
Setelah cukup puas main jet sky, aku mengganti pakaian, hal yang sama juga di lakukan oleh Ariel.
Saat duduk bersama, kami memesan makanan lebih dulu untuk mengisi perut yang terasa kosong setelah bermain air benar-benar nikmat. Aku sampai menambah, juga makanan di sini ternyata sesuai dengan seleraku.
"Bagaimana pendapatmu mengenai tempat rekomendasiku? Indah bukan?"
Aku mengangguk seraya menikmati hidangan seafood dengan kuah pedas manis yang sangat nikmat, bahkan Ariel tersenyum melihat porsi makanku yang sudah seperti porsi kuli.
"Sangat-sangat indah, tempat ini kan aku jadikan salah satu destinasi yang wajib di kunjungi."
"Ada hal yang lebih menakjubkan lagi."
Aku menatap Ariel dengan semangat, pria itu mempunyai begitu banyak cara menikmati hidup yang terasa indah bila kita bisa membawa diri.
"Apa?" ujarku bersemangat seraya mendekatinya.
"Melihat sunset … itu kalau kamu mau."
"Sepertinya menyenangkan."
Aku sudah seperti anak kecil karena tidak tahu hal indah dan menyenangkan, karena masa lalu yang kelam membuatku melupakan cara hidup dengan baik.
__ADS_1
"Tunggu sebentar lagi."
"Heum, aku akan menunggu sambil memakan ini."
"Makan saja sepuasmu, seafood sangat lezat bila di kelola dengan baik." Ariel tersenyum dan membantuku membuka cangkang kepiting dan meletakkannya di atas piring. "Makan yang banyak, biar tambah besar."
Aku menatapnya dengan wajah cemberut, menggodaku seperti anak kecil. "Dasar konyol, bahkan usiaku lebih tua darimu."
"Usia bukan jaminan, melainkan sikap yang dewasa atau tidaknya."
"Ya … ya … ya, terserah kamu saja." Balasku yang tidak peduli, menghabiskan makanan di atas meja yang sangat menggugah selera.
"Sepertinya kamu alergi seafood."
"Aku rasa tidak, aku bisa memakan seafood kecuali kerang." Ucapku dengan penuh percaya diri. Beberapa detik kemudian aku baru tersadar kalau juga makan kerang, karena masakan yang sangat lezat membuatku lupa pada alergiku. Dan sialnya sekarang aku menderita karena kecerobohanku, aku merutuki diri sendiri yang jarang sekali dan hampir tidak pernah ceroboh.
"Apa kamu bawa obatnya?"
"Tidak, obatnya aku tinggal di rumah." Jawabku seraya menggaruk tubuh, sudah persis seperti kera.
Aku tidak tahan dengan rasa gatal dan juga panas di kulit, Ariel yang merasa kasihan segera membayar bill dan menggendong tubuhku ala bridal style menuju mobil yang terparkir.
__ADS_1
"Kita ke rumah sakit sekarang juga!"
"Bagaimana dengan sunset nya? Aku ingin melihat hal menakjubkan."
"Itu tidak penting, yang paling utama kita ke rumah sakit dan mengobati alergi mu."
Dengan terpaksa aku mengikuti Ariel yang membawaku menuju rumah sakit, aku berusaha untuk tidak menggaruk kulit yang hanya akan memperparah.
Aku sudah tidak sanggup menahan gatal, hingga wajah manisku kembali ke mode awal dan setelan pabrik.
"Sebentar lagi kita sampai ke rumah sakit, jadi bertahanlah!"
"Bertahan? Aku bahkan terlihat seperti monster. Dan mengapa mobilmu berjalan sangat lamban? Bahkan keong lebih cepat dari mobil ini." Pekikku yang sudah tidak tahan, sementara Ariel berusaha sebisanya dan selamat sampai ke rumah sakit.
"Sabar, sebentar lagi."
"Ini ... ini sangat gatal. Hah, aku tidak yakin kalau mobil ini baru, seperti membeli karungan." aku berteriak melampiaskan kekesalanku, bukannya menambah kecepatan laju mobil, malah Ariel mengemudi sangat lambat dan penuh hati-hati.
"Tapi aku tidak bisa ngebut membahayakan dirimu."
"Dasar payah." Umpat kesal ku.
__ADS_1