Dikejar Brondong

Dikejar Brondong
Masalah di kantor


__ADS_3

Di pagi hari yang begitu cerah, namun tak secerah hatiku karena hari ini adalah hari Senin. Ya, aku benci hari senin, dari zaman sekolah sampai sekarang dikarenakan banyaknya tugas yang harus diselesaikan dengan cepat.


Dengan bermalas-malasan aku beringsut dari tempat tidur menuju kamar mandi, tentu saja membersihkan tubuhku dan mengenakan setelan formal.


Jujur saja aku sangat tidak ingin mengurus usaha keluarga, tapi apa daya karena mereka semua memaksaku untuk mengambil bagian, dan di saat itu tiba aktivitasku sekarang sangat padat dan juga sangat membosankan.


Di umur yang lebih dari kepala tiga membuat orang-orang menatapku dengan sinis karena sampai saat ini belum juga menikah, ada beberapa karyawan yang menggosipkan aku kalau aku ini tidak laku. Aku tidak ingin berdebat dengan itu karena hanya akan memperpanjang masalah, ingin sekali aku memecat mereka dan mengikat mulut-mulut tajam yang menghinaku. Pernah sekali aku memecat karyawan karena ketahuan menggosipkan aku, tetapi Biru malah sok menjadi pahlawan dengan membela karyawan itu.


Kalian tahu apa hal yang paling menyebalkan? Iya, di saat teman seangkatanku sudah mempunyai anak sementara aku masih saja betah menyendiri bahkan mempunyai kekasih pun tidak.


Sudahlah … kalau membahas hal itu aku selalu saja kesal, untuk apa menikah kalau ujungnya terjadi penghianatan maupun perceraian. Itu tidak akan ada gunanya, hanya menimbulkan pertengkaran saja setelah merasa tidak cocok. Aku tidak perlu mengambil contoh terlalu jauh, sebut saja ibuku dan juga Luna mengalami hal yang sama tapi ada mereka yang berbeda, apa salahnya jika aku masih dicap sebagai perawan tua. Toh bebanku tidak ada, menjalankan kehidupan membosankan.

__ADS_1


"Hari ini aku tidak bisa menemani Luna di rumah, ada pekerjaan yang harus aku selesaikan dengan rekan bisnisku."


"Aku tidak masalah lagipula mas Biru sudah menyiapkan jasa pembantu dan juga baby sitter untukku." Jawab Luna yang tidak mempermasalahkannya. 


Aku tersenyum sambil berjalan tergesa-gesa untuk keluar dari rumah menuju mobil yang diparkirkan di halaman. 


Sesampainya di dalam kantor, tidak sengaja aku mendengar karyawan yang berbisik tentu saja mereka menggosipkan aku yang sampai saat ini belum juga menikah. 


"Apa kalian dibayar hanya untuk bergosip?" ucapku yang mengejutkan ketiga wanita yang menjadi bawahanku, segera mereka kembali ke meja masing-masing.


Sekarang disinilah aku berada, duduk di kursi kebanggaanku menjadi seorang pemimpin di perusahaan tekstil milik keluarga. Baru saja aku menyusun mood tiba-tiba pesan dari Ariel.

__ADS_1


["Makan siang aku akan menjemputmu!"] 


"Hah, si bocah tengil itu selalu berbuat sesukanya. Hanya karena uang kesepakatan itu terjadi, dia sungguh pintar mencari kesempatan." Monologku yang sangat kesal. 


Ting!


Muncul notifikasi yang menandakan pesan singkat masuk lewat aplikasi hijau, tertera nama Ariel di sana. 


["Jangan mengumpat ku, dan jangan membenciku. Benci dan cinta perbedaannya sangatlah tipis!"]


"Sial, dari mana dia tahu kalau aku mengumpatnya?" 

__ADS_1


Segera aku menepis pikiran mengenai Ariel dan fokus pada pekerjaanku, namun kedua mataku terbelalak kaget saat melihat pengeluaran dan pemasukan tidak sebanding. 


"Ya Tuhan, bagaimana ini bisa terjadi? bukankah sebelumnya baik-baik saja." Gumamku yang terus mengutak-atik komputer seraya mencari keganjilan yang terjadi, sepertinya aku akan menginap di kantor karena masalah ini cukup serius. Tidak lupa aku memberitahukan kepada keluargaku kalau hari ini aku akan menginap di kantor dan tidak akan pulang, tentu saja aku tidak memberikan alasan di balik semua itu takut mereka akan merasa terbebani. 


__ADS_2