
Elisa hanya bisa menangis melihat keadaan Sang Papa yang di nyata mendapat serangan jantung. Kondisi jantung Tuan Digantara di sahkan dalam keadaan kurang baik. Perlukan rawatan rapi.
"Hik..hik..hik..Maafkan El..Papa harus sihat, El janji gak buat Papa susah..El akan berubah..Papa bangun Pa" Elisa terus menangis memegang tangan sang Papa yang terbaring di katil pesakit dengan alat-alat medis terpasang di tubuh Tuan Digantara.
Tangan Tuan Digantara beraksi mendengar ucapan Elisa, perlahan dia membuka matanya.
"El.." Panggilnya dengan suara yang tertahan di kerongkong.
"Papa..hik..hik..Maafin El..El janji gak buat lagi" ucapnya.
El..ba.wa pri.a i.tu ber.jum.pa Pa.pa" ujarnya terbata-bata.
Lantas membuat Elisa tersentap mendengar permintaan Papanya.
"Papa..dia..dia bukan pacar El" Jawabnya.
"Ba.wa di.a jum.pa Pa.pa El" Tuan Digantara mengulang dengan suara memelas.
"Ya...El akan bawa dia menemui Papa,..Papa tenang..udah sembuh, El bawa dia jumpa Papa..ok" Ucap Elisa panik dan cuba menenangkan Papanya yang terlihat kesal padanya.
Tuan Digantara kembali memejamkan mata. Dia enggan menatap Elisa. Dia menahan amarahnya, dengan pura-pura tidur.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Mbok..Aya gak kerja di sini lagi mbok..Aya sambung kuliah. dan menatap di kawasan lebih dekat dari universiti tempat Aya kuliah" Ucap Aya.
Mbok Wiwin berhenti mengerjakan pekerjaannya dan menatap Ayasha mencari kejujuran di wajah gadis yang telah di anggapnya sebagai anak sendiri.
"Kenapa mendadak Aya" Ujarnya tak rela melepaskan gadis itu sendirian.
__ADS_1
"Aya, baru mendapat kabar dari universiti itu. dan minggu depan Aya harus melaporkan diri" jelasnya lagi.
"Di mana kamu akan tinggal" Tanyanya lagi.
"Udah Aya urusin. Mbok gak perlu bimbang"
"Ya..udah..kabari mbok jika ada Aya perlu bantuan" ucapnya dengan membelai kepala Ayasha.
"Iya mbok"
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Udah siap" Tanya Wira memeluk dari belakang menatap Kearah cermin di mana Ayasha memoles wajahnya dengan sedikit hiasan.
"Yah..Siap" ucapnya semangat.
"Ayo..Sarapan dulu..nanti gue hantar" ucapnya menarik tangan gadis itu.
"Aya..kamu jangan dekat-dekat dengan pria di kampus" Wira meluahkan kekhawatirannya.
Dia takut gadis itu tertarik dengan pria lebih muda darinya.
"Pffft..Tuan itu lucu, Aya pergi kuliah loh..bukan mencari jodoh. tapi kalau ada tertarik, ak bisa apa..hiihi" Aya ketawa melihatkan gigi putihnya.
"Kamu...huh..iya..iya..tapi kamu harus menghindar dari pria yang mendekati mu" Jelasnya
"Tuan, masa Aya gak bisa berteman"
"Berteman dengan cewek aja" Jelas Wira.
__ADS_1
"Ok tuan" Ayasha menunjukkan tangan simbol ok kearah Tuan plus plusnya itu.
Happ..Cup..
"Belajar dengan baik" Wira memeluk dan mencium dahi Ayasha. Dan Ayasha hanya menjawab dengan anggukan.
Perjalanan menuju kampus Ayasha hanya memakan masa 15 minit dari apartment di diami Ayasha. Kampus yang berada di tengah kedudukan perusahaan Wira dan kediaman Ayasha adalah pilihan Wira sendiri agar bisa memantau dan menjaga gadis itu.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Tuan bucin udah sampai ni" Ucap Dino yang telah menunggu di ruangan Wira.
Wira mengabaikan ucapan sang assistant yang hanya meledaknya.
"Wir, kamu ada terima laporan Marco gak?" Soal Dino.
"Tentang Berita viral itu kah? gue gak peduli..Gue udah serah ke Marco? ujarnya santai.
"Wir, Marco cuma bilang, dia belum buat apa-apa ke cewek itu, dan Berita itu bukan Marco yang sebarin" jelas Dino.
"hah...Apa!!! Wira terkejut.
"Lalu..itu ulah siapa" Wira mengerutkan dahi.
Dino hanya mengangkat bahu.
.
.
__ADS_1
Bersambung