
Dua bulan berlalu.
"Dino, bagaimana persiapan pernikahan kamu dan Tasya, jangan sungkam minta bantuan" Ujar Wira dengan menatap wajah Dino yang sejak tadi sibuk memeriksa fail-fail yang bertimbun di atas mejanya.
"Tidak perlu susah-susah tuan Wira, terima kasih, dan untuk masa ini semua masih lancar menuju hari itu" Jawab Dino dengan wajah yang berseri-seri.
"Bisa gak kamu buat expressi wajah biasa saja, gak perlu genit gitu, aku tahu kamu gak sabaran belah duren" Ucap Wira.
"Tuan aja yang iri..rasanya aku hanya bertindak seperti biasa dan normal" Jawab Dino membela diri.
"Ya..sudah..aku pergi ke ruangan ku.." Ucap Wira.
"Tuan, kamu seperti tidak dapat jatah dari isteri aja" ucap Dino lirih namun masih kedengaran di telinga Wira.
"Kamu sok tau..Ya udah, aku cuma mahu sampaikan, segera siapkan kerja kamu sebelum hari pernikahan kamu, jika tidak, jangan harap ada honeymoon" ancam Wira, dan berlalu meninggalkan ruangan Dino.
"Arghhh..bos galak..tidak punya perasaan..huhh!!!" Kesal Dino. Dengan hitungan tidak kurang sebulan pernikahannya dengan Tasya akan di laksanakan. "Malam ini harus kerja lebih masa" Ucapnya dalam hati. "Gapapa..yang penting honeymoon" Batin Dino girang tidak sabar menanti hari pernikahannya dengan Tasya.
Sedang fokus mengerjakan pekerjaannya Dino dikejutkan dengan dering panggilan dari hp yang sejak pagi diabaikan.
dreett..dreett..dreett (seperti itu kira-kira bunyinya)
Melihat nama yang di papar pada skrin hp membuat Dino memukul dahi dengan tapak tangan. Segera Dino menjawab panggilan itu.
"Hello Bebe" Jawab Dino lemah.
"Sayang, adakah kamu benar-benar ingin meneruskan pernikahan kita?" Tasya langsung meluapkan emosinya. Bagaimana tidak gadis itu emosi, sejak masa makan siang dia menunggu di butik langganan mereka untuk mencuba pakaian pengantin mereka.
Dino melihat jam yang melingkar di tangannya, "Jam 4, gumamnya perlahan" Dino mengusap wajahnya kasar, tanpa sengaja dia melupakan hal yang penting itu. huftttt...
"Maaf sayang..tunggu sebentar, aku segera kesana" Jawabnya sendu. Dino amat menyesali kesilapannya.
"Tidak perlu!!" Jawab Tasya..
"Bebe..maafin aku, Tuan Wira mengarahkan aku menyiapkan proposal untuk projek yang akan datang, Kamu tahu kan, aku ingin bersenang denganmu tanpa beban pekerjaan, kerana itu aku berusaha menyelesaikan sebelum hari pernikahan kita" Jelas Dino.
__ADS_1
Tasya hanya diam tidak menjawab.
"Bebe..Jangan marah please..Tunggu di sana sebentar,aku segera kesana" Ulang Dino.
"Gak perlu..malam saja,.aku udah minta temujanji malam ini..kamu teruskan saja pekerjaan...malam nanti jangan lupa, jika kamu lewat seminit aja, kita batalin aja" Ucap Tasya yang masih marah,walau tidak semarah tadi.
"oke..oke..janji,,mmuah! jangan marah lagi"
"hmm" Jawab Tasya singkat.
"Jawabnya panjang sikit..jangan hanya hmmmmm" Pujuk Dino pada sang pujaan hati.
"Iya..iya..hmm kamu sudah makan?" Tanya Tasya, gadis itu amat yakin sangat kekasih pasti belum menjamah makanan, kerana ini pertama kali calon suaminya itu melupakan janjinya. Pasti kesibukan yang membuat lelaki itu melupakan masa makannya.
"Maaf, aku belum makan, hanya makan roti dan susu tadi pagi" Jawab Dino dengan menggaru kepala yang tidak gatal.
