
"Aya..." Seru Tisya. Sahabat Ayasha. Perkenalan di saat hari pendaftaran pelajar baru membawa kepada persahabatan Ayasha dan Tisya. Hari ini mereka memulai kuliah selepas cuti semester pertama.
"Tisya!!" Usia muda mereka membuat sifat keanak-anakan muncul apabila berjumpa..Ayasha berubah menjadi riang dan bersemangat semula setelah Pak Yunus pulih dari sakit dihidapinya. Dia seperti mendapat jati dirinya semula.
"Ke kantin yuk..lapar!" ucap Tisya mengulas perutnya..
"Ya..udah..ayo..aku temanin" jawab Aya.
Mereka bergandingan melangkah ke arah kantin Kampus itu.
"Hai, Aya..." Sapa Bara..Senior fakulti kewangan. Bara menaruh hati pada Ayasha, namun Ayasha selalu menghindar. Namun Bara tidak berputus asa mendekati Ayasha.
"Hai kak Bara" Jawab Tisya tersenyum manis. Aya hanya diam dan meresap minumannya.
"Tisya..kamu udah siap? Tanya Ayasha kepada Tisya. Dia ingin segera pergi. kerna tidak ingin berlama-lama dengan Bara. Baginya kecemburuan Wira amat menyeramkan. Kejadian sebulan lalu masih berbekas di ingatannya, dimana Wira hampir menghancurkan apartment melepaskan amarahnya ketika Bara memaksa menghantar Ayasha pulang ke kediamannya.
"Oh..iya..Ayo" katanya bingung.
"Maaf kak Bara..kami ada kelas pagi ini" ucap Ayasha sopan.
"Oh..baiklah..semangat belajar.." Jawabnya kikuk.
Belum sempat Ayasha melangkah. Bara memanggilnya.
"Aya..bisa gak malam minggu nanti temani aku ke acara nikah sepupu aku" Tanya Bara. Walau dia sedar, gadis itu tidak akan menerima ajakannya. Baginya tidak salah terus mencuba.
"Maaf kak Bara.. Aya gak bisa..Maaf kak" Ayasha menolak halus. Dia menarik tangan Tisya menuju ke kelas mereka.
"Kak Bara, Tisya bisa kok temanin kak Bara" Tisya menggoda Bara. Namun Bara hanya menanggapinya dengan tersenyum simpul. Tisya faham di sebalik senyuman itu Bara menahan kekecewaan.
"Gak mau ya..ga papa deh..bye Kak Bara" Ucap Tisya kemudian pergi menghampiri Ayasha yang sedang menunggunya.
Bara hanya melihat nanar kepergian dua gadis itu hingga hilang dari pandangannya.
"Huh...Aya..kamu sangat sulit di gapai, gadis lain berlumba-lumba mencari perhatianku tapi kamu malah menghindariku" Gumam Bara dalam hati.
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Tok tok tok
"Maaf Tuan, Nona Sandra ingin menemui Tuan,.dia ada di luar..Apa perlu saya izinin masuk" Tanya Lidya tertunduk.
"Lidya..saya sudah ingatkan agar tidak mengizinkan dia berjumpa dengan saya, apa kamu gak ngerti?" Ucap Wira tegas dan memasang wajah dingin.
"Tapi tuan, dia ingin memaksa tuan, katanya dia ada ingin di bicarakan" Ucapnya lagi. Lidya tidak ingin Sandra kembali mengasarinya seperti waktu itu.
Wira berfikir sejenak.
"Suruh dia masuk" ucapnya dingin.
"B-baik Tuan"
Ceklakk
"Abang Wira..Kenapa susah banget bertemu Abang!" ucap Sandra menyerbu masuk.
"Sandra ingin meluangkan masa dengan Abang seperti dulu..Dulu Abang perhatian banget pada Sandra..Sekarang malah Abang udah berubah" ucapnya dengan wajah sedih.
"Sekarang abang gak bisa seperti dulu..Abang sibuk..Sandra bisa mencari pekerjaan kalau bosan, rugi kuliah jauh-jauh gak di pakai itu ilmu" Ujar Wira.
Sandra terdiam. "Masa aku bekerja, aku mahunya jadi nyonya kamu Abang Wira!!!" Sandra menjerit dalam hati.
"Kamu bisa mengajukan permohonan kerja di Hrd..Abang usahain luluskan..Tapi, kamu harus belajar dari nol" Ucap Wira..Dia tidak ingin Sandra mencari celah masuk ke dalam privasinya.
"Sial banget..Masa dari nol..Aduh"
"Tapi bang, Rara pingin jadi secretary abang..Bisa dekat-dekat dengan abang" Ucap Sandra.
"Gak Sandra..Kamu harus mulai dari nol" Tegasnya.
"Abang!! Rara ini calon isteri abang..Masa kerja dari nol..Sandra gak mahu!!"
__ADS_1
"Kamu jangan ngaco..!!
"Abang udah janji sebelum Rara kuliah ke luar Negara, jangan pura-pura lupa kamu bang"
"Rara..abang udah ada kekasih..abang gak pernah berjanji nikahi kamu"
"Bohong!! Abang gak ada kekasih..Abang itu milik Rara!!
"Kamu keluar Sandra..Aku gak mau bicara perkara ini..keluar kamu!!
"Abang jahat!! Abang gak bisa ada kekasih!! ucapnya lantang.
Rara menghentakan kakinya..Dengan deraian air mata dia meninggalkan ruangan itu.
Brakkkk..
Bergegas Dino masuk melihat keadaan atasannya.
"Kamu oke Tuan" Tanya Dino khawatir.
"Ya..oke..Perempuan itu memang gila" Ujarnya.
"Bisa-bisa dia meminta aku nikahi" Ucapnya memicit kepala yang berdenyut.
"What!!! Sandra itu terobsesi ke kamu tuan" Ujarnya.
"Din, Kamu hubungi Marco sediakan gadis yang bisa membantu menjauhkan Sandra daru gue" perintah wira.
"Baik..tuan"
.
.
*Bersambung
__ADS_1
Tinggalkan jejak..kasi semangat kak author 😍*