
Diam-diam Ariel tersenyum, menyukai ekspresi Iren yang menurutnya sangat menggemaskan, menjahili wanita dewasa yang di matanya seperti seorang gadis kecil.
"Lihat? Kami sendiri yang melanggar dan melewati batasnya."
"Pasti ada yang salah, aku selalu tidur jarang sekali merubah posisi." Jawab Iren yang tidak ingin kalah, sembari mengingat apa yang dia lewatkan.
"Benarkah? Bagaimana kamu bisa tahu posisimu sendiri di kala tidur? Tidak masuk akal." Ariel berakting dengan penuh penghayatan, agar meyakinkan.
"Aku … aku__." Iren sangat gugup karena dia tidak bisa membela dirinya sendiri, faktanya dialah yang melanggar aturan yang diperbuatnya.
Iren yang berpikir dan lengah di manfaatkan oleh Ariel, pria itu dengan cepat berada di atas tubuh wanitanya. Keduanya saling menatap satu sama lain, manik mata indah membuat mereka saling memuji satu sama lain di dalam hati.
Iren mengerjapkan matanya berulang kali, menelan saliva dengan susah payah karena tidak sanggup menahan pesona pria yang lebih muda darinya itu.
__ADS_1
Beberapa detik kemudian, Iren ingin mendorong dada bidang Ariel, bukan malah terlepas tapi malah jadi sebaliknya. Pria itu memegang kedua tangannya dan menyelipkan jemarinya di antara jemariku, aku seperti terikat dan tidak berdaya, terpaksa menerima perlakuannya.
"Lepaskan aku!"
"Melepaskanmu? Kamu harus mendapatkan hukuman karena telah melanggar aturan mu sendiri."
"Aku di hukum? Itu tidak di sengaja, aku tidur biasanya seperti batu, mana tau kalau sampai melewati batasan yang aku buat sendiri."
"Jangan mencari alasan membenarkan dirimu, sudah terlihat jelas. Bersiaplah menerima hukuman dariku!"
Tanpa menunggu waktu lagi, Ariel mengambil kesempatan karena otaknya yang pintar mengambil kesempatan. Bibir wanita dewasa di dalam kungkungan nya membuatnya sangat candu, seperti ada sesuatu yang membuatnya selalu menginginkan bibir merah merekah yang menggoda.
Wajah Ariel mendekat dan mencium bibir merah menggoda iman, memainkannya dengan perlahan dan juga lembut. Dia memberikan kenyaman agar menikmati permainan lidahnya di dalam rongga mulut Iren, ciuman yang semakin lama semakin panas membakar sesuatu di dalam sana.
__ADS_1
Iren yang di buat nyaman dengan ciuman itu akhirnya tersadar, merasakan sesuatu yang mengganjal di balik celana Ariel. Tidak ingin terjadi sesuatu padanya yang bisa berakibat fatal, segera mendorong dada pria itu dan langsung duduk membelakangi.
"Seharusnya kamu tidak melakukan hal itu!" tegas Iren.
"Kenapa? Bibirmu sangat manis dan aku menyukainya."
Iren yang merasa Ariel hanya mempermainkannya langsung saja menoleh dengan tatapan tajam terarah pada pria yang usianya jauh di bawahnya.
"Ini hanya akan membuatku kehilangan kepercayaan diri, berhentilah mencium bibirku!"
Iren memutuskan untuk membersihkan dirinya, kedua kakinya melangkah menuju kamar mandi. Sementara Ariel terdiam dan sedikit kecewa, karena dia tidak bisa meyakinkan wanita itu akan perasaannya.
Beberapa menit kemudian, Ariel yang melamun terkejut saat dia di suguhkan dengan pemandangan indah. Iren yang hanya mengenakan handuk putih memperlihatkan bagian bagian dada atas dan kaki putih mulus membuat jakunnya naik turun.
__ADS_1
"Sial." Segera Ariel beringsut dari tempat tidur menuju kamar mandi, sekaligus menurunkan hasratnya sebagai laki-laki normal.
"Ada apa dengannya?" pikir Iren yang acuh, dengan cepat dia memakai pakaian takut Ariel mencari keuntungan dari kelengahannya.