
Iren segera mengeluarkan ponsel dari saku celananya untuk menghubungi orang menjemput motor yang sengaja dia tinggalkan, tidak mungkin di dalam kondisi pria itu menggunakan motor untuk pergi ke rumah sakit terdekat.
Iren mengambil alih kemudi mobil menuju ke rumah sakit terdekat, luka di sekujur tubuh Daniel dan juga wajah sedikit serius, masalah yang tidak bisa dibiarkan dapat menyebabkan infeksi yang bisa berakibat fatal.
Daniel tidak menyangka bertemu dengan wanita yang ahli bela diri, dirinya merasa malu karena tidak bisa membela dirinya sendiri dari beberapa penjahat yang menghadang, semakin muncul kekagumannya pada wanita itu.
"Jangan menatapku seperti itu." Ucap Iren yang menyadari kalau sedari tadi Daniel memperhatikannya.
"Eh, jadi kamu tahu?"
"Walaupun aku fokus mengemudi, tapi aku juga tahu diam-diam kamu memperhatikan ku."
"Dari mana kamu bisa belajar bela diri? Aku cukup terkesan dengan gerakan-gerakan tadi." Tanya yang bersemangat, menyukai wanita mandiri dan bisa ilmu bela diri.
Iren terdiam beberapa saat seraya menarik oksigen sedalam mungkin, mengeluarkannya secara perlahan. "Itu waktu aku kecil, aku sudah mulai hidup mandiri belajar ilmu bela diri sangat berguna karena aku tidak ingin merepotkan orang lain."
"Dia mempunyai pribadi yang unik." batin Daniel yang terkesan, diam-diam tersenyum tipis tanpa di sadari oleh wanita di sebelahnya.
Bangunan besar yang ada di hadapan tak jauh dari pandangan, Iren segera memarkirkan mobilnya di tempat yang sudah tersedia. Membopong tubuh pria itu, membawa masuk ke dalam rumah sakit agar segera mendapatkan pertolongan dari tenaga medis. Dia menunggu cukup lama, setelah dokter keluar dari ruangan barulah Iren memutuskan masuk ke dalam. Melihat rekan bisnis yang sudah dibalut oleh perban, membuat hatinya bersimpati.
"Mengapa kamu melewati jalan sepi itu, padahal masih banyak jalan alternatif lain."
"aku pergi dengan terburu-buru dan terpaksa melintasi jalan sepi itu, malang memang tak berbau hingga orang-orang itu hampir saja membunuhku. Aku sangat beruntung, kamu datang tepat pada waktunya, jika tidak … aku tidak tahu bagaimana nasibku."
__ADS_1
"Ya sudah, lain kali kamu hati-hati! Di sana memang rawan para penjahat bereaksi."
"Bagaimana dengan kamu?" Daniel menatap Iren dengan serius.
"Aku benci keramaian itu sebabnya memilih jalanan sepi." Jawab Iren singkat sambil mengangkat kedua bahunya acuh.
Semenjak hari itu, Daniel terus mencari alasan untuk tetap dekat dengan Iren. Wanita mandiri dan bisa bela diri adalah tipenya, sayang sekali dia malah mendapatkan penolakan karena sang wanita pujaannya merasa risih.
****
"Hai."
Aku mendongakkan kepala ke sumber suara, melihat Ariel yang tersenyum ke arahku.
"Aku temanin ya Mba."
Aku tak menggubris, pertemuan di jam makan siang di salah satu cafe tak ingin merusak suasana hatiku saat ini.
"Walaupun aku menolak, kamu juga bakalan duduk. Jadi, terserah."
"Lama kita tidak bertemu, aku rindu sama Mba."
"Lebay, cuka tiga hari."
__ADS_1
"Tiga hari sama dengan tiga tahun Mba, peka dikit kek."
"Dih, maksa."
"Mba, ikut aku yuk!" tawar Ariel membuatku menatapnya curiga.
"Gak ah, nanti kamu bawa aku ke rumahmu tanpa mengatakannya."
"Gak ke rumah, aku ingin bawa ke suatu tempat. Pasti Mba suka!"
"Oke."
Aku mencoba mengalihkan perhatian, tapi Ariel terus menatapku membuatku sangat risih.
"Apa lihat-lihat." Ketusku.
"Mba tahu gak bedanya Mba dengan knalpot?"
"Ooh ... kamu mau ngatain aku ya!"
"Bukan Mba, aku mau ngegombal. Gak asik ah!" ngambeknya.
"Dih ... ngambek. Lebay."
__ADS_1