
Perjalanan yang memakan selama dua jam dari kota Y ke kota J yang dilalui sepasang suami isteri yang sedang mabuk cinta itu tidak di rasai, kerana sepanjang perjalanan Wira tidak habis menggoda isterinya yang polos dan penurut itu. Sikap yang buat Wira ingin terus menjeratnya dengan cinta yang dia miliki. Walau pada awalnya Wira memang bertindak bajet demi membuat Ayasha tidak bisa menolaknya.
Sampai di kota J mereka terus menuju ke mansion Wira. Mereka di sambut antusias oleh Mbok Wiwin dan pembantu yang baru di rekrut Wira bagi meringankan pekerjaan mbok Wiwin selepas Ayasha berhenti jadi pembantu di sana.
Ayasha bagai tidak percaya dia akan kembali ke tempat itu sebagai isteri majikannya. Wira membawa Ayasha ke kamar utama, iaitu kamar yang di tempati Wira. Perasaan bercampur baur Ayasha rasai. Tempat di mana dia menyerahkan keperawanannya kepada Wira demi ayah tersayang.
"Sayang..kamu kenapa" Tanya Wira melihat Ayasha mematung.
"Oh..gak papa by" Elaknya.
"Sayang..maaf" Wira dapat merasa Ayasha mengenangkan perbuatan bajetnya. Wira memegang tangan isterinya.
"Maaf caraku yang brengsek mendapatkan mu..Hubby gak mahu kamu menolak ku.. Kamu tahu, aku gak pernah dekat dengan lawan jenis, dan..kamu adalah pertama bagiku" Jelasnya panjang lebar.
Mata Ayasha terbuka mendengar pengakuan Wira.
"Hubby gak bohongin aku?"
"Sayang..lihat aku..pernah kah hubby bohongi kamu? Kamu udah ambil perjaka aku" Ucapnya memicit hidung Ayasha.
"Hubby juga udah ambil perawan aku loh" Rungutnya memuncung kan bibirnya.
"Hahaha...Iya..iya..Sekarang aku milik kamu dan Kamu milik aku..dan, di sini ada buah hati kita" Wira mengusap perut Ayasha.
"Terima kasih hubby"
"Gak..aku yang harus berterima kasih pada kamu sayang..terima kasih datang ke mansion menjadi pembantu peribadiku"
__ADS_1
Cup..Wira mengucup dahi Ayasha dan Wira membawa Ayasha duduk di kasur.
"Sini duduk..kamu udah lama berdiri..kamu harus istirahat banyak.."
Ayasha hanya menurut. Dia sememangnya letih baru dari perjalanan memang ingin merehatkan diri. Sejak hamil tubuhnya mudah letih dan mudah tertidur. Ayasha bersyukur diawal kehamilan dia tidak mendapat gejala seperti sesetengah wanita hamil yang mengalami simptom teruk.
...----------------...
Hari ini Wira membawa Ayasha bertemu Papa Winata dan ibu yunita. Kedatangan mereka yag tiba-tiba di sambut dengan tanda tanya dari pasangan paruh baya itu. Bagaimana tidak, seminggu lalu mereka sempat dikejutkan dengan berita viral di medsos kedekatan Wira dengan Tasya. Dan, dihadapan mereka Wira membawa gadis yang dulu dikenali sebagai pembantu.
"Apa-apaan ini Wira! Kenapa kamu bergandeng dengan pembantu ini" Tanya Ibu Yunita sinis.
Wira merasa tidak senang dengan pertanyaan ibu sambungnya itu langsung mencela dengan ucapan yang tidak kalah sinis.
"Dimana salahnya Bu Yunita?"
Wira menahan amarahnya, dia mengeraskan rahangnya mendengar hinaan yang di lemparkan kepada Ayasha.
Ayasha yang dari tadi hanya diam menunduk dan menahan kesedihan dengan penolakan Ibu Yunita. Dia cuba melepaskan genggaman tangan Wira namun genggaman itu malah semakin erat. Dia hanya pasrah, dia yakin suaminya itu sedang tidak baik-baik.
"Bu Yunita..kamu harus sedar, kamu bukan siapa-siapa untuk mengatur kehidupan aku..wanita yang kamu kata pembantu dan kamu kata tidak layak berdampingan dengan ku ini adalah ISTERI SAH AKU!! simpan dalam otak kamu..ini ISTERI AKU!!!" ucap Wira dengan tegas.
"Hubby..Sudah..." ucap Ayasha perlahan.
Ibu Yunita diam terpaku mendengar kenyataan itu.
"Honey..sudah..biar Wira menentukan pilihannya..Toh dia juga sudah dewasa..Kita doakan kebahagiaan rumah tangga mereka" Papa Winata menenangkan isterinya.
__ADS_1
Ibu Yunita mendesah kasar menghilangkan kekesalannya. Dia merasa dipojokkan tidak bisa berbuat apa, kecuali menerima keputusan Wira.
"Ibu sedar..ibu banyak masuk campur urusan kamu..Ibu cuma ingin yang terbaik untuk kamu Wira. Dan..Tentang Sandra..Ibu minta maaf, dia telah membuat kekacauan pada kamu, semoga dia bisa sedar kesalahannya" ucap Ibu Yunita menunduk.
"Ya..begitu seharusnya..Wira juga ingin sampaikan minggu depan kami akan adakan resepsi pernikahan kami" Ujarnya yang masih terasa kesal dengan Ibu Yunita.
"Sayang..ayo..kita balik..Disini gak nyaman untuk kamu dan bayi kita" Ucap Wira yang berniat menyindir Ibu Yunita.
"Bayi! aku akan punya cucu" Batin Winata. Kehadiran cucu yang telah lama dia nantikan. Wira yang enggan berdekatan dengan lawan jenis membuat pria paruh baya itu mengubur impian mengharapkan cucu dari Wira. Dan harapan itu hampir tercapai. Dia tak ingin mengabaikan kebahagiaan ini.
"Hubby..gak baik loh bicara begitu" Tegurnya.
"Ya udah..kita ayo.." Ucap Wira.
"Wira..kita sudah lama gak makan bersama, bagaimana jika setelah makan siang aja kamu balik, Papa juga ingin mengenali menantu papa yang manis ini" Ucap Papa Winata penuh harap. Dia berharap kehadiran menantunya dapat memulihkan hubungan dengan sang anak. Dan, dia ingin menggendong cucunya. Hatinya menghangat membayangkan bayi mungil yang bakal menemani hari tuanya.
Ayasha menggenggam tangan Wira berharap agar suaminya bersetuju dengan permintaan Papa Winata.
Wira memandang Ayasha meminta persetujuan,dan Ayasha mengangguk.
"Baiklah" Jawab Wira.
.
.
Bersambung
__ADS_1