi kelihatan lebih lemah.
"Ops...Hanya itu kemampuan kamu? cih.." Kata Tasya mencibir bibirnya cuba memancing emosi Sandra.
Sandra yang mudah terpancing, bangun dari atas lantai ingin menyerang semula. Tasya yang bisa membaca situasi tidak ingin membiarkan Sandra menyakitinya. Dia lantas menepis tangan Sandra yang ingin memukul wajahnya.
"Sialan kamu!!!" Teriak Sandra.
"Kamu jangan mimpi bisa menyakitiku wanita lemah!!!, Wira sudah memilihku..kamu harus sedar.. kamu gak akan bisa mendapatkan hati Wira..Cam kan itu!!!" seru Tasya.
"Jika kamu berani macam-macam, jangan sampai kamu aku lapor ke polisi" Ucapnya membuat Sandra tidak terkutik. Dia tidak ingin melibatkan polisi.
Kejadian itu di saksikan Wira dari jauh. Dia sudah menduga Sandra akan berbuat nekad menyerang sesiapa saja gadis mendekatinya seperti sebelum ini.
"Kamu benar-benar menyedihkan Sandra, tidak bisa kah kamu menjadi adik yang manis saja" Wira membatin.
Flash Back
"Wira...Apa kamu sudah tidak menganggap Papa orang tua kamu?" Ucap Papa Winata yang memaksa masuk ke ruangan Wira.
"Kamu sudah berjaya dan berharta, semua itu berkat usaha papa membesarkan kamu!" ucapnya lagi.
Wira yang hanya diam mencerna perkataan sang Papa. Rasa kecewa pada Papa Winata masih membekas di hatinya.
__ADS_1
"Papa mahu apa sebenarnya, dulu pergi tanpa kabar, membiarkan Wira terkontang kanting membiayai kuliah ku sendiri, Wira merintis bisnes tanpa ada Papa yang mendukung, sekarang...Wira udah mulai berjaya..papa datang seperti Wira yang gak peduli pada Papa?" Ucap Wira. Papa Winata tidak berkutik mendapat ucapan yang menusuk ke jantungnya.
Papa Winata menundukkan wajahnya. Dia menyadari kesalahannya. Kepergiannya untuk menikahi Ibu Yunita di kota J dan menetap disana. Namun, beberapa tahun dia mendapat kabar kejayaan sangat anak yang luar biasa. Wajah Wira sering menjadi topik perbicaraan koran bisnes. Dan, Papa Winata merasa dia ingin menikmati kekayaan sang anak. Kesulitan hidup yang hanya pas pasan mendorong dia untuk menemui sang anak.
"Maafkan Papa..Papa gak niat ninggalin kamu, Papa sangat susah di sana. Setelah Papa menikah dengan ibu Yunita, tiada yang ingin menerima papa bekerja.. Duit simpanan Papa guna buka rukun kecil-kecilan.. Dari hasil ruku Papa hanya bisa untuk membeli makanan sehari-harian" Ucap Papa Winata lirih.
Wira menghembuskan nafas. Perusahaannya yang baru naik dan kukuh dia tidak ingin spekulasi buruk tentang citranya tersebar. Dengan berat hati dia menerima Papanya dan keluarga barunya tinggal bersamanya.
"Dino..Panggil supir bawa papa dan keluarganya ke mansion" Ucapnya pada Dino.
"Baik tuan" Jawab Dino.
Belum sempat Papa Winata melangkah, Wira memanggilnya.
"Papa.. Wira gak mahu keluarga Papa masuk campur hal peribadi Wira, semua keperluan Kamu Wira akan tanggung tapi jangan mengusik privasi Wira" ujarnya.
"B-baik nak" Jawab Papa Winata terbata-bata. Dia bersyukur Wira menerima mereka.
Wira berjalan dengan gagah memasuki mansion mewahnya. Dia ingin melihat keluarga baru yang tinggal bersamanya. Kedatangannya di sambut ART.
"Mbak..panggil Papa dan keluarganya untuk berjumpa dengan saya di ruang utama, selepas membersihkan diri saya akan turun menemui mereka" Perintahnya pada Art.
"Baik..tuan" Jawab Art itu.
Tak memakan masa lama, Wira keluar dari kamarnya untuk menemui Keluarga baru yang tinggal bersamanya. Kerana,sewaktu Papa Winata menikah dia tidak pernah berjumpa dengan ibu tirinya itu. Wira malah terkejut melihat gadis yang terlihat sangat muda.
"Selamat sore" Ucapnya dengan wajah dingin.
__ADS_1
"Selamat sore nak" ucap Papa Winata.
Wira dengan wajah dingin mendudukkan punggungnya di sofa.
"Saya ingin mengatakan pada Papa dan isteri papa, kamu bisa tinggal di sini dan menikmati kemudahan yang ada, ini adalah sebagai ehsan pada papa yang telah merawat Wira. Saya berharap kamu dapat menjaga perilaku kalian dan jangan cuba membuat saya malu"
"Ya nak" Sahut Papa Winata lemah. Dia merasa bersalah pernah mengabaikan anaknya itu demi menikahi ibu Yunita.
"Jadi..kamu itu abang aku ya" Gadis yang sejak tadi diam mendengar Wira berbicara.
"Itu saya tidak pasti" Jawab Wira asal.
"abang..Nama saya Sandra" gadis itu berdiri menghulurkan tangannya untuk bersalaman.
"Jaga sikap kamu" Ucapnya pada gadis itu.
Wira mengabaikan huluran tangan Sandra hanya memandang sekilas dan berdiri meninggalkan ruangan itu.
Sejak hari itu Sandra sering mencari perhatian dari Wira. Dan seiring waktu Wira bisa menerima Sandra sebagai saudara tirinya. Wira juga memanjakan Sandra, memberi perhatian sebagai abang kepada adiknya. Namun, lama kelamaan Sandra mengubah persepsi itu sebagai bentuk perasaan cinta. Dia mulai posesif terhadap Wira. Dia mengasari gadis yang berdekatan dengan Wira, walau rakan kerja.
Pengakuan Sandra yang mencintai Wira membuat Wira menghantarnya keluar negara untuk kuliah. Berharap gadis itu akan melupakan perasaan terhadapnya.
Flash Back Off
.
.
__ADS_1
Bersambung
Tinggalkan jejak sayang..kasi kak author semangat 😘