
Masa bergulir dengan cepat. Undangan acara makan malam dari Digantara Legacy berlangsung dengan secara tertutup. Hanya rakan kolega terdekat sahaja di undang. Walau pada dasarnya acara itu untuk mendekatkan Wiratama dengan Putri Digantara.
Elisa resah menanti kehadiran Wiratama yang sememang adalah tetamu yang di tunggu-tunggu. Penampilan Elisa yang memukau menjadi perhatian rakan bisnes Sang Papa. Namun, Elisa mengabaikan pandangan memuja pria-pria itu. Di fikirannya hanya tertumpu pada Wira yang belum menampakkan batang hidung.
Tidak berapa lama sang assistant Ww Group menunjukkan diri. Elisa mencari-cari sosok pria pujaannya.
Dino menghampiri Tuan Digantara untuk mengucapkan terima kasih atas undangan.
"Selamat malam tuan" Ujar Dino.
"Selamat malam pak Dino..Tuan Wira dimana pak Dino?" Tanya tuan Digantara sambil mencari-cari sosok Wira.
"Tuan Wira menyampaikan ucapan maaf kerana tidak dapat menghadirkan diri diatas undangan Tuan. Ada perkara penting yang dia harus tangani" ujarnya. Tentunya semua dusta.
"Sayang sekali Tuan Wira gak dapat hadir, gak papa..di lain hari saya harap dia dapat menghadiri undangan saya..sampaikan pada Tuan Wira pak Dino" Ucap Digantara kecewa, sambil menoleh kearah sang putri yang menahan kekesalan. Semua itu jelas terakam di mata Dino.
"Oh..iya..pasti saya sampaikan" ucapnya basa basi. Matanya melirik kearah gadis itu.
"Cih..gadis ini sangat berambisi..murahan" Gumamnya dalam hati sambil berlalu.
Elisa dengan amarah meninggalkan acara tersebut tanpa pengetahuan sangat Papa.
Elisa menuju kenderaan empat roda miliknya lalu menutupnya dengan kasar.
__ADS_1
"Ahhhhhh! Sialan lo Wira" Umpatnya meluapkan amarahnya.
Dreet dreet.. Elisa menghubungi seseorang. Tidak memakan masa panggilan terjawab.
"Helo..Beb..Gue butuh pertolongan lo beb" Ucapnya manja. Amarahnya tadi entah kemana.
"Jumpa gue di tempat biasa..Mmuah" Ucapnya.
Kereta mewah milik Elisa meluncur laju, menuju ke destinasi yang dijanjikan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Siluet yang diharapkan kehadirannya sedang memompa berada diatas gadis polos. Menyalurkan hasratnya dengan bersemangat. Hari itu dia tidak membawa Ayasha pulang ke mansion, melainkan ke Apartment yang baru dibelinya.
Seminggu ini Ayasha sering kurang tidur akibat mengerjakan kerja tambahan. Walau kelelahan namun Wira bisa menggantikan dengan kenikmatan. Ayasha juga bisa memberikan wang kepada sang bapak dikampung.
"Ahhh...Ayaaa" Erangan pelepasan kali kedua bagi Wira hari ini. Wira ambruk di atas Gadis yang bukan lagi perawan itu.
Wira menarik selimut menutupi tubuh mereka, lalu memeluk gadis itu dengan erat.
Wira tidak mengerti padi dirinya yang terlalu menginginkan Ayasha di ranjangnya. Memang brengsek. Dia juga tidak ingin menyalurkan hasratnya pada sembarangan wanita yang tidak jelas. Dia malah mengklaim Ayasha adalah miliknya mutlak.
Wira melihat jam di hp menunjukkan jam10 malam.
__ADS_1
"Aya..ayuh bersih-bersih.. nanti kita makan"
Makanan yang dipesan telah dingin. Bukan mengisi perut malah Wira membawa Ayasha beraktiviti ranjang. Bukan hanya sekali tapi Dua kali pelepasan Wira mengerayang gadis itu.
"syukurlah tuan masih ingat untuk makan, " batinnya yang sudah kelaparan namun sang tuan bagai tiada henti menye tubu hinya sejak jam7.
Ayasha makan dengan lahap tanpa mempedulikan sang tuan yang menatapnya insten. Wira merasa geli hati kerakusan Ayasha.
"Sebegitu lapar kamu Aya" Tanyanya.
"Tuan gak bagi jeda untuk Aya rehat" Ucapnya
"Huawahahaha...Kamu enak Aya..Aku gak tahan, jangan salahkan aku menginginkanmu.." ucapnya membuat Ayasha berhenti mengunyah.
Glekk
Ayasha menelan ludah.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung.