Dikejar Brondong

Dikejar Brondong
Obat perangsang


__ADS_3

Daniel mencari keberadaan Iren di kantor tapi tidak pernah bertemu, cukup sulit untuk bertemu bila tidak membuat janji terlebih dahulu. Sudah lama dia tidk bertemu dengan rekan bisnisnya itu yang selalu membuatnya takjub dan mengagumi sosok wanita cantik seperti Iren yang sesuai dengan tipe idealnya wanita idaman. 


Daniel mengeluarkan ponsel dari saku jasnya, mencari nomor kontak Iren berharap rasa rindunya sedikit terobati bila mendengar suaranya. 


Di sisi lain, Iren yang tengah sibuk rebahan mengalihkan perhatiannya pada ponselnya yang berada tak jauh dari jangkauan, segera dia meraih benda pipih itu dan mengangkat telepon setelah mengetahui siapa yang menghubunginya. Baru saja dia ingin mengucapkan kata 'halo' tapi ponselnya di rebut membuatnya terdiam beberapa saat. 


"Berani sekali si onta menelepon kekasihku!" tutur Ariel yang menatap nama tertera di ponsel sinis. 


"Dasar tidak sopan, ini ponselku!" tekan Iren yang merebut ponsel itu kembali, mengangkat telepon dari Daniel. 


"Ya, halo." 


"Aku berada di kantormu sekarang, kamu dimana?" 


"Memangnya ada perlu apa?" tanya Iren yang tidak menjawab pertanyaan Daniel, baginya itu semua privasi dan mereka hanya terikat hubungan kontrak pekerjaan saja dan tidak lebih. 


"Ada perayaan di kantorku, jadi aku ingin mengundangmu." 


Seketika Iren mengerutkan kening, seharusnya Daniel tidak perlu repot-repot mengundangnya secara langsung, hanya mengirimkan sebuah undangan sudah lebih daripada cukup. 


"Baiklah. Kapan pestanya di adakan?" 


"Besok malam." 


"Hem, aku akan datang."


Setelah menutup telepon, Iren merasa janggal dengan undangan Daniel. "Ahh, yasudah lah … mungkin hanya perasaanku saja." Batinnya, tak sengaja mengalihkan perhatiannya kepada Ariel yang sedari tadi menatapnya. "Kenapa menatapku begitu?" 


"Apa yang dia katakan?" 


"Apa itu perlu?" 

__ADS_1


"Tentu saja perlu, aku harus melindungimu dari pria itu. Dia tidak seperti yang terlihat!" 


Iren mendelik kesal melihat reaksi Ariel yang berlebihan, dia hanya berpikiran kalau pemuda itu cemburu. 


Sedangkan Ariel sangat serius, dia mencoba untuk memperingatkan Iren untuk tidak mendekati Daniel yang cukup berbahaya. "Sebaiknya kamu tidak datang, aku tidak percaya padanya." 


"Tenanglah, aku bisa menjaga diriku sendiri." 


"Tapi Daniel itu orang yang berbahaya, percaya padaku." Ariel memegang kedua pundak Iren berusaha untuk menjelaskan maksudnya, tapi malah salah di artikan. 


"Sudahlah Ariel, jangan merusak mood ku dengan cemburu butamu itu. Lagi pula aku menghormati Daniel karena dia rekan bisnisku, tidak lebih daripada itu." Keukeuh Iren, mulai kesal dengan sikap pria itu yang menekannya membuatnya mengusir Ariel, dia sangat tidak nyaman dengan tekanan yang ada. 


"Jangan temui dia, Iren." Pekik Ariel terus mengetuk pintu, merasa frustasi membuatnya mengusap wajahnya kasar. "Ya Tuhan, sekarang apa lagi yang di inginkan kaparat itu. Ini tidak bisa dibiarkan, Iren dalam masalah besar. Aku harus segera mengambil tindakan, Daniel si bedebah sialan!" tekannya yang mengatup mulut dan pandangan tajamnya. 


Ariel berlari menuju lokasi, dia melacak keberadaan Daniel yang sudah membuat kesal. 


Bugh


"Aku sudah memperingati mu untuk menjauh dari Iren!" Ariel menunjuk wajah Daniel yang sudah dia pukul dengan keras, jika berhadapan seperti itu dia terlihat garang dan lebih dewasa. 


"Tentu itu menjadi urusanku, Iren adalah kekasihku. Apa yang ingin kamu rencanakan? Katakan padaku atau kamu harus berhati-hati padaku." Kecam Ariel. 


Darimana Ariel dan Daniel saling kenal? Mereka satu perguruan, keduanya menjadi yang terbaik sepanjang tahun. Dulu mereka sangat akur, tapi berubah karena sikap mereka yang saling bentrok. 


Daniel tidak seperti yang terlihat, itu memang benar. Kekuatan dari pria itu sebanding dengan Ariel, dan juga menjadi yang terbaik. 


"Kekasih? Tapi sayangnya dia akan menjadi milikku." Balas Daniel yang tertawa sekilas, menatap tajam Ariel. 


Ariel tak bisa menahan emosinya, dia mengenal Daniel luar dan dalam itu membuat keduanya saling bertarung. 


****

__ADS_1


Iren tersenyum saat melihat dirinya yang mengenakan gaun hitam untuk menerima undangan dari Daniel, dia menghormatinya sebagai rekan bisnis melakukan hal yang terbaik. 


Pandangannya melirik jam di dinding, segera melangkahkan kakinya keluar dari kamar. Rambut yang terurai dan gaun hitam senada dengan high heels yang dia kenakan, tak lupa dompet panjang berwarna silver menjadi penunjang penampilannya yang terlihat mewah, sesuai untuk perayaan di kantor. 


Sepanjang perjalanan, dengan sengaja Iren memasang mode silent di ponselnya. Tahu kalau Ariel pasti melarangnya, salah satu yang membuatnya tidak suka di kekang padahal mereka tidak punya hubungan apapun.


Pesta yang di buat di gedung, baru masuk saja sudah di sambut oleh beberapa orang dan berjalan di atas karpet merah. Cukup berkesan dan dia yakini kalau pesta hanya mengundang orang-orang kaya saja. 


"Hanya orang-orang kaya saja? Sangat tidak sesuai denganku." Gumam Iren menilai saat kakinya terus masuk ke dalam. 


Iren tersenyum saat melihat lambaian tangan dari Daniel si pemilik acara, dia menghampiri pria itu dan melihat orang yang tadinya mengobrol dengan rekan bisnisnya segera pergi setibanya dia di sebelah sang rekan. 


"Aku pikir kamu tidak akan datang." 


"Kamu sudah mengundangku, tentu aku akan datang." Jawab Iren tersenyum manis. 


Keduanya saling mengobrol membahas pekerjaan dan perkembangan perusahaan masing-masing, tanpa di sadari seorang pria menyamar menjadi tamu undangan dan menutup sebagian wajahnya. 


Daniel yang memulai aksinya, dia mengambil sebuah minuman dan memasukkan obat perangsang di dalam gelas minuman untuk Iren, dia terobsesi pada wanita itu dan tidak ingin rivalnya menang. 


"Ini, minumanlah!" 


Iren yang terpaku melihat ke depan saat di pertengahan acara, dia mengambil gelas yang berisi minuman yang sudah di campurkan obat. "Terima kasih." Ucapnya tersenyum. 


"Hem, sama-sama." Daniel diam-diam tersenyum saat melihat targetnya sudah meneguk habis minuman yang sudah di beri obat perangsang, setelah melihat tanda-tanda obat itu mulai bekerja. Dia mengiring membawa tubuh Iren menjauh dari keramaian, membawanya menuju sebuah ruangan yang juga sudah di persiapkannya. 


Baru saja dia ingin mengunci pintu dan melanjutkan aksi yang lebih, tapi tubuhnya di tarik dengan paksa dan merebut targetnya. 


Ariel meletakkan tubuh Iren di atas tempat tidur yang berukuran jumbo, kemudian dia membuka kain yang sedari tadi menutupi sebagian wajahnya. 


"Darimana kamu bisa masuk?" 

__ADS_1


"Pikirkan itu sendiri." Ariel yang sudah tidak tahan segera menendang tubuh Daniel hingga tersungkur. "Belum lama aku memperingatimu, tapi sepertinya kamu tidak akan kapok." Dia menarik kedua kerah Daniel dan mem bogem mentah di bagian wajah, keduanya kembali menyerang satu sama lain. 


Iren merasakan panas yang menjalar di seluruh tubuhnya, dia tidak menghiraukan pertarungan dua orang pria dan lebih mementingkan dirinya yang sangat kepanasan karena pengaruh obat perangsang.


__ADS_2