Dijerat Cinta Majikan

Dijerat Cinta Majikan
Bab 46


__ADS_3

"Selamat siang Tuan..Kami ingin membuat penangkapan keatas Sandra Hendrawan atas pertuduhan percubaan membunuh dan tabrak lari keatas Natasya Ersyani Gunawan di Mall kemarin, kami harap pihak Tuan bisa beri kerjasama" Jelas pegawai polisi itu.


Duarrrr


"Honey!!" seru Papa Winata melihat isterinya pengsan mendengar kenyataan dari polisi.


Tuan Winata membawa isterinya keruang utama dan membaringkannya disofa.


"Maaf Pak, kami harus melakukan tugas kami. sila tunjukkan keberadaan Sandra" Ucap Pegawai polisi yang sedari tadi menunggu jawapan keberadaan orang yang mereka cari.


Papa Winata menghela nafas berat.


"Bi..Tunjukkan kamar Rara" ucapnya dengan melirik kearah isterinya yang belum sedarkan diri. Papa Winata menepuk lembut pipi Buat Yunita untuk menyedarkannya.


"Honey...hei..honey"


"Pa..Papa" Bu Yunita membuka matanya perlahan dan mengumpul ingatannya.


"Hik..hik..hik..Papa..Rara..."


"Tenang honey..Rara harus terima hasil perbuatannya..Selama ini kita mendidiknya dengan kasih sayang, malah dia menconteng arang pada wajah kita" Sesal Papa Winata. Walau Rara adalah anak tirinya, dia menganggap Sandra seperti anaknya sendiri. Sebagai orang tua yang menjaganya Papa Winata juga merasa kecewa.


Sandra histeria mengamuk tidak ingin dibawa oleh pegawai polis.


"Mama....Papa...Rara gak salah..mama..tolong Rara..tolong Rara...Papa...Rara gak salah" Ucapnya meronta-ronta meminta di lepaskan.


"Hik..hik..Rara!!" Ucap Bu Yunita tersedu. Dia mendekati anak angkatnya itu sebelum dibawa polisi.


"Kenapa kamu lakukan ini Rara..mama gak pernah ajarin kamu jadi orang jahat..mama kecewa sama kamu Rara..mama kecewa..hik..hik!" ucap ibu Yunita.

__ADS_1


"Mama..Rara gak salah..wanita itu merebut Abang Wira dar Rara"


Plakk


"Kamu sadar Rara..Abang Wira kamu gak pernah cinta sama kamu. Wira gak pernah jadi milik kamu!!!. Kamu yang gak sedar diri sudah diberi kesenangan malah ingin hancurin hidup Wira..kamu harus berterima kasih udah terima kita yang bukan sapa-sapa Wira..kamu benar-benar gak ada malunya..Pak..bawa dia pergi" Selesai bicara panjang, Bu Yunita memutuskan tatapannya dari Rara dan membelakanginya. Membiarkan Gadis itu di bawah pihak polisi untuk menjalani hukuman diatas kesalahan yang di lakukannya.


Ibu Yunita hanya bisa menangis. Anak yang di tatang bagai minyak yang penuh tidak bisa dibanggakan. Dia mengusap airmatanya tanpa menoleh kearah kenderaan polisi yang beransur pergi meninggalkan halaman mansion itu.


"Mama..mama!!!" Seru Sandra. Namun Ibu yunita terus masuk ke mansion dan menutup pintu rumah mewah itu.


"Honey!!" Ucap Papa Winata memegang bahu Isterinya yang teresak dipintu sejak tadi tidak berganjak dari sana. Walau dia tidak ingin melihat Sandra memanggilnya namun dia masih mendengar laungan Rara yang meminta dilepaskan.


"Hik..hik..Papa...aku gagal mendidiknya..Hik..hik!" Wanita paruh baya itu masuk kedalam pelukan suaminya.


"Gak..kamu gak gagal..Rara aja yang masih labil..Kita doa semoga Rara bisa belajar dari kesilapan dia lakukan..Kamu sabar honey..Kita bisa melawatnya jika sudah tenang" Pujuk Papa Winata.


"Gak..Wira gak akan benci kamu..percaya papa..Walau dia itu keras..tapi, papa kenal anak papa itu gak akan bisa membenci kamu" Ujarnya.


"Ayo..kamu bisa sakit jika bersedih terus, kita tunggu aja bagaimana keputusan polisi" Ucapnya lagi.


Ibu Yunita hanya mengangguk patuh. Lalu mengikut suaminya untuk dibawa istirahat dikamar.


......................


Tasya yang pura-pura tidur cuba mengintip kegiatan Dino yang sejak tadi melakukan pekerjaannya di ruang tunggu kamar inap kelas vvip itu.


Dino yang menahan kesal dengan perintah dari atasan untuk menggantikannya mengurus perusahaan dan menjaga Tasya sekaligus. Dino melirik kearah Tasya.


"Hei..kamu gak usah pura-pura tidur, kamu mahu apa..mendingan aku masih ada disini, kamu bisa minta pertolongan" ucapnya yang tidak ikhlas.

__ADS_1


"Maaf Tuan..Tasya ingin ke toilet tapi, kaki aku sakit banget" Ucapnya lirih.


Dino yang kesal berubah hiba, melihat ketidakdayaan gadis itu. Walau mereka sering berhubung atas kerjasama Tasya dengan Wira, dua insan itu tidak pernah berkomunikasi intens membuat Tasya canggung dengan Dino. Berbanding dengan Dino yang sudah biasa berhubungan intim dengan berganti wanita tidak membuat dia canggung. Dino juga tidak pernah jatuh cinta. Baginya cinta dan nafsu berbeza tipis.


Dengan siaga Dino langsung mengangkat Tasya untuk dibawa ke kamar mandi.


"Aaa.!! Pak..gak perlu gendong segala.." tolaknya. Dino meletakkan Tasya semula dengan santai.


"Maaf..jadi mahu kamu gimana?". Tanyanya dengan wajah dingin.


Tasya jangan di tanya, jantungnya bagai hampir jatuh dari tempatnya. Deg degan dan nafas bagai tersekat.. walau dia wanita kencan bayaran dia mempunyai prinsip tidak ingin sentuhan berlebihan dalam kerjasama mereka.


Tasya menarik nafasnya perlahan. Huh..Dia cuba normalkan semula kondisi jantungnya.


Setelah normal, Tasya berinsut menggerakkan kakinya perlahan. Dino segera membantu memapah Tasya.


"Hem..tampan...gagah..harum...!" Ops..Apa kamu fikirkan Tasya..bisa-bisa kamu fikir gituan" Batin Tasya.


"Tasya"


"Tasya"


Bugh..


.


.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2