Dikejar Brondong

Dikejar Brondong
Membantu masalah Iren


__ADS_3

Aku mengerjapkan mataku, aku menyusuri seluruh pandangan sekeliling yang sudah tidak asing lagi, aku berada di kamar Ariel. Kepala terasa pusing, terasa berat bila di gerakkan kekanan maupun kekiri. 


"Mengapa aku bisa ada disini?" aku tidak mengingat apa yang sudah aku alami, terakhir kali aku berada di rumah sakit jiwa menjenguk ibuku, tapi mengapa aku bisa berakhir disini dan bagaimana aku bisa berada di kamar milik Ariel. "Apa dia mengikutiku?" lirihku. 


Pintu yang terbuka mengalihkan pandanganku, seorang pria tampan membawa nampan tak lupa dengan senyuman menuju ke arahku. "Bagaimana perasaanmu? Apa sudah baikan?" tanyanya, lalu aku mengiyakan. 


"Aku baik. Bagaimana aku bisa di sini?" aku menatapnya ingin sekali tahu apa yang terjadi padaku, sesuatu yang aku lupakan. Lama aku lihat Ariel untuk menjawab, dia menghela nafas membuatku semakin penasaran. 


"Bukan hal yang penting, sebaiknya kamu istirahat!" 


"Tidak. Apa kamu mengikutiku ke rumah sakit jiwa? Kamu mendengar semuanya?" 


"Aku khawatir padamu dan mengikutimu, sebaiknya kamu istirahat!" 

__ADS_1


"Hem." 


Setelah memastikan Iren tertidur, Ariel segera keluar dari kamar. Di sana sudah berdiri ayah Bintang, Biru, dan Putih. 


Biru sangat mencemaskan saudari perempuannya, beruntung keluarga Ariel mau menemani Luna di rumah sakit untuk sementara. Dia melihat bagaimana Ariel dan menghampirinya. 


"Bagaimana? Apa dia baik-baik saja?" 


Ariel menganggukkan kepala. "Dia tidak mengingat kejadian dia mau bunuh diri." 


"Seharusnya kita tidak memaksanya menikah, ternyata dia belum memaafkan ayah." 


"Bukan seperti itu Om, Iren hanya butuh waktu untuk masa lalunya. Kita tidak bisa melakukan apapun selain membuatnya mau ke psikiater, dia sendirilah yang bisa membawa dirinya keluar dari masa lalu yang masih ada serpihan ingatan."

__ADS_1


"Apa dia tidak ingat apa yang dia lewati kemarin?" tanya Biru yang penasaran. 


"Ingatan terakhir hanya berada di rumah sakit jiwa, jadi jangan mengungkit kejadian ini lagi. Masalah pernikahan itu, sebaiknya memang harus di tunda dulu. Aku tidak ingin kalau dia sampai bertindak nekat yang lebih berbahaya lagi. Kalian tidak perlu khawatir, aku akan menjaganya." 


Biru yang tidak terima Iren tinggal di apartemen pria itu sebelum di nyatakan sah menjadi suami istri. 


"Aku mengerti, aku akan mengundang psikiater wanita yang akan membantu kesembuhan Iren. Aku juga tidak akan menyentuhnya sampai dia sudah sah menjadi istriku." Terang Ariel yang membuat Biru tenang. 


"Baiklah, kami percayakanmu!" Biru menepuk pangkal lengan Ariel dan pergi sambil mendorong kursi roda ayahnya, merek pergi meninggalkan tempat itu menuju rumah sakit karena Luna juga membutuhkan mereka. 


Ariel menghela nafas, karena kesalahpahaman itu membuat Iren tertekan dan dia berjanji tidak akan memaksakan kehendak pada wanita itu. 


Ariel masuk ke dalam kamar, melihat nampan yang berisi makanan yang belum di sentuh itu, dia membiarkan Iren beristirahat dan berharap kejadian bunuh diri tak di ingat dan kalau perlu menghilang dari memori.

__ADS_1


"Sekarang aku mengenalmu dengan sangat baik, aku berjanji membantumu untuk lupa pada kenangan pahit itu. Aku pastikan kamu bahagia, dan menerimaku atas dasar cinta bukan keegoisanku yang memaksamu." Ariel mencium pipi Iren setelah dia menyingkirkan rambut yang menghalangi wajah cantik itu.


__ADS_2