Dikejar Brondong

Dikejar Brondong
Kesal


__ADS_3

Di saat menu yang sudah dipesan tersaji di atas meja, perutku semula lapar menjadi kenyang seketika. Aku hanya memperhatikan Daniel yang sangat lahap menyantap makanan di atas piringnya, sadar kalau aku memperhatikannya, dia menatapku sebagai balasannya. 


"Kenapa menatapku saja, ayo makan!" tawarnya. 


"Iya." Selera makanku tiba-tiba hilang saat mengingat perkataan Ariel yang sepertinya sangat serius. "Siapa sebenarnya Daniel? Dan mengapa Ariel memintaku untuk menjauh dari pria ini?" batinku yang menghela nafas panjang, karena tidak ada keanehan apapun yang di tunjukkan oleh rekan bisnisku dan semuanya terlihat normal. 


Baru beberapa suap makanan masuk ke dalam mulut, teleponku bergetar. Aku segera melihat siapa yang menghubungiku dan ternyata pesan dari Ariel. 


"Sial, dia pasti sedang memantau ku." Umpatku di dalam hati seraya celingukan mencari keberadaan pria tengil itu. 


["Sudahlah, kamu tidak akan bisa menemukan keberadaanku. Berhentilah celingukan, apa lehermu tidak sakit."]


"Di mana posisi keparat tengil itu, jika aku menemukannya, aku pastikan membuatnya menyesal." Batinku. 


"Aku ke toilet dulu." 

__ADS_1


"Iya." Aku menatap punggung Daniel yang sudah menjauh, ku lanjutkan menyuapi makanan di dalam mulut tanpa peduli apapun lagi. Namun aku terkejut dengan kedatangan pelayan restoran yang memberikan sepiring menu yang di tutup dan menyajikannya padaku. 


"Eh, apa ini pesanan Daniel?" gumamku yang berpikir. Aku segera membuka hidangan menu itu dan melihat secarik kertas putih yang berisi menu makanan. 


"Kertas putih? Apa ini lelucon?" 


["Makanlah makanan ini, karena itu sangat baik untuk kesehatanmu."] 


Aku meremas kertas kecil itu dan melemparnya sembarang arah, perbuatan dari Ariel sangat mengganggu dan membuatku tidak nyaman. Aku menatap menu di hadapanku, salad yang tidak menggugah selera. "Apa dia pikir aku ini kambing yang makan semua ini." 


****


Tidak ada angin dan tidak ada hujan, tiba-tiba saja pasutri yang dari Paris datang berkunjung ke rumahku. Satu pasangan mata sudah membuat aku risih, ini malah di tambah dua pasang mata yang membuatku jengkel. 


"Apa ini kontes menatap?" ucapku mencairkan suasana, sekaligus bosan berada dalam situasi sekarang. 

__ADS_1


"Kenapa kamu memblokir nomor kami, hah?" tanya Biru yang mengintrogasi. 


Aku memandang cuek. "Karena kalian terlalu berisik! Daripada mengganggu urusanku, sebaiknya kalian fokus dengan kedatangan keponakan keduaku." 


"Aku memberikan pilihan pria dewasa dan mengatur kencan buta untukmu, tapi kamu malah memilih mengencani pria yang usianya jauh di bawahmu." 


"Apa ini tidak berlebihan? Aku tidak menjalin hubungan dengan pria manapun dan murni hanya teman saja." Jelas ku yang mengatakan sejujurnya, dan protes dengan tuduhan tanpa dasar. 


"Kami menuduh aku bukan tanpa alasan, Putih sendirikah yang melihatmu di peluk di kamar hotel bersama dengan pria yang lebih muda."


"Itu semua hanya salah paham, yang terlihat bukanlah hal yang sebenarnya." 


Walaupun aku sudah menjelaskan, tetapi mereka sepertinya tidak mendengarkan. Tapi ada untungnya juga dengan kejadian aku bertemu Ariel, setidaknya adikku yang bernama Biru tidak lagi mengatur kencanku dengan pria kenalannya. Bukan karena aku tidak laku, wajahku juga sangat cantik dan tubuhku sedikit berisi dan tidak akan ada pria mampu menolak pesonaku. 


"Kami sedang tidak menghakimi mu, aku berharap Mba segera menikah dan melepaskan masa lajang." 

__ADS_1


"Hah, apa sudah selesai memberikan ceramah? Kalau sudah, aku mau masuk ke dalam kamar dan beristirahat." 


__ADS_2