Dikejar Brondong

Dikejar Brondong
Luna melahirkan


__ADS_3

Setelah kepergian Iren, semua orang terdiam sambil merenungi kesalahan mereka. Bentuk perhatian yang di tunjukkan malah di salah artikan olehnya, padahal mereka menginginkan yang terbaik untuk putri tertua di rumah itu. 


"Kenapa kak Iren bersikap berlebihan sekali? Padahal kita ingin dia segera menikah." Celetuk Putih yang menatap semua orang yang berada di sana. 


"Dia berpikir kalau kita mengatur kehidupannya." Sahut Luna yang juga sedih dengan apa yang terjadi, seharusnya hari ini hari yang membahagiakan bagi mereka, menikahkan Iren dengan pria yang tepat. 


"Ini semua salahku," lirih pria paruh baya yang menyesali perbuatannya, dia tidak bisa melakukan apapun selain duduk di atas kursi roda, bahkan dia tidak bisa mengurus dirinya sendiri dan memerlukan orang lain untuk merawatnya. Ayah Bintang menyalahkan dirinya, masa lalu buruk yang di berikan pada Iren membuat wanita itu tertekan dan hatinya hancur melihat putri sulungnya seperti orang frustasi. 


"Jangan terus menyalahkan dirimu, Ayah." Biru menghampiri ayahnya dan memeluknya sepersekian detik. 


"Siapa lagi yang bersalah kalau bukan aku, heh. Iren begitu sebab tekanan yang aku berikan, seharusnya kita membicarakan mengenai pernikahannya bila dia sudah siap." 


"Sebaiknya kita pergi dari sini!" Sela Luna sambil memegang perutnya, dia mulai merasakan sakit di bagian pinggang yang rasanya menjalar. 

__ADS_1


Biru yang melihat raut wajah sang istri seperti menahan rasa sakit membuatnya berlari menghampiri, bertanya dengan raut wajah cemas. "Apa yang sakit?" 


"Sakitnya sudah hilang Mas," jawab Luna yang seperti semula. 


"Syukurla, aku pikir kamu kenapa-kenapa." 


"Kita biarkan Iren sendiri, setelah tenang nanti baru kita bicarakan kembali. Sebaiknya kita pergi dari sini, kemasi barang-barang dan kita tinggal di rumah kita." Titah Biru yang memimpin. 


Belum sempat dia mengatakan apapun, air ketuban tiba-tiba menetes melewati kedua sela kakinya. Dia berusaha untuk menenangkan dirinya agar tidak panik, menarik nafas dan mengeluarkannya secara perlahan, melakukannya beberapa kali. 


Putih yang tak sengaja melihat ada cairan bening di kedua kaki kakak iparnya langsung tahu kalau itu rembesan air ketuban, dia segera menepuk tangan kakaknya dan mulai panik. 


"Apa sih Putih, main pukul aja." Kesal Biru. 

__ADS_1


"Ka-kakak … kakak ipar … kakak ipar mau melahirkan!" pekik Putih yang cemas, dia berlari memutari tempat itu, kepanikan membuat akal sehatnya hilang seketika. 


Sontak kedua mata ayah Bintang dan Biru terbelalak, mereka sangat panik dan yang tenang hanya Luna seorang. 


Luna menepuk keningnya pelan, melihat semua reaksi dari keluarganya membuatnya sangat kesal. Bukan melarikannya ke rumah sakit, justru mereka berlalu lalang tak jelas.


Rasa sakit kontraksi membuatnya tidak bisa berbicara, dan hal itu membuat suasana heboh seketika. 


Iren yang berhenti menangis segera menyeka air matanya, keluar dari kamar saat mendengar suara berisik dari luar. Kedua matanya membulat melihat Luna yang mau melahirkan, mengumpat Biru dan yang lainnya yang tidak mengambil tindakan dan hanya melakukan aksi tidak jelas. Tanpa menunggu lagi, dia berlari dan membawa Luna masuk ke dalam mobil. 


Dia memacu setiap kendaraan yang menghalangi jalan, dia berusaha agar tidak panik, tetap saja hatinya geram dengan keluarganya yang melakukan aksi tidak jelas. 


"Bertahanlah dan pegangan yang erat, tarik nafas dan keluarkan secara perlahan! Lakukan itu setiap merasakan sakit." Nasehat Iren yang melihat sekilas, kemudian fokus mengemudi mobil dalam laju kecepatan yang sangat tinggi. 

__ADS_1


__ADS_2