
Pov Wira
Selepas acara makan malam itu. Wira mendapati Ibu Yunita menahan Elisa untuk bermalam. Wira hanya mengabaikan kehadiran gadis.
Wira menemui Papa Winata di ruangan kerjanya. Dia menerobos masuk tanpa mengetuk pintu. Papa Winata tersentap dengan kehadiran Wira ke ruangannya.
"Papa..Wira harap Papa bisa mengingatkan isteri papa untuk tidak mencampuri urusan peribadi Wira. Cukup Wira berbaik hati menerima dia menjadi isteri papa, jangan sampai Wira singkirkan dia dari rumah ini dan menghentikan fasiliti yang Wira beri.. Wira gak akan ragu jika wanita itu masih gak sedar diri" Ucap Wira dengan tegas. Papa Winata tak sempat membalas ucapan sang anak. Wira langsung pergi meninggalkan ruangan itu.
Wira tercari-cari sosok Ayasha, dia mendapati gadis itu membasuh pinggan bekas acara malam itu. Dari kejauhan Wira memandang Ayasha.
"Gadis itu..harus dia gak perlu memperkerjakan itu semua..huh, " gumamnya.
Buru-buru dia berpusing ingin menuju ke kamarnya tapi tanpa sedar dia menabrak sosok yang di hindari. yah. gadis itu Elisa.
"Au..Tuan Wira" Elisa hampir terjatuh.
"Maaf..kamu gak papa" tanya Wira.
"Gak papa..cuma dahi aku aja sakit" Ucapnya buat-buat suara manja.
"Mari saya ubati, kamu duduk sebentar" Wira mencari first aid kit yang memang tersedia di situ.
Dengan hati-hati Wira mengubati dahi Elisa. meski pun Wira tahu itu hanya akalan gadis itu.
"Cih..kamu fikir aku boleh termakan rayuan murahan kamu..gak papa. mari kita bermain" Wira tersenyum devil dalam hati.
"Ya..udah siap..kamu istirahat gih"
__ADS_1
"oh...iya..terima kasih Tuan Wira, El masuk kamar dulu, selamat malam" Ucap Elisa.
"Ya..Selamat malam Elisa"
Wira mengambil hp di saku seluar lalu mendail nombor Mbok Wiwin memerintahkan Ayasha membawakan air ke kamarnya. Dia tidak menyedari sepasang telinga mendengar dan bicaranya dengan Mbok Wiwin.
Wira tidak dapat berfikir jernih, dia tidak faham tubuhnya bagai ada yang ingin meledak keluar dan dia perlukan pelepasan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Tok tok tok
"Masuk" Seru Wira dari dalam.
Wira termangu melihat sosok yang masuk kedalam kamarnya, bukan yang diharapkan.
"Kamu lancang Elisa!! Siapa yang membenarkan kamu masuk ke kamarku haah!" Herdiknya.
Elisa tidak berganjak, dan dengan berani dia mendekati dan menyentuh dada Wira. Sial..Wira bagai terbuai dengan sentuhan pada bahagian sensitifnya.
"Tuan Wira, jika tuan perlu kan pertolongan,Elisa bisa bantu." Bisiknya sensual.
****..Wira mendorong Elisa ke ranjang dengan kasar, Elisa senyum merasa menang. Belum sempat Wira menindihnya, kesedarannya samar-samar kembali, Wira percaya ada yang cuba memerangkap dirinya. Dia melawan hasratnya. Dia menarik kasar Elisa dari ranjangnya.
"Perempuan laknat..kamu ingin mati kah!!! berani kamu ingin menjebakku... Keluar kamu sialan..Keluar!!!! " Wira mendorong Elisa kasar keluar dari kamarnya.
"Jangan sampai aku lihat wajah kamu esok, Keluar dari sini malam ni juga, jangan sampai aku menghancurkan perusahaan Orang tua kamu!!!! Teriak Wira.
__ADS_1
Elisa memucat membayangkan ancaman Wira. Dia percaya Wira gak main-main dengan ucapannya. Dia bergegas turun dari kamar Wira dan ingin segera pergi. Sial..sial Racaunya dalam hati.
Elisa berpapasan dengan Ayasha di anak tangga menuju kamar Wira dengan membawa air yang di perintah kan Wira. Dia menunduk hormat. Walau hairan dengan muka Elisa merah menahan malu dan kesal. Dengan tiada prasangka Ayasha meneruskan langkahnya menuju kamar Wira.
Cekklakk
Ayasha tidak melihat sosok tuan Wira di sana. Dia berfikir Wira berada di kamar mandi, mendapati pintu kamar mandi tertutup.
"Tuan, airnya Aya letakkan di meja" Serunya.
Baru ingin melangkah keluar dari ruangan itu, Wira muncul dari kamar mandi dengan wajah memelas. Dia langsung mengunci pintu kamar.
Deg.
Jantung Ayasha bagai terhenti, dia mengerti apa akan terjadi selanjutnya.
Wira mendekati dan membawa Ayasha ke kasur buru-buru. ******* bibir ranum Ayasha.
"Aya...aku perlukan pelepasan. Aku gak tahan" ucap Wira. Wajah Wira di selubung kabut gairah.
.
.
.
Bersambung
__ADS_1