
Hampir satu bulan Tasya tinggal bersama Dino. Selama itu juga Tasya menjadi pengangguran. Dino yang memantau aktiviti Tasya membuat gadis itu menjadi risih.
Setiap hari pasangan yang hanya sebatas kekasih bayaran hanya bertengkar bila bertemu. namun tidak membuat Dino ingin membiarkan Tasya pergi dari apartmentnya. Ada sahaja ancaman yang Dino berikan agar Gadis itu bisa terus tinggal bersamanya.
"Bebe...!" Panggil Dino dari kamarnya.
"Ya Tuan"
"Bebe..aku bukan tuan kamu..".
"Ya..ya..Sayang, buah hati, jantung pisang" Ucap Tasya asal.
"Huh!! kamu suka bikin aku kesal bebe"
Tanpa kebenaran Dino membungkam bibir Tasya dengan ciuman dan *******. Sehingga Tasya tidak bisa menghindar.
"mmpthh...mmmppthh...haaa...Tuan kamu!!" pekik Tasya.
"Masih mahu panggilin Tuan..hemm?"
"Ya..ya..sayang pemaksa..kamu kenapa teriak pagi-pagi ini?" Tanya Tasya dengan wajah masam.
"Bebe..mana pakaian aku..kenapa hari ini kamu tidak siapin baju aku" Ucap Dino layak suami benaran.
"Aku gak ada mood,. kamu juga tidak suka pilihan aku..kemarin aja kamu cakap pilihan aku gak bagus..gak sesuai..jadi..lebih baik kamu saja pilih sendiri apa kamu mahu. Lagipun hari ini juga weekend" Ucapnya membalas sakit hati dengan kata-kata Dino.
"Hey bebe..kamu jangan ambil hati ucapan aku kemarin..walau aku protes tapi, kamu pasti lihat kan, aku juga memakai pakaian itu..Aku cuma mahu kamu belajar menyesuaikan pakaian kerja aku..kamu harus belajar jadi istri yang baik bebe" Tuturnya santai.
"Siapa juga yang mahu jadi isteri kamu..huh!!" Jawabnya ketus.
"Kamu jangan galak-galak sama aku bebe..takut nanti kamu gak bisa lupain aku.."
"Kamu terlalu banyak berhalusinasi sayang" ucapnya sambil meninggalkan Dino. Dino terkekeh dengan sikap acuh Tasya.
Tasya dengan lihai menyiapkan sarapan dengan menu yang mudah. Sandwich telur dan susu untuk dirinya pria pemaksa itu.
"Bebe..Aku harus segera pergi ni..sudah di tunggu Tuan Wira" Melihat Tasya tidak menjawab dia langsung menoleh ke arah dimana gadis itu duduk. Sarapan yang simple tersaji di atas meja. Dia mengurungkan niat pergi. Dino tidak ingin membuat Tasya kecewa tidak memakan sarapan yang disediakannya.
"Hmm..oke..oke..Aku akan sarapan" Senyuman manis Dino lemparkan untuk Tasya. Namun gadis keras kepala itu hanya memandang tanpa reaksi.
__ADS_1
Tidak memakan masa Dino menghabiskan sarapannya. Kerna dia harus segera menemui Tuan Wira.
"Bebe..aku pergi..aku tidak akan pergi lama..sekembalinya nanti kita pergi jalan-jalan..oke..kamu siap-siap bebe"
Cup
Deg..Sekian kali Dino membuat Tasya kebingungan. Sikapnya bagai kekasih benaran. Ketakutan yang Tasya hindari kini dia benar-benar alami iaitu..Jatuh cinta.
"hik..hik..hik..kenapa kamu terus membuat aku dalam situasi buruk Tuan Dino" isak Tasya dalam diam.
Bersikap galak dan pura-pura kesal tidak bisa membuat benteng hati Tasya kebal dari jatuh cinta pada pria yang dalam diam mempunyai tempat yang istimewa dalam hatinya. Ingin rasanya Tasya memiliki Dino sepenuhnya namun, latar belakang sebagai casanova membuat Tasya hilang keyakinan bisa menakluk pria itu. Dia tidak ingin dijadikan mainan lalu di tinggalkan. Kedekatan mereka beberapa bulan ini tidak mudah untuk Tasya menghindar pesona assistant Tuan Wira itu. Dia sedar, Dia sudah jatuh cinta.
.
.
Di kediaman Papa Winata.
"Pa..papa mahu kemana?" Tanya ibu Yunita terkejut dengan penampilan sang suami yang rapi.
"Em..papa ingin mengunjungi anak dan menantu ku dia mansion mereka..Jika aku tidak mengunjungi mereka entah bila mereka akan mendatangi Papa.." Jawabnya.
Ibu Yunita terdiam dengan perkataan suaminya. Dia juga mengiyakan kata-kata suaminya.
"Ahh...oo...pasti..aku pasti ikut.." Sahut Ibu Yunita. Dia merasa harus memberi sokongan moral pada pria paruh abad itu.
" Ini kah perkara yang membuat kamu gak senang tidur semalam suamiku" batin buat yunita.
Bergegas Ibu Yunita bersiap untuk mengunjungi anak dan menantu sambungnya. Sebisa mungkin dia ingin memulai hubungan yang baik dengan keluarga suaminya itu.
.
.
Seperti biasa disetiap hujung minggu sepasang suami isteri itu akan menghabiskan masa bermesraan.
"Hubby.. mana pesanan aku" rengek Ayasha.
"Sayang..sini peluk lagi..sebentar pesanan kamu sampai" Ucap Wira sambil mengeratkan pelukannya pada tubuh sang isteri.
__ADS_1
"Hubby..aku mahu kamu yang beli..bukan kak Dino..gak seharusnya hubby ganggu weekend dia" Ucap Ayasha
"Dia gak akan protes sayang..gaji aku beri bukan sedikit" ucapnya santai membuat sang isteri kesal dan mencubit perut suaminya itu.
"Aduhhh..Sayang..kamu kdrt ini.." Pekik Wira.
"Biarin..cuba aja repot ke polisi.. Hubby terus tidur aja..Biar aku sendiri pergi beli" perlahan Ayasha melepaskan diri dari pelukan suaminya.. dengan perut yang sudah membuncit Ayasha berhati-hati menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.
Wira yang merasa khawatir menyusul isterinya yang sedang merajuk itu ke kamar mandi. namun, Ayasha secepatnya mengunci pintu kerana tidak ingin suaminya menyusul.
tok tok tok
"Sayang..hati-hati ya..jangan sampai jatuh" Ucapnya. Wira tetap menunggu di depan pintu kamar mandi.
tidak lama pintu kamar mandi itu terbuka. dengan wajah yang cemberut Ayasha keluar setelah selesai membersihkan diri.
"Ketepi kamu hubby" Ucap Ayasha.Wira yang tidak berganjak menghalang isterinya untuk berlalu.
"Ayuh sayang..jangan merajuk please..Hubby pergi beli nasi geprek sekarang" Pujuk Wira.
"Pergi saja..kenapa gak dari tadi" Jawabnya
"oke..oke..hubby pergi..tunggu ya"
cup..cup..
Setelah Wira masuk ke dalam kereta. Wira membuat panggilan.
Wira: "Hello..Dino..Nasi gepreknya udah ada kah?"
Dino: Ya tuan..aku menuju kesana.
Wira: Kamu tunggu disana. aku menyusul kesana.
tut..
.
.
__ADS_1
.
helo guys..say hai!!!!