
"Pak, bisa gak Elisa minta nombor hp, ya..bisa membahas soal perusahaan" Ucapnya penuh harap.
"Ehem..maaf nona Elisa, Saya akan berikan no hp secretary dan Assistant saya..jika ada yang ingin di bahas, kamu bisa buat temujanji dahulu" Jawab Wira.
"Maaf Nona, saya pergi dulu..sila terusin makannya.. Gue ada urusan lagi. makanan ini saya udah bayar..permisi Nona Elisa" ucap Wira lalu meninggalkan Elisa dengan kecewa.
Elisa menggenggam tangannya menahan kekesalan kerana penolakan dari Wira. Jelas-jelas sikap Wira menolak untuk di dekati.
"Wira.. kamu susah di gapai" Gumamnya perlahan.
"Aku akan usaha mendekati mu Wira.." Elisa membatin.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Wira masuk kedalam mobil Audi miliknya lalu mendail nombor hp seseorang.
Dreet dreet
Tak memakan masa lama, panggilan di sambut.
"Helo.. kamu carikan gue sebuah apartment yang berhampiran kantor dan tempat untuk kuliah" Perintah Wira.
"Baik tuan"
"Cari secepatnya" Ucapnya lagi.
Tut
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Petang itu, pukul 5 Wira sudah tiba di Mansionnya. Dia bergegas menuju ke kamar untuk beristirahat. hari ini emosinya bagai terkuras dengan kekesalan para wanita yang berusaha menggodanya.
Namun hatinya berbunga membayangkan gadisnya yang beransur masuk kedalam hatinya.
__ADS_1
"Aya..." seru Wira dalam hati. Dia tersenyum sambil memejam mata. Hingga tak sedar dia terlelap petang itu.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Ayasha kalut mendapati mobil sang tuan terparkir indah di garaj. Dia panik menuju kamar tuannya.
Ceklek
Ayasha membuka knop pintu lalu mengintip melihat keberadaan Tuannya itu. Mata Ayasha menangkap sosok yang dia cari sedang terlelap di kasur menjadi saksi penyatuan mereka.
Ayasha sebisa bergerak senyap mengerjakan tugas hariannya menjadi pengurus peribadi Wira. Menyediakan Air mandi, handuk dan pakaian ganti.
Ayasha ingin membangunkan Wira untuk segera membersihkan diri. Ayasha mendekat dan menatap wajah Wira. Hatinya berdesir melihat ketampanan Sang Tuan.
"Tuan Wira, kamu sangat tampan" Ayasha hanya mampu berucap dalam hati.
"Sudah puas menatapku Aya" ucap Wira
"Aaaa!!!" Seru Ayasha.
"Huahahaha..Aya kamu ketahuan mencuri menatapku" Wira ketawa berbahak dengan tingkah imut Ayasha. Situasi yang langka. Wira yang tidak pernah ketawa sejak dia merintis bisnes dan bekerja keras menjadikan ambisinya menjadi nyata.
Ayasha memanyun bibirnya dengan cemerut dikerjain Wira.
"Mari gue bantu bangunin." Wira menghulur tangan Menarik Ayasha untuk berdiri.
"Tuan.. Aya udah siapin keperluan tuan mandi" Ucap Aya.
Wira mendekati Ayasha tidak ke kamar mandi.
Happ
Wira memeluk Ayasha. Dia bagai mendapat kehangatan dan kedamaian dalam dakapan Ayasha.
__ADS_1
"Bagaimana Aku gak jatuh cinta padamu tuan. jika kamu selalu membuat aku jatuh dalam pesonamu" Ucap Ayasha dalam hati.
"Tuan" seru Ayasha perlahan. "Mandi gih" sambungnya.
Cup
Wira mengucup pipi Ayasha lalu melepaskan dakapan menuju ke kamar mandi.
Ayasha memegang pipinya dan keluar meninggalkan kamar Wira.
"Bisa-bisa jantung aku tercabut dengan kelakuan Tuan" Gumamnya.
"Aya..Kenapa wajahmu merah" Tanya mbok Wiwin.
"Duh..bagaimana ni"
"Erm..itu kamar tuan sedikit panas.." dustanya.
"Mbok..Aya ke belakang ya." Ayasha cuba mengalih curiga mbok Wiwin.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Selesai makan malam, Wira mendekati Ayasha yang sedang membasuh pinggan.
"Malam ni hantar minuman panas ke kamar" Bisiknya pada Ayasha.
Ayasha mematung menahan gejolak di dadanya. Walau dia pernah melakukan jiwa mudanya masih belum bisa mengimbangi dan masih ada ketakutan.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung.