
Aku heran dengan kehadiran Ariel yang selalu tiba-tiba saja muncul seperti sekarang ini, tanpa di undang dia sudah ada di hadapanku. Aku menghela nafas saat pemuda yang jauh di belakangku menggodaku dengan gombalan, sudah pasti tak mempan lagi karena bukan zamannya bermain seperti itu.
Aku memutuskan untuk pergi dari sana, namun langkahku terhenti saat dia menggendong ala sekarung beras. Meletakkan aku di pundaknya seperti seorang penculik, aku meronta memukul punggungnya agar dia berhenti bertindak nekat di hadapan publik.
"Sialan, lepaskan aku … dasar bocah!" pekikku yang terus berusaha untuk memukulnya.
Dengan gerakan cepat nan halus itu, dia memasukkanku ke dalam mobil dan memasang seal bet pengaman agar aku tidak bisa lari sementara dia masuk ke sisi berlawanan. Aku menatapnya tajam karena perlakuan semena-mena Ariel, tapi itu tidak mempengaruhinya.
"Aku tahu Mba dekat dengan pria itu." Tanya nya menyelidiki layaknya seorang polisi.
Tatapannya itu sangat serius sekali, mengapa aku merasa dia mengintimidasi ku? Padahal kami hanyalah sebatas hubungan kekasih pura-pura. Apa dia tidak mengerti apa itu kekasih pura-pura? Dan bagaimana dia sampai tahu? Aku merasa pria polos nan bodoh di sebelahku mengikutiku.
"Kamu kenapa sih? Bebas dong aku mau dekat dengan siapa aja, kenapa kamu yang ngatur … aneh." Aku menggelengkan kepala mengalihkan perhatian lurus ke depan.
__ADS_1
Namun, sedetik kemudian aku terkejut saat bibirku di senruh oleh bibirnya. Aku menatapnya beberapa detik, lalu kedua mataku terbelalak ketika sudah menyadarinya. Jari telunjuk ku mendorong tubuhnya agar menjauh, marah dan kesal aku rasakan karena si bocah tengil mengerjaiku.
Segera ku hapus bibir basahku menggunakan tangan, menatapnya kesal. "Apa sih, main cium-cium aja. Oh tidak … itu ciuman pertama ku dan kamu malah merebutnya." Ucapku tanpa sadar, memukul pangkal lengannya dan raut wajah khawatir.
"Itu juga ciuman pertamaku, jadi kita impas Sayang." Ucapnya dengan mudah, mengalihkan perhatian ke depan dan mengemudi meninggalkan lokasi.
Di sepanjang perjalanan, ciuman singkat itu mengotori pikiranku. Sesekali ku lirik dia dengan tajam dan menggertaknya dengan cara menggigit bibir bawah.
"Turunkan aku!"
"Turunkan aku, Ariel." Tekanku.
"Tidak akan Sayang, pantang bagiku menurunkan seorang wanita di pinggir jalan. Kita selesaikan masalahnya di sini saja!"
__ADS_1
Aku berdecak kesal, terjebak bocah kecil menjadi awal kehancuranku. Selama ini tidak ada yang berani memperlakukan ku begini, tapi Ariel bisa menguasaiku.
"Kalau sekarang ubahlah motto mu."
Aku terkejut sekaligus syok saat dia meminggirkan mobil, membuka sabuk pengaman dan kembali mencium bibirku tapi dengan durasi lama. Aku mencoba untuk melepaskan diri, tapi dia semakin erat untuk tidak melepaskan aku.
Awalnya aku memberontak, tapi ciuman lembut itu berhasil menghipnotisku hingga mengikuti permainannya. Beberapa menit menjadi sangat berharga, dia seperti seorang pria dewasa bila menciumku.
Akhirnya ciuman itu terlepas, dengan sengaja membuang muka agar dia tak melihat kedua pipiku yang sudah seperti udang rebus.
Aku tidak bicara sepatah katapun, begitupun dengannya yang kembali mengemudikan mobil membawaku pergi entah kemana.
"Mba, aku anggap kamu sudah menjadi milikku. Ciuman itu sebagai tanda kepemilikan ku, dan tidak boleh seorang pria manapun mendekati … termasuk si unta itu." Batin Ariel.
__ADS_1
"Eh, mengapa aku malu dengan adegan ciuman tadi? Walaupun ini pengalaman pertamaku, tapi aku tidak membayangkannya melakukan pada pria yang usianya jauh di belakangku. Aku tidak boleh mencintai brondong, bisa-bisa kedua adik beda ibu akan meledek ku dan menyebutku pedofil." Gumamku di dalam hati.