Dikejar Brondong

Dikejar Brondong
Seperti kakak atau bibinya


__ADS_3

Kecupan itu tidak masalah, aku sudah terbiasa menerima serangan ciuman dari bibir Ariel. Aku sangat bersyukur sekali karena permasalahan terselesaikan dengan cepat, diam-diam aku curi pandang menatap pria yang lebih muda dariku tapi memiliki talenta yang luar biasa. Rasa penasaran ku kian bertambah, ingin mengetahui sisi yang disembunyikan olehnya. 


"Sepertinya dia sangat istimewa, dia terlihat unik dan menarik," batinku yang tersenyum. 


"Aku memang tampan, tidak perlu diam-diam menatapku." 


Ucapan Ariel sedikit membuatku shock, ternyata dia mengetahui kalau aku sedari tadi mencuri pandang. Wajahmu memerah saat pria muda itu mendekatkan wajahnya untuk ku amati sampai puas. 


"Apa kamu tunggu? Ayo lihatlah, dan jika perlu kamu boleh menyentuh wajahku." 


Refleks aku menyentuh wajahnya, mata tajam, alis tebal, hidung mancung dan bibir yang sangat seksi, sesaat aku terpesona dan kemudian aku menarik tanganku. Aku sangat gugup, apalagi melihatnya yang tersenyum puas dengan apa yang di lihatnya. 


"Aku … aku." Lidahku seakan keluh untuk membela diri, pasalnya jarak dia semakin dekat. 

__ADS_1


Aku sempat berteriak karena kaget saat Ariel mendorong kursi kebesaran itu ke dinding, mencium dan ******* bibirku dengan sangat lembut. 


"Sekarang tidak ada alasan lain kamu menolakku!" ucapnya setelah melepaskan ciumannya. 


Aku menatap punggungnya, bengong melihat Ariel yang selalu bisa membuat jantungku berdetak lebih cepat. 


Kami keluar dari ruanganku, posisi tanganku yang digandeng oleh Ariel kembali menjadikan kami pusat perhatian semua orang. Tidak hanya menggosipkan aku perawan tua, tapi samar terdengar ada yang mengatakan kalau aku memelet daun muda. 


"Ck, bedebah sampah. Sudah sepatutnya aku memecat mereka, persetan dengan Biru." Gumamku kesal, sementara Ariel yang mendengar hanya terkekeh. 


"Kamu tidak lihat, kalau setelan ku tidak cocok naik motor besar mu itu." Aku merasa aneh, apakah kami memiliki banyak kesamaan? Bahkan dia juga suka mengendarai motor sport yang juga aku sukai.


"Tenang, aku sudah menyiapkan segalanya." Ariel mengeluarkan setelan baju dari ranselnya, menyerahkannya padaku. 

__ADS_1


Aku memakainya dan ternyata ukurannya sangat pas, aku mencurigai Ariel. Bagaimana dia tahu ukuran pakaianku? Entahlah, aku malas untuk berpikir dan mengenakan helm yang dia berikan. Sebelum pergi, kedua tangannya melingkarkan nya ke pinggangnya. 


Aku menikmati suasana yang ternyata lebih enak di bonceng daripada mengendarainya, suasana hatiku dengan cepat berubah semua berkat dirinya yang sepertinya paham dan lebih mengenal aku di bandingkan diri sendiri. 


Lagi dan lagi kami menjadi pusat perhatian, Ariel yang memegang tanganku dan memperlakukanku seperti seorang kekasih membuat para gadis-gadis muda iri. Mereka mengatakan kalau aku menyewa Ariel untuk di jadikan kekasih, apalagi usiaku lebih pantas menjadi kakak ataupun bibinya.


"Sudah, jangan di dengarkan apa kata orang." 


Aku mendengus kesal, setiap pergi bersama Ariel selalu aku yang digosipkan buruk tanpa tahu kalau sebenarnya Ariel sendiri yang tergoda dengan ku. 


"Iya, itu berlaku karena kamu tidak di gosipkan. Malahan mereka mengatakan kalau aku memperalatmu menggunakan uang, kejadian menggemparkan semenjak kamu datang ke kantor bahkan menjadi pusat perhatian di sini juga." Mood ku hancur, untuk makan aku tidak berselera dan memutar arah menuju keluar dari tempat itu. 


"Jangan tersinggung, sebaiknya kita kembali masuk."

__ADS_1


"Aku tidak ingin masuk kesana, kalau kamu mau … masuk dan makan saja sendiri." 


__ADS_2