"Kamu jangan mengabaikan kesihatan kamu sayang" Ucapnya lemah. "Apa..pekerjaan kamu belum siap?" Sambung Tasya.
"Sebentar saja siap" Jawab Dino.
"Aku ke kantor kamu bisa gak? langsung dari sana kita makan dan fitting baju pernikahan kita" usul Tasya.
"Oke..bye sayang"
"Oke..Love you bebe"
"Love you too..bye"
"Love you more..bye"
Tutt ..
.
.
__ADS_1
Jika Dino dengan suasana hati yang bahagia, berbalik dengan calon Daddy ini, Wira pusing dengan isteri kecilnya yang sejak seminggu tidak ingin di dekati, jika diawal kehamilan Ayasha tidak mengalami gejala mabuk dan muntah-muntah, malah di usia kandungan memasuki trimister kedua ini Ayasha mood ibu hamil ini sering bertukar-tukar. Dan hari ini genap seminggu Ayasya tidak ingin di dekati suaminya Wira, calon mommy itu akan mual mencium bau badan Wira, dan hal itu amat menyeksa diri Wira, kerna tidak bisa meminta haknya.
"Sayang, Hubby rindu..kata pada baby jangan hukum daddy..daddy tidak sanggup lama-lama tidak tidur peluk-peluk mommy..C Joni juga sudah lama gak ketemu jeni" Sejak berapa bulan ini, pawang c joni sudah ada gelarannya, dan sudah di ketahui ulah siapa yang beri gelaran jika bukan yang punya Joni.
"Hubby..kamu pergi sana..kamu sangat bau" Jawab Ayasya dengan menutup hidungnya.
"Sayang.." Rengek Wira.
"Hoekk..hoekk" Muntah Ayasha yang kedengaran dari luar kamar. Yah.. kedua suami isteri itu berada di depan kamar mandi.
"Baiklah..Hubby gak akan ganggu kamu sehingga kamu pulih dari mualnya, jangan lama-lama sayang" Ucap Wira lirih dan sedih.
Semua itu tidak lupus dari pandangan Ayasha. Suaminya itu meninggalkan dirinya yang tidak ingin di dekati. Ayasha merasa terluka melihat wajah sugul sang suami berjalan keluar dari kamar mereka,menuju kamar tamu yang seminggu ini Wira gunakan.
"Hik..hik..Maaf by..Aya gak sengaja, Aya juga gak faham kenapa bisa begini..hik..hik" Ucapnya sendu. Dia sedar, dia juga amat merindui suaminya itu. Rindu belaian dan sentuhan Sang suami.
"Dek...udah seksa daddynya..kasihan daddy. Sudah cukup seminggu dek, mommy udah rindu daddy" Ayasya membelai perutnya yang membuncit, cuba memberi pengertian.
Malam itu, Wira mengelak bertemu dengan sang isteri, malah di meja makan sekali pun Wira mengurung niatnya untuk makan bersama seperti kebiasaan. Itu Semua dia lakukan demi kesihatan Ayasya, Wira merasa sedih melihat isterinya terseksa muntah jika berdekatan dengannya.
Berbeza dengan Ayasya, calon mommy itu menunggu suaminya duduk makan bersama, walau tidak berdekatan namun bisa melihat wajah walau berjarak beberapa kerusi di meja makan itu.
"Mbok..Tuan Wira belum turun makan?" Tanya Ayasya setelah hampir setengah jam menunggu.
"Nona Aya, Tuan berpesan meminta Nona makan terlebih dahulu, katanya dia belum lapar" Jawab Mbok Wiwin.
"Oh..iya" Jawabnya sendu.
"Tuan juga berpesan, nona harus makan dan jaga kesihatan" Sambung Mbok Wiwin.
"Baik mbok" Jawahnya lirih, tanpa sedari airmatanya menitis di pipi dengan sela-sela suapannya. "Sayang...hubby..hik" batinnya.
Sedangkan Wira di kamar hanya berbaring berbantalkan Kedua tangannya sambil memandang lurus arah siling dinding. "Tidak apa sayang, hubby akan sabar menunggu mu datang sendiri kepadaku" Ucapnya perlahan.
.
__ADS_1
.
Hai reader kesayangan.