
Acara Makan siang yang hening hanya kedengaran bunyi senduk dan garfu. Papa Winata yang terus memandang hangat pada menantunya membuat Ayasha jadi kikuk. Wira menyedari kelakuan Papanya itu merasa tidak rela.
"Ehem...Papa kenapa liatin isteri aku sebegitu?" Suara Wira memecah keheningan di meja makan mewah itu.
"Masa Papa gak bisa liatin menantu papa!" Sahut Papa Winata.
"Ya..gak bisa laa..nanti isteri aku hilang nafsu makan.."
"Hubby, gak papa" ucap Ayasha melempar senyuman pada Papa Winata serba salah.
"Udah.. gak usah posesif kamu Wir..Papa lagi senang bakal punya cucu dari kamu" Ucapnya antusias. Diusianya yang tidak lagi muda, kehadiran anak dan cucu amat dia harapkan.
"Nak Aya.. makan yang banyak..biar cucu papa sihat dalam sana" Sambungnya.
Ibu Yunita hanya menjadi penonton tidak berniat mencela perdebatan dua pria yang sangat mirip cuma berbeza usia. Melihat suaminya terlihat senang bakal menimang cucu.
"Iya Pa..terima kasih..Papa juga harus makan loh" Ucap Ayasha.
"Ya nak, " Sahut Papa Winata memandang hangat pada menantunya.
Wira memerhati interaksi isteri dan Papanya, hatinya sedikit senang melihat penerimaan papanya pada isterinya.. Walau Wira pernah kesal pada Papa Winata namun dilubuk hatinya dia amat menyayangi satu-satu keluarga yang dia punya.
......................
Tasya bertatih berjalan ke admistration untuk melunaskan sisa bil rawatan. setelah doktor menyatakan sudah bisa discaj hari itu. Gadis itu berusaha untuk tidak bergantung pada Dino. Pria itu sejak malam tadi pamit untuk menunaikan pekerjaan yang perintahkan Wira. Dia juga tidak mengerti pekerjaan apa harus di kerjakan pada malam hari.
Seperti yang di rencanakan Tasya dia tidak ingin merepotkan Dino..Selama 4hari Tasya di rawat Dino terus menjaganya walau dia harus ulang alik ke perusahaan dan rumah sakit.
"Huh...Aku harus bisa" Tasya menyemangati diri sendiri. Walau doktor telah membolehkan Tanya keluar dari rumah sakit keadaan kakinya masih belum pulih sepenuhnya. Tasya berjalan menggunakan bantuan tongkat ketiak menyelusuri lorong rumah sakit menuju lobby untuk menunggu taksi yang di pesannya melalui aplikasi.
Setelah bersusah payah akhirnya Tanya tiba di kompleks perumahan kediamannya.
__ADS_1
"Pak..bisa tolong bawa koper masuk ke dalam rumah?" Katanya.
"Boleh nona..Mari saya bantu!" kata supir itu.
Setelah selesai membayar kos taksi, Tasya menduduki sofa di ruang rumahnya. Dia memikirkan tiada bahan makanan di rumah itu. Sebelum kecelakaan dia baru bercadang ingin mengisi stok makanan dalam peti ais itu. Huh...miris sekali.
Tasya mencari aplikasi penghantaran makanan, dia memesan makanan untuk makan siang. sepertinya dia akan bergantung pada aplikasi itu selagi keadaan kakinya belum pulih sepenuhnya.
"Huh..sepertinya aku tidak dapat menerima pekerjaan untuk beberapa lama, aku harus berjimat" Tasya bermonolog sendiri. Sudah hampir setahun Tasya menjadi teman kencan. Bayaran yang lumayan hanya menemani bercerita, menjadi teman ke acara dan teman curhat. Pria yang menyewanya kebanyakan adalah yang jomblo dan pria kesepian. Walau begitu Tasya tidak pernah ingin dibawa ke ranjang walau dia di bayar berlipat kali ganda. Dia juga tidak ingin para penyewa khidmat dirinya berbuat berlebihan. Dan tidak ada sentuhan berlebihan kecuali berpegang tangan atau bergendengan. Dia memegang prinsip itu.
Dino panik mendapati ruang inap Tasya kosong. Dino bergegas mencari perawat untuk bertanya keberadaan Tasya.
"Sus...Pesakit di ruangan itu pergi kemana ya?" Tanya Dino.
"Oo..Nona Tasya sudah discaj pagi tadi Tuan" Jawab suster.
"Hah..sudah pulang" Dino mendadak bingung.
"Terima kasih suster" Ucap Dino.
Dino termangu seketika. Tasya dia memberitahu padanya. Dia membayangkan keadaan Tasya yang kesusahan.
Tidak berfikir panjang Dino harus menyusul Tasya ke rumahnya, Dia berniat ingin memarahi Tasya tidak mengabari kepulangannya.
"Huh..Bodoh kamu Tasya. Kamu fikir kamu kuat banget, sampai gak mahu bantuan ya. Jalan aja gak benar, sok kuat kamu" Gumamnya kesal.
Kaki panjang Dino melangkah separuh berlari menuju kenderaannya. Tujuan utamanya ialah, rumah Tasya.
Ting tong
Ting tong
__ADS_1
Ting tong
Tasya yang baru siap mengisi perutnya terkejut dengan bunyi bell yang seperti gak sabaran.
"Aduh..siapa sih gak sabaran banget ni,..Gak tenang aku..kaki aku juga lagi sakit..huh" Gerutu Tasya sambil berhati-hati bangun.
Ting tong
Ting tong
Ting tong
"Ya....ya...sabar dong...ishhh!"
ceklakk
Deg
.
.
Bersambung
Like
komen
vote
😘*
__ADS_1