Dikejar Brondong

Dikejar Brondong
Keahlian tersembunyi Ariel


__ADS_3

Aku sibuk mengurus masalah yang terjadi di kantor, mengutak-atik keyboard mencari sumber masalah dan mengecek data, tapi tidak menemukannya. Kemudian aku menyandarkan kepala di kursi kebanggaanku, melirik jam di dinding yang ternyata sudah waktunya istirahat makan siang. 


"Sudah waktunya makan siang," lirihku yang kemudian mengacuhkan perut lapar, masalah serius harus di tuntaskan sesegera mungkin. 


Aku fokus menatap layar pipih itu di depanku dengan sangat serius, mencari akar permasalahan. Beberapa kali ponselku berdering, bahkan tak aku hiraukan karena permasalahan ini harus diselesaikan, atau perusahaan ini akan mengalami kerugian yang sangat besar. 


Karena telepon selalu saja berdering membuat aku kesal, karena telah mengganggu ku yang terlihat cemas. Ternyata yang menghubungiku adalah Ariel, yang tadi ingin membawaku makan siang bersama. Segera aku mengangkat telepon darinya dan tentu saja menolak, aku tidak ingin menundanya lagi.


"Syukurlah kamu mengangkat telepon dariku, aku sudah berada di depan kantormu. Secepatnya temui aku di sini, karena mereka menahanku untuk masuk!"


Aku mengerutkan dahi karena rasa penasaran dari mana pria itu tahu kalau aku bekerja di sini, namun segera aku tepis pikiran itu dan mendahulukan hal yang lebih dominan.


"Sepertinya aku tidak bisa makan siang bersamamu."


"Tapi aku sudah menunggumu dari tadi di sini, temui aku sekali saja, kumohon!"

__ADS_1


"Baiklah, tunggu asisten ku yang akan datang menjemputmu."


"Oke."


Setelah sambungan terputus, aku menghubungi asistenku untuk menjemput Ariel yang menunggu di lantai bawah. Namun karena sangat asisten ku sibuk dan memiliki pekerjaan,  dengan terpaksa aku sendiri yang turun tangan untuk menjemput pria tengil itu.


Senyuman manis yang diberikan oleh Ariel kepadaku membuat orang lain terkejut karena aku berjalan dengan pria yang lebih muda dariku, hal itu sangat membuatku menjadi pusat perhatian semua orang, karena perawan tua berdampingan dengan laki-laki muda yang usianya jauh di bawah.


"Aku tidak punya waktu untuk makan siang, kamu saja yang pergi." Jelasku setelah sampai di ruangan, aku memijat pangkal hidung ku untuk mengurangi rasa sakit di kepala karena masalah di kantor.


Perlahan aku menganggukkan kepala. "Benar, tapi bukan masalah besar."


"Jika bukan masalah besar, wajahmu tidak akan menunjukkan hal yang sejelas itu, katakan padaku apa yang terjadi?"


Aku bisa melihat kalau Ariel khawatir dengan kondisiku saat ini, aku terpaksa menjelaskan permasalahan yang terjadi di kantor mengenai keganjilan pengeluaran dan juga pemasukan yang tidak seimbang, sudah berulang kali aku mengecek dan memeriksa setiap data tapi tidak menemukan apapun. Aku menceritakan semua itu, tentu saja pria itu tidak akan tahu mengenai apapun permasalahan kantor, diriku sedikit terbuka kepadanya. 

__ADS_1


"Apa aku boleh melihatnya?"


Sebelah alisku terangkat saat dia menawarkan diri, aku mulai berpikir apakah dia benar-benar mengerti atau hanya ingin menghiburku. Tapi belum sempat aku menjawab, tiba-tiba dia sudah ada di belakangku dan menyentuh komputer yang ada di hadapanku. Posisi kami sangat dekat, bahkan aku bisa mencium aroma maskulin di tubuhnya. Aku menelan saliva saat melihat jakunnya yang begitu menggoda, namun secepat mungkin aku sadar agar tidak tergoda oleh brondong. 


"Ada beberapa karyawan mu yang kamuflase merekap data dengan sangat baik, hingga dia mengantongi keuntungan itu." Jelas Ariel. 


Aku menganga tak percaya karena ternyata dengan mudahnya dia memecahkan permasalahan yang terjadi hanya dalam hitungan menit saja, aku mulai berpikir siapa dirinya yang sebenarnya?


"Ba-bagaimana kamu bisa memecahkan permasalahan kantor dengan sangat mudah?"


Ariel tersenyum dan mencium pipiku sebagai tanda upah jasanya yang sudah memecahkan permasalahan di kantor. 


"Aku sedikit bisa IT."


"Dia bilang sedikit? Tapi keahliannya seperti sudah pro." Batinku yang masih menatapnya. 

__ADS_1


__ADS_2