Dikejar Brondong

Dikejar Brondong
Kesempatan dalam kesempitan


__ADS_3

Aku duduk di sisi ranjang dan terdiam memikirkan cara agar pria itu tidak melewati batasan, biar manapun juga aki seorang wanita yang tidak seharusnya satu kamar bahkan satu ranjang dengan seorang pria asing. 


"Kenapa kamu melamun? Tidurlah." 


Aku menatap Ariel kesal, apalagi saat pria itu dengan sengaja menepuk ranjang di bagian sisiku. Kami terlihat seperti pasangan suami istri, karena sifat hatiku yang tidak tegaan membuatku terpaksa membiarkannya tidur. 


Aku segera menghadap ke arahnya, merebut bantal yang ada di kepala dan juga bantal di bagianku. Ku jadikan dua bantal dan bantal guling sebagai pembatas, ku tinggikan batas itu menjadi sebuah benteng perlindunganku.


"Untuk apa semua ini?" 


"Ini batas kita, kamu tidur di sebelah kanan dan aku di bagian sisi kiri. Jangan ada yang melewati batas yang sudah ku buat ini, untuk berjaga-jaga." Kecamku pada Ariel. 


Ariel tersenyum penuh arti. "Manis sekali, apa kamu pikir batas itu aman nantinya." 

__ADS_1


"Tentu saja aman, karena aku tidur dengan tenang dan tidak lasak." 


"Baiklah, semoga saja membantu." 


Aku menyerngitkan dahi mencerna perkataan yang di ucapkan Ariel, aku tahu ada arti yang tidak aku pahami. 


"Hei, apa maksudmu?" ucapku yang sangat penasaran, bukan jawaban yang aku terima tetapi Ariel malah tidur dengan seluruh tubuhnya berada di bawah selimut. 


Aku melihat wajahnya yang polos sudah tertidur, lelah karena perjalanan jauh. Aku melambaikan tangan di depan wajahnya, tentunya memeriksa apa dia sudah tertidur atau belum. 


"Sepertinya dia sudah tidur. Oh ya Tuhan, aku ngantuk sekali." Gumamku yang terus menguap, tidak bisa aku melawan rasa kantuk yang teramat dalam. 


Akhirnya aku memutuskan untuk tidur membelakanginya, berharap dia tidak melewati batasan. Perjalanan jauh dan beberapa hal yang kami lakukan bersama membuatku sangat lelah, hal yang tidak pernah aku bayangkan sebelumnya. Perlahan mataku mulai mengendur dan tertutup, tidak mengingat apapun lagi karena masuk ke dalam fase mimpi indah. 

__ADS_1


Di pagi hari yang indah, Ariel terbangun dari tidurnya dan tersenyum saat yang dilihat pertama kali adalah Iren. Tidur berhadapan, membuatnya seperti menjadi seorang suami dari wanita itu. 


Perlahan dia menyentuh rambut yang menutupi wajah cantik milik Iren, tersenyum puas dan mengambil kesempatan dengan menggeser tubuh wanita itu agar masuk ke dalam wilayahnya.


"Sepertinya ini menyenangkan, mengerjainya sekali tidak masalah." Ucap Ariel di dalam hatinya, seraya menahan tawa dan ingin melihat bagaimana reaksi Iren nantinya.


Ariel segera memejam kedua matanya, pergerakan dari Iren yang sepertinya ingin bangun dari tidur dengan secepat mungkin berpura-pura kalau dia masih tertidur pulas. Tidak lupa dia meletakkan tangan lentik itu ke atas bahunya, dan kaki putih mulus itu dia letakkan di atas kakinya. 


"Sempurna." 


Aku mau melihatkan tubuh dan perlahan membuka kedua mataku namun pandangan pertama yang aku lihat adalah Ariel, si bocah tengil. Namun aku terkejut melihat tangan dan kakiku sudah menjadikan pria itu seperti bantal guling, sesegera mungkin aku menarik kembali dan menjauh darinya, tapi terlambat saat pria itu telah membuka matanya.


"Sial. Bagaimana ini bisa terjadi? Kenapa aku melewati batas yang aku buat sendiri?" ucapku di dalam hati merutuki diri sendiri. 

__ADS_1


__ADS_2